Ubi Jalar

Ubi Jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam.)

Ubi jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam.) merupakan tanaman pangan dari famili Convolvulaceae (suku kangkung-kangkungan) yang memiliki kebiasaan membentuk umbi di dalam tanah (geofit) dan tumbuh menjalar. 

Ubi jalar memiliki berbagai sebutan lokal di Indonesia, antara lain “ketela rambat” dalam bahasa Jawa dan “huwi boled” dalam bahasa Sunda.

Nama ilmiah Ipomoea batatas pertama kali dipublikasikan oleh botanis Prancis Jean-Baptiste Lamarck pada tahun 1793. Selain sebagai sumber karbohidrat, ubi jalar juga memiliki nilai gizi tinggi dan banyak dimanfaatkan dalam bidang pangan, industri, serta kesehatan.

Klasifikasi Ilmiah

Ubi jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam.) merupakan anggota dari genus Ipomoea yang termasuk ke dalam famili Convolvulaceae (suku kangkung-kangkungan). Berikut adalah urutan taksonomi lengkap tanaman ubi jalar:

  • Kingdom: Plantae
  • Subkingdom: Tracheobionta
  • Superdivisi: Spermatophyta
  • Divisi: Magnoliophyta
  • Kelas: Magnoliopsida
  • Subkelas: Asteridae
  • Ordo: Solanales
  • Famili: Convolvulaceae
  • Genus: Ipomoea
  • Spesies: Ipomoea batatas (L.) Lam.

Tanaman ini memiliki hubungan kekerabatan dekat dengan beberapa spesies lain dalam genus Ipomoea, termasuk kangkung (Ipomoea aquatica Forssk.) dan beberapa jenis tanaman hias berbunga.

Sebaran dan Habitat

Ubi jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam.) berasal dari kawasan Amerika Tengah dan Selatan, khususnya wilayah Meksiko, Venezuela, Ekuador, dan Peru. Berdasarkan temuan arkeologis, tanaman ini telah dibudidayakan sejak sekitar 5.000 tahun yang lalu oleh masyarakat pra-Columbus sebagai salah satu sumber karbohidrat utama.

Sebagai tanaman yang adaptif terhadap berbagai kondisi tanah dan iklim, ubi jalar kemudian menyebar luas dari daerah asalnya ke berbagai wilayah tropis dunia.

Pada abad ke-15, ubi jalar mulai dikenal di benua lain berkat aktivitas penjelajah Spanyol dan Portugis. Dari Amerika, tanaman ini dibawa ke Eropa, Afrika, serta Asia, dan dengan cepat diterima sebagai sumber pangan baru karena kemampuannya tumbuh di lahan marginal serta produktivitas yang tinggi.

Ubi jalar kemudian berkembang pesat di Cina, Jepang, dan Indonesia, serta menjadi komoditas di Afrika dan Asia. Di beberapa negara, tanaman ini bahkan dijadikan bahan pangan pokok alternatif pengganti gandum dan padi.

Sekitar tahun 1100 – 1200 M, ubi jalar telah menyebar ke kawasan Samudra Pasifik melalui pelaut Polinesia yang berlayar dari pesisir Amerika Selatan. Tanaman ini kemudian mencapai Hawaii, Selandia Baru, dan Pulau Paskah jauh sebelum adanya kontak dengan bangsa Eropa.

Pada tahun 1550 M, bangsa Portugis memperkenalkan kultivar India Barat ke wilayah Afrika, India, dan Kepulauan Maluku. Sementara itu, tahun 1522 M, bangsa Spanyol membawa ubi jalar dari Meksiko ke Filipina, yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah Asia Tenggara.

Sekitar tahun 1650 – 1700 M, tanaman ini masuk ke Papua dan Papua Nugini melalui jalur perdagangan Maluku. Kawasan Papua Nugini kemudian berkembang menjadi pusat sekunder keanekaragaman genetik ubi jalar, dengan tercatat lebih dari 5.000 kultivar lokal yang telah beradaptasi dengan kondisi geografis dan budaya setempat.

