Genus Artocarpus merupakan anggota dari famili Moraceae yang terdiri sekitar 50 spesies. Spesies terkenal dari genus ini adalah nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.), cempedak (Artocarpus integer (Thunb.) Merr.), dan sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg). Genus ini tersebar di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara, Papua, Kepulauan Pasifik Selatan, Australia Utara hingga Amerika Tengah.
Spesies dalam genus Artocarpus umumnya berupa pohon berkayu, meskipun sebagian kecil berbentuk perdu. Seluruh bagian tanaman mengandung getah putih seperti susu (lateks) yang keluar apabila dilukai. Banyak spesiesnya menghasilkan buah berdaging dengan ukuran bervariasi, dari kecil hingga sangat besar.
Beberapa jenis Artocarpus memiliki manfaat yang besar pada ekonomi. Sukun dikenal sebagai sumber karbohidrat, terutama di kawasan Pasifik Selatan. Nangka dan cempedak banyak dimanfaatkan sebagai buah konsumsi segar maupun bahan olahan. Selain sebagai penghasil buah, beberapa spesiesnya juga dimanfaatkan kayunya sebagai bahan bangunan dan perabot.
Taksonomi
Genus Artocarpus merupakan salah satu genus dalam famili Moraceae yang dikenal karena menghasilkan buah-buahan tropis bernilai ekonomi. Secara taksonomi, klasifikasi ilmiah genus Artocarpus adalah sebagai berikut
| Kingdom | : Plantae |
| Subkingdom | : Tracheobionta |
| Superdivisi | : Spermatophyta |
| Divisi | : Magnoliophyta |
| Kelas | : Magnoliopsida |
| Subkelas | : Rosidae |
| Ordo | : Rosales |
| Famili | : Moraceae |
| Genus | : Artocarpus |
Sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg) dan kluwih (Artocarpus camansi) memiliki kedekatan kekerabatan yang jelas. Keduanya memiliki kemiripan pada bentuk daun, batang, bunga, dan habitus pohon sehingga sering sulit dibedakan secara morfologis. Perbedaan utama tampak pada buahnya: sukun tidak berbiji, sedangkan kluwih menghasilkan biji. Perbedaan ini juga berkaitan dengan cara perkembangbiakannya. Kluwih berkembang biak secara generatif melalui biji dan memiliki akar tunggang yang kuat, sedangkan sukun diperbanyak secara vegetatif karena tidak menghasilkan biji.
Nama Artocarpus berasal dari bahasa Yunani, yaitu artos yang berarti “roti” dan karpos yang berarti “buah”. Penamaan ini merujuk pada sukun yang menghasilkan buah menyerupai roti. Nama tersebut diberikan oleh Johann Reinhold Forster dan J. Georg Adam Forster, dua ahli botani yang mengikuti pelayaran James Cook yang kedua dengan kapal HMS Resolution.
Morfologi
Habit dan batang
Sebagian besar spesies pada genus Artocarpus berupa pohon berkayu, meskipun beberapa di antaranya tumbuh sebagai perdu. Banyak spesiesnya dikenal memiliki kayu yang berkualitas baik dan dimanfaatkan sebagai bahan bangunan maupun perabot. Seluruh bagian tanaman mengandung getah putih seperti susu (lateks) yang akan keluar apabila jaringan tanaman dilukai.
Daun
Daun Artocarpus bertekstur agak keras menyerupai jangat, dengan permukaan bawah yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Ukuran dan bentuk daun bervariasi, mulai dari yang berukuran kecil dengan tepi rata seperti pada cempedak, hingga daun berukuran besar dan berbagi dalam seperti pada sukun dan mentawa.
Pada ujung ranting terdapat sepasang daun penumpu (stipulae) yang meruncing dan, apabila berukuran besar, memeluk ranting. Setelah gugur, stipula tersebut meninggalkan bekas berbentuk cincin pada ranting.
Bunga
Tumbuhan dalam genus ini bersifat monoesis (berumah satu), yaitu bunga jantan dan bunga betina terdapat pada satu individu pohon yang sama. Bunga tersusun dalam bongkol berkelamin tunggal, baik soliter maupun berpasangan. Perbungaan dapat muncul di ketiak daun, pada cabang-cabang, maupun langsung pada batang utama (kauliflori).
Buah dan biji
Buah genus Artocarpus merupakan buah semu majemuk (syncarp) yang terbentuk dari perkembangan bunga betina yang menyatu. Ukuran buah bervariasi, dari kecil hingga sangat besar, bahkan dapat mencapai panjang sekitar 90 cm pada nangka. Bijinya berukuran besar dan tidak memiliki endosperma, serta terlindung oleh bagian yang dikenal sebagai “daging buah” yang sebenarnya merupakan tenda bunga yang membesar. Perkecambahan biji berlangsung secara hipogeal.
Sebaran dan Habitat
Genus Artocarpus memiliki pusat persebaran alami di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Dari wilayah tersebut, penyebarannya meluas ke Papua, Kepulauan Pasifik Selatan, Kepulauan Solomon, Australia Utara, India, hingga Amerika Tengah. Persebaran ini menunjukkan bahwa Artocarpus merupakan kelompok tumbuhan yang beradaptasi baik di wilayah beriklim tropis.
Sebagian besar spesies Artocarpus tumbuh di kawasan tropis dengan kondisi hangat dan lembap. Di Indonesia, genus ini banyak dibudidayakan karena menghasilkan buah yang bernilai konsumsi maupun ekonomi. Tanaman-tanaman ini umum dijumpai di lingkungan permukiman, kebun, serta di hutan-hutan tropis, baik sebagai tanaman budidaya maupun tumbuh secara alami.
Spesies pada Genus Artocarpus
Berikut adalah spesies yang masuk kedalam genus Artocarpus yang sudah kita tulis:

