Syarat Tumbuh
| Habitat | : Daratan |
| Suhu | : 21 - 35 °C |
| Ketinggian | : 1.200 - 2.000 mdpl |
| Curah Hujan | : 1.500 - 3.000 mm/tahun |
| Kelembapan Udara | : 70 - 90% |
| pH | : 5,5 - 7,5 |
| Intensitas Cahaya | : Full Sun (> 6-8 jam/hari) |
Bagian yang Dimanfaatkan
- Buah
- Batang
- Daun
- Bunga
- Akar
- kulit Kayu
Sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg) merupakan pohon tropis yang termasuk dalam famili Moraceae (suku ara-araan). Buah sukun dikenal sebagai salah satu sumber pangan. Secara morfologis, sukun tumbuh sebagai pohon besar yang bergetah dan menghasilkan buah majemuk, yang menjadi ciri khas genus Artocarpus.
Secara ilmiah, sukun dinamai Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg. Nama tersebut pertama kali dipublikasikan oleh Sydney Parkinson pada tahun 1773 dan kemudian direvisi oleh Fosberg pada tahun 1941. Dalam sistem klasifikasi tumbuhan, sukun menempati posisi dalam famili Moraceae, yang dikenal memiliki ciri berupa kandungan lateks, daun tunggal, dan pembentukan buah majemuk dari perbungaan padat.
Sukun berasal dari bioma tropis basah dan merupakan hasil kultivasi yang berawal dari kawasan Pasifik barat laut. Tanaman ini telah lama dibudidayakan oleh masyarakat di wilayah Melanesia, Mikronesia, dan Polinesia. Dalam sejarah domestikasi tanaman pangan, sukun menjadi salah satu sumber karbohidrat utama masyarakat kepulauan Pasifik, bersama dengan talas dan pisang.
Sebagai sumber pangan tradisional, buah sukun dimanfaatkan sebagai bahan makanan pokok maupun pangan alternatif. Kandungan karbohidratnya yang tinggi menjadikan sukun berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan energi masyarakat di berbagai wilayah tropis.
Klasifikasi Ilmiah
Sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg) Secara taksonomi termasuk dalam kelompok tumbuhan berbunga dengan hierarki klasifikasi sebagai berikut:
| Kingdom | : Plantae |
| Subkingdom | : Tracheobionta |
| Superdivisi | : Spermatophyta |
| Divisi | : Magnoliophyta |
| Kelas | : Magnoliopsida |
| Subkelas | : Rosidae |
| Ordo | : Rosales |
| Famili | : Moraceae |
| Genus | : Artocarpus |
| Spesies | : Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg |
Nama ilmiah sukun Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg. Penamaan ini pertama kali dipublikasikan oleh Sydney Parkinson pada tahun 1773. Selanjutnya, klasifikasi tersebut direvisi oleh Fosberg pada tahun 1941 sehingga nama ilmiah yang digunakan hingga kini adalah Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg.
Sebaran dan Habitat
Sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg) berasal dari kawasan Pasifik bagian barat laut yang meliputi wilayah Melanesia, Mikronesia, dan Polinesia. Di Melanesia, tanaman ini ditemukan secara alami di Kepulauan Maluku, Papua, hingga Fiji. Di wilayah Mikronesia, persebarannya mencakup Kepulauan Mariana, Palau, dan Kiribati. Sementara itu, di Polinesia, sukun tersebar luas dari Hawaii dan Selandia Baru hingga Pulau Paskah (Easter Island).
Seiring perkembangan perdagangan dan pertukaran tanaman pangan sejak masa kolonial, sukun menyebar ke berbagai daerah tropis di dunia. Saat ini, tanaman ini banyak dibudidayakan di Asia, Afrika, kawasan Pasifik, serta sebagian wilayah Eropa beriklim hangat. Negara-negara seperti India, Malaysia, Indonesia, Sri Lanka, dan beberapa wilayah pesisir Afrika yang menjadikan sukun sebagai tanaman pangan.
Di Indonesia, sukun memiliki persebaran yang sangat luas, mulai dari Sabang hingga Merauke. Tanaman ini dijumpai di berbagai provinsi dan kepulauan, antara lain Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi (Minahasa, Makassar, Bonerate, Gorontalo, dan Bugis), Maluku (Seram, Halmahera, Kai, Buru, Ambon, dan Ternate), serta Papua.
Sukun tumbuh baik pada lingkungan tropis yang hangat dan lembap. Tanaman ini dapat ditemukan di dataran rendah hingga daerah pegunungan dengan ketinggian antara 1.200 – 2.000 mdpl.
Suhu udara yang ideal bagi pertumbuhannya berkisar antara 21 – 35°C, dengan kebutuhan curah hujan tahunan sekitar 1.500 – 3.000 mm. Kelembapan udara yang tinggi serta penyinaran matahari yang cukup mendukung pertumbuhan vegetatif dan produktivitas buah, meskipun tanaman ini juga menunjukkan toleransi terhadap naungan parsial.
Dalam hal media tanam, sukun mampu tumbuh pada berbagai jenis tanah, termasuk tanah dengan pH rendah, pH tanah ideal adalah 6,0 – 7,0 namun masi toleran pada tanah dengan pH 5,5 – 7,5.
Morfologi
Akar
Sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg) memiliki sistem perakaran yang kuat dan menyebar luas. Akar utamanya merupakan akar tunggang yang tumbuh vertikal ke dalam tanah, disertai akar adventif yang muncul dari pangkal batang atau akar lateral.
Akar-akar tersebut dapat menjalar secara horizontal hingga beberapa meter dari pangkal pohon, dengan panjang total mencapai lebih dari 10 meter, tergantung kondisi tanah dan ketersediaan air. Struktur perakaran ini mendukung tanaman untuk bertahan terhadap terpaan angin serta kondisi lingkungan pantai yang berpasir.
Batang
Batang sukun berukuran besar, tegak, dan berkayu keras, dengan tinggi pohon dapat mencapai 20 – 40 meter. Diameter batang pada tanaman dewasa dapat mencapai 1 meter atau lebih.
Permukaan batang berwarna cokelat keabu-abuan dan mengeluarkan getah putih kental (lateks) apabila terluka. Kulit batang bagian luar bertekstur kasar, sedangkan bagian dalam berserat.
Percabangan tumbuh dari batang utama dengan ranting tebal dan agak rapuh, menjadi tempat tumbuhnya daun yang tersusun berselang-seling.
Daun
Daun sukun merupakan daun tunggal yang tersusun berselang-seling pada ranting. Bentuk daun menjari dengan lekukan dalam (lobus) berjumlah antara 5 – 11, bergantung pada umur dan kondisi pertumbuhan tanaman. Ukuran daun relatif besar, dengan panjang sekitar 20 – 60 cm dan lebar 20 – 40 cm.
Permukaan daun muda berwarna hijau muda mengilap, sedangkan daun tua berwarna hijau tua dengan permukaan atas licin dan bagian bawah sedikit berbulu halus. Tulang daun menyirip kuat dengan tangkai daun yang tebal.
Bunga
Sukun termasuk tumbuhan berumah satu (monoecious), yaitu bunga jantan dan bunga betina terdapat pada satu individu pohon, namun terpisah dalam perbungaan yang berbeda. Bunga jantan tersusun dalam bentuk bulir silindris memanjang, berwarna hijau kekuningan saat muda dan berubah menjadi cokelat ketika tua.
Bunga ini muncul di ujung atau ketiak ranting muda dan menghasilkan serbuk sari untuk penyerbukan. Bunga betina terletak pada ujung cabang yang lebih tebal dan membentuk perbungaan majemuk berbentuk bulat atau oval. Bakal buah dari masing-masing bunga betina kemudian menyatu membentuk buah majemuk.
Buah
Buah sukun tergolong buah majemuk (syncarp) yang terbentuk dari gabungan banyak bakal buah dalam satu perbungaan. Bentuk buah umumnya bulat hingga agak lonjong, dengan diameter sekitar 15 – 30 cm dan berat berkisar antara 1 – 3 kilogram.
Permukaan kulit buah dipenuhi tonjolan kecil berbentuk poligonal, berwarna hijau muda saat belum matang dan berubah menjadi kuning kehijauan hingga cokelat kekuningan ketika matang.
Daging buah berwarna kuning pucat hingga krem, bertekstur empuk setelah dimasak, dan memiliki rasa manis serta sedikit gurih. Pada varietas tanpa biji, bagian dalam buah padat, sedangkan pada varietas berbiji terdapat ruang biji kecil di bagian tengah buah.
Kandungan dan Nutrisi
Sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg) mengandung berbagai senyawa fitokimia aktif yang berperan dalam aktivitas biologis dan farmakologis. Senyawa-senyawa tersebut meliputi flavonoid, saponin, tanin, kuersetin, fenolik, artokarpanon, artoindonesianin, dan terpenoid.