Morfologi

Batang

Ubi jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam.) tumbuh menjalar di permukaan tanah. Batangnya merambat atau menjalar hingga beberapa meter dan memiliki kemampuan membentuk akar di setiap ruas batangnya. Panjang batang bervariasi tergantung varietas, dapat mencapai antara 0,5 – 4 meter.

Daun

Daunnya tumbuh berselang-seling dengan bentuk yang bervariasi, mulai dari berbentuk hati, menjari, hingga lonjong. Warna daun umumnya hijau, tetapi pada beberapa varietas dapat berubah menjadi ungu akibat akumulasi pigmen antosianin, terutama di sepanjang urat daun.

Bunga

Bunganya memiliki bentuk corong, khas famili Convolvulaceae, dengan warna putih atau ungu muda. Meskipun tanaman ini mampu berbunga, produksi biji tidak selalu terjadi karena banyak kultivar lebih sering diperbanyak secara vegetatif melalui stek batang.

Umbi

Bagian tanaman yang dikonsumsi adalah umbi akar yang tumbuh di bawah tanah. Umbi ubi jalar memiliki kulit berwarna bervariasi, mulai dari putih, kuning, oranye, merah, hingga ungu, dengan daging umbi yang juga menunjukkan variasi warna serupa. Variasi ini umumnya berkaitan dengan kandungan pigmen alami seperti karotenoid dan antosianin.

Tanaman ini mampu tumbuh pada berbagai kondisi lingkungan, mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi, dan dapat dipanen pada usia 3,5 – 8 bulan, tergantung pada ketinggian tempat serta kondisi tanah. Di dataran rendah, masa panen biasanya lebih singkat dibandingkan di daerah tinggi.

Di Indonesia, telah dikembangkan sejumlah varietas unggul yang memiliki produktivitas tinggi dan adaptif terhadap kondisi lokal. Beberapa di antaranya adalah Daya, Karya, Gedang, Prambanan, Borobudur, Mendut, Cilembu, Papua Salosa, Papua Pattipi, Beta, dan Antin, serta beberapa kultivar daerah seperti Kalasan, Cangkuang, Sewu, dan Sari.

Jenis Ubi Jalar

Ubi jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam.) memiliki berbagai varietas dengan perbedaan mencolok pada warna kulit dan daging umbi, rasa, serta kandungan gizinya. Setiap jenis memiliki keunggulan tersendiri dan manfaat kesehatan yang spesifik.

Ubi Jalar Oranye

Ubi jalar berwarna oranye dikenal sebagai sumber beta-karoten yang sangat tinggi, yaitu pigmen alami yang berfunsi sebagai prekursor vitamin A. Kandungan ini bermanfaat untuk:

  • Menjaga kesehatan mata, terutama dalam mencegah rabun senja.
  • Meningkatkan sistem kekebalan tubuh melalui peran vitamin A dalam pembentukan sel-sel imun.
  • Melindungi kulit dari kerusakan akibat paparan radikal bebas.

Ubi jalar oranye banyak direkomendasikan sebagai makanan tambahan untuk anak-anak dan ibu hamil karena nilai gizinya yang tinggi.

Ubi Jalar Ungu

Ubi jalar ungu memiliki kandungan antosianin, yaitu senyawa antioksidan kuat yang memberi warna ungu pada daging umbinya. Zat ini berfungsi menjaga kesehatan tubuh, antara lain dengan cara:

  • Menurunkan tekanan darah dan mengurangi risiko penyakit jantung serta stroke.
  • Mencegah kanker, terutama kanker lambung, ginjal, usus besar, dan payudara, melalui mekanisme penetralan radikal bebas.
  • Mengurangi peradangan kronis, sehingga mendukung kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Selain rasanya yang manis dan teksturnya lembut, ubi jalar ungu juga digemari karena sifatnya sebagai pangan fungsional alami.

Ubi Jalar Putih

Jenis ubi jalar putih memiliki kulit dan daging berwarna putih kekuningan serta kandungan serat yang tinggi, terutama berupa pektin, hemiselulosa, dan selulosa. Manfaat utama ubi jalar putih antara lain:

  • Melancarkan pencernaan dan menjaga kesehatan usus.
  • Cocok untuk MPASI bayi karena teksturnya lembut dan kandungan nutrisinya aman bagi pencernaan bayi.
  • Dapat diolah menjadi bioetanol, berkat kandungan pati dan selulosa yang tinggi, sehingga berpotensi sebagai bahan bakar alternatif terbarukan.

Ubi Jalar Kuning

Ubi jalar kuning memiliki kulit berwarna kuning-oranye dan daging oranye cerah. Kandungan nutrisinya meliputi vitamin A, C, B, dan E, menjadikannya baik untuk:

  • Kesehatan dan kecantikan kulit, karena vitamin C membantu pembentukan kolagen, sedangkan vitamin A dan E menjaga elastisitas kulit.
  • Perawatan alami wajah, di mana ubi jalar kuning sering digunakan sebagai masker alami untuk mengatasi kulit berminyak dan menjaga kelembutan kulit.
  • Ubi jalar kuning dikenal memiliki rasa sedikit manis dengan tekstur agak padat, sehingga banyak digunakan dalam olahan kuliner tradisional maupun modern.

Budidaya

Budidaya Ubi jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam.) tergolong mudah sehingga dapat dilakukan di berbagai jenis lahan, mulai dari dataran rendah hingga tinggi. Tanaman ini dapat tumbuh baik pada tanah yang gembur, subur, dan memiliki drainase baik, dengan paparan sinar matahari penuh. Ubi jalar juga tahan terhadap kondisi tanah yang kurang subur, menjadikannya tanaman pangan penting di berbagai wilayah tropis dan subtropis.

Pemilihan Bibit

Bibit ubi jalar biasanya berasal dari stek batang tanaman sehat berumur 2 – 3 bulan. Stek diambil dari bagian tengah batang yang tidak terlalu tua atau muda, memiliki ruas yang cukup, dan daun masih segar. Stek sepanjang ±25 – 30 cm kemudian dipotong miring untuk mempercepat pertumbuhan akar.

Penanaman

Penanaman dilakukan pada bedengan tanah dengan jarak tanam sekitar 30 – 40 cm antar tanaman dan 60 – 100 cm antar barisan, tergantung varietas dan kondisi lahan. Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan agar pertumbuhan optimal, dengan posisi stek ditanam miring dan sebagian batang tertimbun tanah.

Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharaan meliputi beberapa kegiatan penting sebagai berikut:

  • Penyulaman, yaitu mengganti tanaman yang mati atau tidak tumbuh sempurna dalam 1 – 2 minggu pertama setelah tanam.
  • Penyiangan gulma, dilakukan secara rutin agar tanaman tidak bersaing dalam mendapatkan nutrisi dan cahaya.
  • Pembubunan, yakni menimbun kembali pangkal batang untuk memperbaiki aerasi tanah dan mendorong pembentukan umbi.
  • Pengendalian hama dan penyakit, terutama terhadap ulat daun (Cylas formicarius), kumbang penggerek umbi, dan penyakit busuk akar. Pengendalian dilakukan secara terpadu, termasuk penggunaan varietas tahan hama, sanitasi lahan, dan rotasi tanaman.

Panen

Ubi jalar umumnya dapat dipanen setelah 3 – 4 bulan setelah tanam, tergantung varietas dan kondisi lingkungan. Ciri-ciri tanaman siap panen antara lain daun mulai menguning dan batang mengering sebagian. Panen dilakukan dengan hati-hati agar umbi tidak terluka, karena luka dapat mempercepat pembusukan saat penyimpanan.

Umbi yang telah dipanen dibersihkan dari tanah, disortir berdasarkan ukuran dan kualitas, lalu dapat langsung dikonsumsi atau disimpan dalam tempat sejuk dan kering.