Flavonoid berfungsi sebagai antioksidan alami, sedangkan saponin dan tanin dikenal memiliki aktivitas biologis yang berkaitan dengan perlindungan jaringan. Kuersetin termasuk dalam kelompok flavonoid yang banyak ditemukan pada bagian buah.
Senyawa fenolik juga terdapat dalam berbagai bagian tanaman sebagai aktivitas antioksidan. Artokarpanon dan artoindonesianin merupakan senyawa khas dari genus Artocarpus yang ditemukan pada batang dan kulit batang. Terpenoid terkandung pada bagian akar sebagai aktivitas biologis tertentu.
Distribusi senyawa fitokimia pada tanaman sukun berbeda-beda pada setiap bagian. Daun sukun mengandung flavonoid, saponin, dan tanin dalam jumlah tinggi. Batang dan kulit batang mengandung fenolik, artoindonesianin, serta artokarpanon. Akar mengandung terpenoid dan tanin. Bunga sukun diketahui mengandung flavonoid dan senyawa fenolik dalam kadar sedang. Pada buah, terutama bagian kulit dan dagingnya, ditemukan flavonoid, kuersetin, dan saponin.
Buah sukun memiliki komposisi gizi yang mendukung pemanfaatannya sebagai bahan pangan alternatif. Dalam setiap 100 gram buah segar, kandungan gizinya secara umum meliputi: Karbohidrat: ± 27 – 30 g, Protein: ± 1,0 – 1,5 g, Lemak: ± 0,2 – 0,5 g, Serat pangan: ± 3 – 5 g
Buah sukun juga mengandung berbagai vitamin, antara lain vitamin A (± 25 IU), vitamin C (± 20 – 25 mg), vitamin E (± 0,1 – 0,3 mg), serta vitamin K dan vitamin B kompleks (B₁, B₂, B₃, B₆, dan folat) dalam kadar rendah hingga sedang.
Selain itu, sukun mengandung mineral penting seperti kalium (± 400 – 450 mg), magnesium (± 25 – 30 mg), kalsium (± 15 – 20 mg), fosfor (± 30 – 40 mg), zat besi (± 0,5 – 1,0 mg), dan seng (± 0,2 – 0,3 mg). Mineral lain seperti selenium, mangan, dan tembaga juga terdapat dalam jumlah jejak.
Budidaya
Sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg) umumnya tidak memiliki biji, sehingga perbanyakan dilakukan secara vegetatif. Metode yang digunakan meliputi stek akar, okulasi, dan cangkok.
Stek akar merupakan metode yang paling umum karena mampu menghasilkan bibit dalam jumlah banyak dan seragam. Akar diambil dari pohon induk yang sehat dan produktif, kemudian dipotong sepanjang 15 – 20 cm.
Potongan akar diistirahatkan selama 1 – 2 hari untuk mengeringkan luka, lalu direndam atau diolesi hormon perangsang akar. Stek disemai pada media pasir yang terlindung dari sinar matahari langsung dan disiram secara teratur.
Setelah sekitar satu bulan, tunas mulai tumbuh dan bibit dipindahkan ke polybag berisi campuran tanah, pupuk kandang, dan pasir dengan perbandingan 2:2:1. Bibit siap tanam setelah berumur 4 – 6 bulan.
Okulasi dilakukan dengan menempelkan mata tunas sukun pada batang bawah tanaman keluwih (Artocarpus camansi). Batang bawah berumur 5 – 6 bulan dan memiliki 4 – 6 helai daun. Setelah proses penempelan berhasil dan tunas baru tumbuh, tanaman dipelihara hingga berumur 6 – 8 bulan sebelum dipindahkan ke lahan.
Metode cangkok dapat dilakukan pada tanaman muda maupun dewasa, terutama pada awal musim hujan untuk menjaga kelembapan. Kulit batang dikupas selebar 3 – 5 cm, kemudian luka dibiarkan kering selama satu hari dan diolesi hormon akar.
Bagian tersebut dibalut dengan media tanah atau lumut lembap dan dibungkus plastik hingga akar tumbuh dalam waktu 1 – 2 bulan. Cangkokan dipindahkan ke polybag selama sekitar satu bulan sebelum ditanam di lahan permanen. Cangkok tunas akar umumnya memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi dibandingkan cangkok batang.
Sebelum penanaman, lahan dibersihkan dari gulma dan batu. Lubang tanam dibuat dengan ukuran 75 × 75 × 75 cm dan jarak antar tanaman sekitar 12 – 15 meter. Tanah galian bagian atas dicampur dengan pupuk kandang sebagai pupuk dasar.
Bibit dilepas dari polybag, kemudian ditanam di dalam lubang dan ditimbun kembali dengan tanah bagian bawah dan atas secara berurutan. Setiap lubang tanam dapat ditambahkan sekitar 100 gram pupuk NPK.
Setelah penanaman, dilakukan penyiraman secukupnya agar tanah padat dan tanaman berdiri kokoh. Perawatan tanaman muda meliputi penyiraman rutin serta pengendalian gulma di sekitar pangkal tanaman.
Tanaman sukun mulai berbuah pada umur sekitar 3 – 5 tahun, tergantung kondisi lingkungan dan perawatan. Buah yang siap panen menunjukkan perubahan pada permukaan kulit yang menjadi lebih halus dan tonjolan berkurang. Warna kulit berubah dari hijau cerah menjadi kekuningan, serta tekstur buah terasa padat namun agak lunak saat ditekan ringan.
Pemanenan dilakukan secara manual menggunakan galah atau tangga. Buah yang telah dipanen sebaiknya segera dikonsumsi atau diolah karena memiliki daya simpan yang relatif singkat.
Varietas
Sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg) dikenal memiliki dua kelompok utama varietas, yaitu varietas tanpa biji dan varietas berbiji. Perbedaan keduanya terletak pada struktur bagian dalam buah serta karakter daging buah yang dihasilkan.
Varietas tanpa biji merupakan tipe yang paling umum dibudidayakan sebagai sumber pangan. Pada varietas ini, seluruh bagian dalam buah terisi oleh daging buah yang padat tanpa perkembangan biji yang sempurna. Struktur buah yang kompak dan tekstur daging yang relatif seragam menjadikan varietas tanpa biji lebih banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan pokok maupun olahan.
Varietas berbiji memiliki ruang biji yang berkembang di bagian tengah buah. Biji-biji tersebut terbentuk dari bakal biji yang berkembang secara normal dan umumnya berukuran kecil hingga sedang. Keberadaan biji menyebabkan bagian daging buah di sekitarnya tidak sepadat varietas tanpa biji.
Secara umum, perbedaan utama antara kedua varietas tersebut terletak pada keberadaan dan perkembangan biji di dalam buah. Varietas tanpa biji memiliki struktur daging buah yang lebih padat dan seragam, sedangkan varietas berbiji memperlihatkan ruang biji yang jelas di bagian tengah buah.
Khasiat dan Manfaat
Sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg) mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berkontribusi terhadap aktivitas biologis tertentu. Flavonoid dan senyawa fenolik berperan sebagai antioksidan yang membantu menangkal radikal bebas dan melindungi sel dari kerusakan oksidatif. Aktivitas antioksidan ini berkaitan dengan pencegahan proses degeneratif pada jaringan tubuh.
Flavonoid dan terpenoid juga menunjukkan aktivitas antiinflamasi yang berperan dalam meredakan peradangan pada jaringan. Tanin memiliki sifat antibakteri dan astringen yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme tertentu.
Senyawa seperti artoindonesianin dan artokarpanon yang terdapat pada batang dan kulit batang diketahui memiliki aktivitas antidiabetes. Selain itu, beberapa senyawa fenolik dan flavonoid menunjukkan aktivitas antiproliferatif terhadap pertumbuhan sel tertentu.
Buah sukun memiliki kandungan gizi dan senyawa bioaktif yang mendukung pemeliharaan fungsi tubuh. Kandungan vitamin C dan antioksidan berperan dalam menjaga sistem imun.
Kandungan serat dan saponin berkontribusi dalam membantu menjaga kadar kolesterol, sehingga mendukung kesehatan jantung. Serat pangan yang cukup serta indeks glikemik yang tergolong sedang berperan dalam membantu pengendalian kadar gula darah.
Serat juga mendukung kelancaran sistem pencernaan dan membantu mencegah sembelit. Vitamin B kompleks serta mineral seperti magnesium dan tembaga berperan dalam mendukung fungsi saraf dan metabolisme energi.
Kandungan zat besi, kalium, dan vitamin C mendukung pembentukan sel darah merah dan membantu menjaga tekanan darah. Vitamin A, E, dan K bersama mineral seperti kalsium dan fosfor berperan dalam pemeliharaan kesehatan tulang dan kulit.
Sukun dapat menjadi sumber energi karena kandungan karbohidrat kompleks yang dicerna secara bertahap. Kandungan serat dan indeks glikemik yang sedang membantu menjaga stabilitas kadar gula darah.
Serat pangan yang terdapat dalam buah sukun mendukung pencegahan sembelit selama kehamilan. Mineral seperti kalsium, fosfor, dan magnesium berperan dalam mendukung pembentukan tulang dan gigi janin.
Zat besi, kalium, dan vitamin B kompleks mendukung sirkulasi darah serta membantu mencegah anemia dan menjaga tekanan darah selama masa kehamilan.
Catatan Penggunaan
Buah sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg) aman dikonsumsi dalam porsi sekitar 100 – 150 gram per sajian, setara dengan satu potong sedang buah matang yang telah diolah. Konsumsi dalam jumlah tersebut dapat dilakukan beberapa kali dalam seminggu sebagai sumber karbohidrat alternatif pengganti nasi atau kentang.
Cara pengolahan
Untuk mempertahankan nilai gizi, sukun dapat diolah dengan cara dikukus, direbus, atau dipanggang. Pengukusan membantu menjaga kelembapan alami daging buah dan mempertahankan kandungan vitamin C.
Perebusan melunakkan tekstur buah serta membantu mengurangi kadar getah. Pemanggangan menghasilkan aroma khas dan rasa gurih tanpa penambahan minyak berlebih.
Penggunaan minyak dalam jumlah besar atau penggorengan berulang dapat meningkatkan kadar lemak pada hasil olahan.
Tips memilih dan menyiapkan buah
Buah sukun yang matang memiliki kulit berwarna hijau kekuningan dengan permukaan tonjolan yang lebih merata. Teksturnya terasa agak lunak saat ditekan ringan dan getah pada tangkai berkurang.
Sebelum diolah, kulit buah dikupas dan daging buah dicuci untuk menghilangkan sisa getah. Buah yang belum sepenuhnya matang dapat diperam selama 2 – 3 hari pada suhu ruang hingga mencapai tingkat kematangan yang sesuai.
Peringatan dan efek samping
Penderita gangguan fungsi ginjal perlu membatasi konsumsi sukun karena kandungan kalium yang relatif tinggi berpotensi meningkatkan kadar kalium dalam darah apabila dikonsumsi berlebihan. Konsultasi dengan tenaga kesehatan diperlukan sebelum mengonsumsi secara rutin.
Konsumsi dalam jumlah berlebihan dapat menimbulkan efek samping ringan seperti perut kembung akibat fermentasi serat dan pati di saluran pencernaan, serta penurunan tekanan darah karena kandungan kalium yang tinggi. Konsumsi sebaiknya dilakukan secara seimbang bersama sumber pangan lain dalam pola makan harian.
Sumber:
- “SUKUN Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg” plantamor.com (Diakses pada 12 Februari 2026)
- “Budidaya Sukun” bbpplembang.bppsdmp.pertanian.go.id (Diakses pada 12 Februari 2026)
- “Sukun (Artocarpus altilis) Alternatif Cadangan Pangan Masyarakat Sekitar Hutan” rimbaindonesia.id (Diakses pada 12 Februari 2026)
- “Artocarpus altilis (Sukun)” rumahliterasihijau.id (Diakses pada 12 Februari 2026)
- “Sukun (Artocarpus altilis)” amandigital.faperta.unand.ac.id (Diakses pada 12 Februari 2026)
- “Buah Sukun, Cocok untuk Ketahanan Pangan Pengganti Beras” mongabay.co.id (Diakses pada 12 Februari 2026)
- “Jarang Diketahui, Ini 13 Manfaat Buah Sukun untuk Kesehatan” www.halodoc.com (Diakses pada 12 Februari 2026)
- “7 Manfaat Buah Sukun untuk Ibu Hamil dan Tips Mengolahnya” hellosehat.com (Diakses pada 12 Februari 2026)
- “Manfaat Luar Biasa Tanaman Sukun” digitani.ipb.ac.id (Diakses pada 12 Februari 2026)
- “Fungsi Ekologis Tanaman Sukun (Artocarpus Altilis)” dlhk.mamujukab.go.id (Diakses pada 12 Februari 2026)
- “Sukun untuk Ibu Hamil, Ketahui Manfaat dan Cara Aman Mengonsumsinya” www.alodokter.com (Diakses pada 12 Februari 2026)
- “Sukun (Artocarpus altilis)” tangerangkab.go.id (Diakses pada 12 Februari 2026)
- “Manfaat Buah Sukun” hortikultura.pertanian.go.id (Diakses pada 12 Februari 2026)