Kandungan Nutrisi

Ubi jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam.) dikenal sebagai sumber energi yang bernilai gizi tinggi dan relatif rendah lemak.  Ubi jalar memiliki sejumlah zat gizi utama yang memiliki fungsi kesehatan pada manusia, antara lain:

  • Karbohidrat kompleks: Menjadi sumber energi tahan lama, menjaga kestabilan kadar gula darah, dan memberikan rasa kenyang lebih lama.
  • Serat: Membantu melancarkan sistem pencernaan, menjaga kesehatan usus, dan mengurangi risiko sembelit.
  • Vitamin A (beta-karoten): Berfungsi untuk memelihara kesehatan mata, meningkatkan imunitas tubuh, serta menjaga kesehatan kulit dan jaringan epitel.
  • Vitamin B6 dan C: Berperan dalam metabolisme energi, pembentukan kolagen, serta peningkatan daya tahan tubuh terhadap infeksi.
  • Mineral (kalium dan mangan): Membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh, mendukung fungsi otot dan saraf, serta berperan dalam proses pembentukan enzim dan metabolisme sel.

Dalam setiap 100 gram ubi jalar rebus, kandungan gizinya adalah sebagai berikut:

  • Kalori: ± 90 kkal
  • Karbohidrat: 21 gram
  • Serat: 3 gram
  • Protein: 2 gram
  • Lemak: < 0,2 gram
  • Vitamin: A (dalam bentuk beta-karoten), C, dan B6
  • Mineral: Mangan dan Kalium

Kandungan nutrisi tersebut menjadikan ubi jalar sebagai bahan pangan bergizi tinggi yang dapat memenuhi kebutuhan energi dan mikronutrien penting dalam tubuh.

 

Dengan kandungan tersebut, ubi jalar tidak hanya berfungsi sebagai sumber energi, tetapi juga sebagai pangan fungsional yang mendukung kesehatan secara menyeluruh.

Khasiat dan Manfaat

Ubi jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam.) dikenal sebagai salah satu pangan bergizi tinggi yang memberikan berbagai manfaat bagi kesehatan tubuh. Kandungan karbohidrat kompleks, serat, vitamin, mineral, serta antioksidan memiliki fungsional yang mendukung sistem metabolik dan pencegahan penyakit.

Berikut sejumlah manfaat utama ubi jalar untuk kesehatan:

Menjaga Kesehatan Mata

Ubi jalar, terutama varietas berwarna oranye, kaya akan beta-karoten, yaitu prekursor vitamin A yang penting untuk fungsi retina dan kesehatan penglihatan. Konsumsi rutin membantu mencegah gangguan mata seperti rabun senja dan degenerasi makula akibat penuaan.

Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh

Kandungan vitamin C dan antioksidan alami pada ubi jalar membantu memperkuat sistem imun. Vitamin C membantu pembentukan sel darah putih dan mempercepat proses penyembuhan luka, sementara beta-karoten berfungsi menjaga daya tahan terhadap infeksi.

Menjaga Kesehatan Pencernaan

Kandungan serat larut dan tidak larut dalam ubi jalar membantu melancarkan buang air besar, menjaga keseimbangan mikrobiota usus, dan mencegah sembelit. Konsumsi teratur juga dapat mendukung kesehatan sistem pencernaan secara keseluruhan.

Menurunkan Tekanan Darah

Ubi jalar merupakan sumber kalium alami yang membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh serta menurunkan tekanan darah dengan menetralkan efek natrium. Asupan kalium yang cukup juga dapat menurunkan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular.

Mengurangi Risiko Penyakit Jantung

Kandungan antioksidan, serat, dan kalium dalam ubi jalar membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) serta mengurangi stres oksidatif yang menjadi faktor pemicu penyakit jantung. Antioksidan seperti antosianin pada ubi jalar ungu juga mendukung fungsi jantung yang sehat.

Membantu Menurunkan Berat Badan

Ubi jalar memiliki indeks glikemik rendah dan kandungan serat tinggi, sehingga memberikan rasa kenyang lebih lama dan membantu mengontrol asupan kalori. Hal ini menjadikan ubi jalar cocok sebagai bagian dari program diet sehat.

Menyehatkan Kulit

Kandungan vitamin A, C, dan E dalam ubi jalar membantu dalam regenerasi sel kulit, menjaga elastisitas, dan melindungi kulit dari kerusakan akibat radikal bebas. Konsumsi rutin dapat membantu menjaga kulit tetap sehat, cerah, dan lembap secara alami.

Menjadi Sumber Energi Alami

Sebagai sumber karbohidrat kompleks, ubi jalar menyediakan energi yang bertahan lama tanpa menyebabkan lonjakan gula darah. Kandungan ini sangat baik untuk mendukung aktivitas fisik maupun metabolisme harian.

Mengontrol Kadar Gula Darah

Meskipun rasanya manis, ubi jalar memiliki indeks glikemik rendah, sehingga tidak menyebabkan peningkatan gula darah secara tiba-tiba. Kandungan seratnya juga membantu memperlambat penyerapan glukosa, menjadikannya aman dikonsumsi oleh penderita diabetes tipe 2.

Potensi Mencegah Kanker

Ubi jalar mengandung berbagai senyawa antioksidan, seperti beta-karoten, vitamin C, dan antosianin, yang mampu melawan radikal bebas penyebab mutasi sel. Konsumsi rutin ubi jalar, khususnya varietas ungu dan oranye, berpotensi menurunkan risiko kanker paru-paru, usus besar, dan payudara.

Catatan Konsumsi

Meskipun ubi jalar memiliki berbagai manfaat kesehatan, konsumsi berlebihan atau pengolahan yang kurang tepat dapat menimbulkan efek samping tertentu. Berikut beberapa risiko yang perlu diperhatikan:

Peningkatan Kadar Gula Darah

Walaupun ubi jalar memiliki indeks glikemik rendah, konsumsi dalam jumlah besar tetap dapat meningkatkan kadar gula darah, terutama bila diolah dengan tambahan gula, sirup, atau digoreng. Hal ini penting diperhatikan oleh penderita diabetes atau mereka yang sedang menjaga kestabilan gula darah.

Paparan Pestisida

Ubi jalar yang ditanam dengan penggunaan pestisida berlebih dapat meninggalkan residu kimia pada kulit umbi. Jika tidak dicuci bersih atau dimasak dengan benar, zat tersebut dapat berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan. Dianjurkan untuk mengupas kulit dan mencuci hingga bersih sebelum pengolahan.

Risiko Batu Ginjal

Ubi jalar mengandung asam oksalat, senyawa alami yang dapat membentuk kristal kalsium oksalat pada ginjal bila dikonsumsi secara berlebihan. Individu dengan riwayat batu ginjal sebaiknya membatasi asupan ubi jalar dan memperbanyak minum air putih untuk mencegah penumpukan oksalat.

Reaksi Alergi (Jarang Terjadi)

Dalam kasus yang jarang, sebagian orang mungkin mengalami reaksi alergi seperti gatal, ruam, atau pembengkakan ringan setelah mengonsumsi ubi jalar. Reaksi ini biasanya disebabkan oleh sensitivitas terhadap protein tertentu dalam umbi.

Gangguan Pencernaan

Kandungan serat yang tinggi dapat menyebabkan kembung, gas, atau diare ringan bila dikonsumsi berlebihan, terutama pada individu yang tidak terbiasa dengan asupan serat tinggi. Oleh karena itu, disarankan untuk menyesuaikan jumlah konsumsi secara bertahap.

Tips

Untuk memperoleh manfaat maksimal dan mengurangi risiko efek samping, berikut panduan konsumsi ubi jalar yang sehat:

  • Pilih ubi jalar segar yang tidak busuk, berjamur, atau bertunas.
  • Cuci bersih dan kupas kulitnya sebelum dimasak untuk mengurangi risiko paparan pestisida.
  • Masak dengan cara sehat, seperti dikukus, direbus, atau dipanggang, agar kandungan gizinya tetap terjaga.
  • Hindari tambahan gula, garam, atau lemak berlebih seperti santan kental dan minyak goreng.
  • Kombinasikan dengan lauk dan sayuran bergizi untuk keseimbangan nutrisi.
  • Konsumsi dalam porsi wajar, sekitar 100 – 150 gram per sajian, sebagai bagian dari pola makan seimbang.

Sumber:

1 komentar untuk “Ubi Jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam.)”

  1. Pingback: Famili Convolvulaceae (Suku Kangkung-kangkungan) - arsipflora.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *