Sukun

Sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg)

Sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg) pohon yang termasuk dalam famili Moraceae atau suku ara-araan. Buah sukun banyak dimanfaatkan sebagai salah satu sumber bahan pangan. Sukun memiliki bentuk pohon besar, bergetah, dan menghasilkan buah majemuk yang menjadi ciri khas kelompok genus Artocarpus.

Secara ilmiah, sukun dikenal dengan nama Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg. Nama ini pertama kali dipublikasikan oleh ahli botani Sydney Parkinson pada tahun 1773, kemudian direvisi oleh Fosberg pada tahun 1941. 

Sukun berasal dari bioma beriklim tropis basah dan merupakan hasil kultivasi yang berasal dari kawasan Pasifik barat laut. Dalam konteks sejarah botani, sukun telah lama dibudidayakan oleh masyarakat di kepulauan Pasifik sebagai sumber karbohidrat utama, bersama dengan tanaman seperti talas dan pisang.

Klasifikasi Ilmiah

Sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg) termasuk dalam famili Moraceae. Klasifikasi ilmiahnya adalah sebagai berikut:

  • Kingdom: Plantae
  • Subkingdom: Tracheobionta
  • Superdivisi: Spermatophyta
  • Divisi: Magnoliophyta
  • Kelas: Magnoliopsida
  • Subkelas: Hamamelididae
  • Ordo: Rosales
  • Famili: Moraceae
  • Genus: Artocarpus
  • Spesies: Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg

Famili Moraceae dikenal sebagai kelompok tumbuhan yang memiliki lateks, daun tunggal, serta buah majemuk yang terbentuk dari perbungaan padat. Anggota famili ini meliputi berbagai marga seperti Ficus, Morus, dan Artocarpus

Sukun juga memperlihatkan kemiripan morfologis dengan kerabat dekatnya, seperti nangka (Artocarpus heterophyllus) dan cempedak (Artocarpus champeden), meskipun tidak memiliki biji pada buah yang telah masak.

Sebaran dan Habitat

Sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg) berasal dari wilayah Melanesia, Mikronesia, dan Polinesia yang meliputi berbagai kepulauan di kawasan Pasifik bagian barat laut. Di wilayah Melanesia, tanaman ini ditemukan secara alami di Kepulauan Maluku, Papua, hingga Fiji. 

Di daerah Mikronesia, persebarannya mencakup Kepulauan Mariana, Palau, hingga Kiribati. Sementara itu, di Polinesia, tanaman sukun menyebar luas dari Hawaii dan Selandia Baru hingga mencapai Pulau Paskah (Easter Island). Wilayah-wilayah tersebut dikenal sebagai pusat domestikasi dan budidaya awal tanaman sukun sebelum tersebar ke berbagai daerah tropis lainnya di dunia.

Secara geografis, sukun kini telah tersebar luas di berbagai kawasan tropis dunia, terutama di Asia, Afrika, Pasifik, dan sebagian wilayah Eropa. Penyebaran global ini terjadi melalui kegiatan perdagangan dan pertukaran tanaman pangan sejak masa kolonial, yang menyebabkan sukun banyak dibudidayakan di negara-negara beriklim tropis seperti India, Malaysia, Indonesia, Sri Lanka, dan beberapa daerah pesisir di benua Afrika.

Di Indonesia, sukun memiliki sebaran yang sangat luas, mulai dari Sabang hingga Merauke. Persebaran alami tanaman ini meliputi berbagai provinsi dan kepulauan, antara lain Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi (Minahasa, Makassar, Bonerate, Gorontalo, Bugis), Maluku (Seram, Halmahera, Kai, Buru, Ambon, dan Ternate), serta Papua. 

Sukun tumbuh baik pada lingkungan tropis yang hangat dan lembap. Habitat alaminya meliputi wilayah dataran rendah hingga daerah pegunungan, dengan ketinggian antara 1.200 – 2.000 mdpl. Kondisi lingkungan tersebut mendukung pertumbuhan vegetatif dan produktivitas buah yang optimal.

Suhu udara yang ideal bagi pertumbuhan sukun berkisar antara 21 – 35°C, sedangkan kebutuhan curah hujan tahunan berada pada rentang 1.500 – 3.000 mm. Tanaman ini umumnya memerlukan lingkungan dengan kelembapan tinggi dan penyinaran matahari yang cukup, namun tetap menunjukkan toleransi yang baik terhadap naungan parsial.

Sukun mampu tumbuh pada berbagai jenis tanah, termasuk tanah ber-pH rendah, serta memperlihatkan toleransi terhadap kondisi kekeringan sementara. Selain itu, tanaman ini juga dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan pantai yang memiliki tingkat salinitas tinggi, sehingga sering dijumpai di daerah pesisir dan pulau-pulau kecil. 

Morfologi

Sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg) memiliki sistem perakaran yang kuat dan menyebar luas. Jenis akar utamanya bersifat tunggang, yang tumbuh vertikal ke dalam tanah, disertai banyak akar adventif yang muncul dari bagian pangkal batang atau akar lateral. Akar-akarnya mampu menjalar secara horizontal hingga beberapa meter dari pangkal pohon, dengan panjang total dapat mencapai lebih dari 10 meter tergantung kondisi tanah dan ketersediaan air. Struktur perakaran yang kuat ini mendukung tanaman sukun untuk bertahan terhadap terpaan angin dan kondisi lingkungan pantai yang berpasir.

Batang sukun berukuran besar, tegak, dan berkayu keras, dengan tinggi pohon mencapai 20 hingga 40 meter. Diameter batang dapat mencapai 1 meter atau lebih pada tanaman yang telah tua. Permukaan batang berwarna cokelat keabu-abuan, memiliki getah putih kental (lateks) yang keluar bila kulit batang terluka. Kulit batang bagian luar kasar, sedangkan bagian dalam berserat. Rantingnya tebal, agak rapuh, dan menjadi tempat tumbuhnya daun yang tersusun berselang-seling.

Daun sukun termasuk daun tunggal yang tumbuh berselang-seling pada ranting. Bentuknya menjari dan bercangap dalam (lobus) dengan jumlah lekukan yang bervariasi antara 5–11 helai. Ukuran daun cukup besar, dengan panjang antara 20–60 cm dan lebar 20–40 cm. Warna daun muda hijau muda mengilap, sedangkan daun tua berwarna hijau tua dengan permukaan atas licin dan bagian bawah agak berbulu halus. Tulang daun menyirip kuat dengan tangkai daun tebal. Daun sukun sering digunakan sebagai indikator kesehatan tanaman karena mudah layu saat kekurangan air.

Sukun merupakan tumbuhan berumah satu (monoecious), artinya bunga jantan dan bunga betina terdapat dalam satu pohon, tetapi terpisah dalam satuan perbungaan yang berbeda.

Bunga jantan tersusun dalam bulir silindris panjang berwarna hijau kekuningan saat muda dan berubah menjadi cokelat ketika tua. Bunga jantan muncul di ujung atau ketiak ranting muda, mengandung banyak serbuk sari, dan berfungsi menghasilkan polen untuk penyerbukan.

Bunga betina terletak pada bagian ujung cabang yang lebih tebal, membentuk perbungaan majemuk berbentuk bulat atau oval. Masing-masing bunga betina memiliki bakal buah yang kemudian bersatu membentuk buah majemuk yang khas.

Buah sukun merupakan buah majemuk (syncarp) yang terbentuk dari gabungan banyak bakal buah betina dalam satu perbungaan. Bentuk buah umumnya bulat hingga agak lonjong, dengan diameter sekitar 15–30 cm dan berat mencapai 1–3 kilogram. Permukaan kulit buah ditutupi oleh tonjolan kecil berbentuk poligonal, berwarna hijau muda saat masih muda dan berubah menjadi kuning kehijauan hingga cokelat kekuningan saat matang.

Daging buah berwarna kuning pucat hingga krem, bertekstur empuk dan lembut setelah dimasak, serta memiliki rasa manis dan sedikit gurih. Pada varietas tanpa biji, seluruh bagian daging buah padat, sedangkan pada varietas berbiji terdapat ruang biji kecil di bagian tengah. Buah sukun yang telah matang mengeluarkan aroma khas dan sering digunakan sebagai bahan pangan pokok pengganti beras atau kentang di berbagai daerah tropis.

Status Konservasi

Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List, sukun dikategorikan dalam status Least Concern (LC), yang berarti bahwa populasi tanaman ini tergolong stabil dan tidak terancam punah. 

Status tersebut sejalan dengan persebaran sukun yang luas di berbagai wilayah tropis dunia, serta tingginya tingkat budidaya yang dilakukan oleh masyarakat sebagai sumber pangan dan tanaman pekarangan.

Budidaya

Sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg) merupakan tanaman tropis yang mudah dibudidayakan di berbagai daerah di Indonesia. Tanaman ini tumbuh baik di dataran rendah hingga ketinggian sekitar 700 mdpl, dengan suhu optimal antara 20 – 40°C dan kelembapan udara 70 – 90%. 

Pada daerah yang terlalu dingin, sukun cenderung tumbuh subur secara vegetatif tetapi berbuah tidak optimal. Tanaman muda memerlukan sedikit naungan, sedangkan tanaman dewasa membutuhkan sinar matahari penuh untuk menghasilkan buah yang baik.

Sukun dapat tumbuh di berbagai jenis tanah seperti podsolik merah kuning, tanah berkapur, dan tanah rawa pasang surut, namun hasil terbaik diperoleh pada tanah aluvial yang gembur dan kaya bahan organik.

Perbanyakan bibit

Sukun tidak memiliki biji, sehingga perbanyakannya dilakukan secara vegetatif, antara lain melalui stek akar, okulasi, dan cangkok.

Stek akar

Metode ini paling umum digunakan karena menghasilkan bibit yang seragam dan banyak. Pohon induk dipilih dari tanaman yang sehat, produktif, dan memiliki batang tegak dengan daun mengilap.

  • Akar diambil dari pohon induk yang ditebang, dipotong sepanjang 15 – 20 cm, lalu diistirahatkan 1 – 2 hari untuk menyembuhkan luka.
  • Sebelum disemai, potongan akar direndam atau diolesi hormon perangsang akar seperti Rootone F.
  • Stek disemaikan di bedengan pasir yang terlindung dari sinar langsung dan disiram rutin pagi sore.
  • Setelah sekitar 1 bulan, tunas akan tumbuh. Bibit dapat dipindahkan ke polybag berisi campuran tanah, pupuk kandang, dan pasir dengan perbandingan (2:2:1).
  • Bibit siap tanam setelah berumur 4 – 6 bulan.

Okulasi 

Okulasi dilakukan dengan menempelkan mata tunas sukun pada batang bawah dari tanaman keluwih (Artocarpus camansi).

  • Batang bawah berumur 5 – 6 bulan dengan 4 – 6 helai daun.
  • Setelah mata tunas sukun ditempel dan dibungkus, hasil okulasi siap dipindahkan ke lahan 6 – 8 bulan setelah proses penempelan berhasil (ditandai dengan tumbuhnya tunas baru).

Cangkok

Metode ini dapat dilakukan pada tanaman muda maupun dewasa, terutama pada awal musim hujan untuk menjaga kelembapan.

  • Kulit batang dikupas selebar 3 – 5 cm, luka dikeringkan sehari, lalu diolesi hormon akar.
  • Bagian tersebut dibalut media tanah atau lumut lembap, dibungkus plastik, dan diikat rapat.
  • Setelah 1 – 2 bulan, akar mulai tumbuh.
  • Cangkokan dipindahkan ke polybag selama ±1 bulan sebelum ditanam di lahan permanen.
  • Cangkok tunas akar umumnya lebih mudah dan memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi dibandingkan cangkok batang.

Penanaman

Sebelum penanaman, lahan dibersihkan dari gulma dan batu. Lubang tanam dibuat 75 × 75 × 75 cm dengan jarak antar tanaman 12 – 15 meter.

Langkah penanaman:

  • Campurkan tanah galian bagian atas dengan pupuk kandang.
  • Lepas polybag bibit, tanam bibit di lubang, lalu timbun dengan tanah bagian bawah dan atas secara berurutan.
  • Tambahkan 100 g pupuk NPK per lubang tanam.
  • Siram secukupnya agar tanah padat dan tanaman berdiri kokoh.
  • Lakukan penyiraman rutin serta pengendalian gulma di sekitar tanaman muda.

Panen

Tanaman sukun mulai berbuah setelah berumur 3 – 5 tahun, tergantung kondisi tumbuh dan perawatan.

Ciri-ciri buah siap panen:

  • Permukaan kulit buah menjadi lebih halus dan datar, tonjolan berkurang.
  • Warna kulit berubah dari hijau cerah menjadi kekuningan.
  • Buah terasa padat namun agak lunak saat ditekan ringan.
  • Buah yang terlalu lunak menandakan kelewat matang dan tidak optimal untuk dikonsumsi.
  • Buah sukun biasanya dipanen secara manual dengan galah atau tangga, lalu segera dikonsumsi atau diolah agar tidak cepat busuk.

Kandungan Nutrisi

Kandungan fitokimia

Sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg) mengandung beragam senyawa fitokimia aktif yang membantu dalam aktivitas biologis dan farmakologisnya. Senyawa fitokimia yang terkandung dalam sukun seperti: flavonoid, saponin, tanin, kuersetin, artokarpanon, artoindonesianin, fenolik, dan terpenoid.

Daun sukun kaya akan senyawa flavonoid, saponin, dan tanin, yang berfungsi sebagai antioksidan alami serta memiliki efek antiinflamasi dan antimikroba.

Batang dan kulit batang mengandung fenolik, artoindonesianin, dan artokarpanon, yang diketahui memiliki aktivitas antidiabetes, antikanker, serta antibakteri.

Akar sukun mengandung terpenoid dan tanin, yang berfungsi dalam aktivitas antiradang dan analgesik.

Bunga sukun diketahui mengandung flavonoid dan senyawa fenolik dalam jumlah sedang, yang berfungsi melindungi jaringan tanaman dari oksidasi.

Buah sukun, terutama bagian kulit dan dagingnya, mengandung flavonoid, kuersetin, dan saponin, yang memberikan manfaat antioksidan dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Kandungan nutrisi buah

Kandungan buah sukun yang lengkap dan bergizi membuatnya menjadi bahan pangan alternatif pengganti beras dan kentang. Kandungan utama seperti karbohidrat kompleks, protein nabati, serat pangan dan lemak. Sukun juga mengandung vitamin dan mineral esensial.

Komposisi gizi buah sukun pada setiap 100 gr buah segar secara umum meliputi:

  • Karbohidrat : ± 27–30 g
  • Protein : ± 1,0–1,5 g
  • Lemak : ± 0,2–0,5 g
  • Serat pangan : ± 3–5 g
  • Vitamin A (retinol) : ± 25 IU
  • Vitamin C (asam askorbat) : ± 20–25 mg
  • Vitamin E (tokoferol) : ± 0,1–0,3 mg
  • Vitamin K dan B kompleks (B₁, B₂, B₃, B₆, folat) : dalam kadar rendah hingga sedang
  • Kalsium (Ca) : ± 15–20 mg
  • Besi (Fe) : ± 0,5–1,0 mg
  • Magnesium (Mg) : ± 25–30 mg
  • Kalium (K) : ± 400–450 mg
  • Fosfor (P) : ± 30–40 mg
  • Seng (Zn) : ± 0,2–0,3 mg
  • Selenium (Se), Mangan (Mn), dan Tembaga (Cu) : dalam kadar jejak

Buah sukun dapa menjadi sumber energi yang baik karena kandungan karbohidrat dalam bentuk pati ditabah lagi ia kaya serat dan vitamin sehingga dapat membantu dan bermanfaat dalam pencernaan dan daya tahan tubuh.

Khasiat dan Manfaat

Manfaat berdasarkan senyawa aktif

Sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg) mengandung berbagai senyawa bioaktif yang memberikan beragam manfaat bagi kesehatan manusia.

Flavonoid berfungsi sebagai antioksidan yang mampu menangkal radikal bebas, melindungi sel dari kerusakan oksidatif, serta membantu mencegah perkembangan penyakit degeneratif seperti kanker dan penyakit jantung. Selain itu, flavonoid juga memiliki efek antiinflamasi, membantu meredakan peradangan pada jaringan tubuh.

Tanin memiliki sifat antibakteri dan astringen, berguna untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme patogen, mempercepat penyembuhan luka, serta membantu mengatasi diare dengan cara mengurangi sekresi cairan pada saluran pencernaan.

Saponin berfungsi sebagai penurun kadar kolesterol darah dengan cara mengikat asam empedu di usus, sekaligus memiliki potensi sebagai insektisida alami yang ramah lingkungan. Senyawa ini juga dapat meningkatkan sistem imun tubuh melalui stimulasi produksi antibodi.

Manfaat dalam kesehatan

Buah sukun memiliki nilai gizi dan senyawa bioaktif yang memberikan berbagai manfaat kesehatan, baik untuk pencegahan penyakit maupun pemeliharaan fungsi organ tubuh.

Beberapa manfaat sukun antara lain:

  • Meningkatkan daya tahan tubuh, berkat kandungan vitamin C dan senyawa antioksidan yang memperkuat sistem imun.
  • Menjaga kesehatan jantung, dengan membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan kolesterol baik (HDL).
  • Menyeimbangkan kadar gula darah, karena indeks glikemiknya tergolong sedang dan kandungan seratnya memperlambat penyerapan glukosa.
  • Melancarkan pencernaan dan mencegah sembelit, berkat serat pangan yang tinggi dan mudah dicerna.
  • Meningkatkan fungsi otak dan sistem saraf, melalui peran vitamin B kompleks dan mineral seperti magnesium dan tembaga.
  • Mencegah anemia dan hipertensi, karena kandungan zat besi, kalium, dan vitamin C yang mendukung produksi sel darah merah dan menjaga tekanan darah.
  • Menjaga kesehatan kulit, tulang, dan berat badan, dengan bantuan vitamin A, E, dan K serta kandungan kalsium dan fosfor yang mendukung metabolisme tulang.
  • Berpotensi mencegah kanker, karena adanya flavonoid dan fenolik yang memiliki aktivitas antiproliferatif terhadap sel kanker.

Manfaat khusus untuk ibu hamil

Sukun juga memberikan manfaat spesifik bagi ibu hamil karena kandungan karbohidrat kompleks, serat, vitamin, dan mineral esensialnya yang seimbang. Manfaatnya meliputi:

  • Memberikan energi dan rasa kenyang lebih lama, berkat kandungan karbohidrat kompleks yang dicerna perlahan.
  • Menjaga kadar gula darah tetap stabil, karena indeks glikemik buah sukun tergolong sedang, sehingga aman dikonsumsi dalam porsi wajar.
  • Mencegah sembelit dan menjaga kesehatan pencernaan, melalui kandungan serat yang tinggi dan lembut bagi usus.
  • Menangkal radikal bebas dan infeksi, berkat vitamin C dan flavonoid yang berperan sebagai antioksidan alami.
  • Mendukung pembentukan tulang dan gigi janin, karena kandungan kalsium, fosfor, dan magnesium yang mencukupi kebutuhan mineral selama kehamilan.
  • Mencegah anemia, kram kaki, dan hipertensi kehamilan, melalui kontribusi zat besi, kalium, dan vitamin B kompleks dalam sirkulasi darah dan fungsi otot.
  • Menjaga daya tahan tubuh dan kesehatan umum ibu hamil, sekaligus membantu pemulihan energi dan metabolisme selama masa kehamilan.

Catatan Konsumsi

Porsi aman

Buah sukun aman dikonsumsi dalam porsi 100 – 150 gram per sajian, setara dengan satu potong sedang buah matang yang telah diolah. Jumlah tersebut mencukupi kebutuhan energi harian tanpa menimbulkan efek samping bagi tubuh. Konsumsi sukun dapat dilakukan beberapa kali dalam seminggu sebagai sumber karbohidrat alternatif pengganti nasi atau kentang.

Saran cara pengolahan

Untuk mempertahankan nilai gizi dan mengurangi kandungan lemak berlebih, sukun sebaiknya diolah dengan cara dikukus, direbus, atau dipanggang. Metode pengolahan tersebut menjaga tekstur dan cita rasa buah tanpa menghilangkan vitamin serta mineral penting di dalamnya.

  • Pengukusan menjaga kelembapan alami daging buah dan mempertahankan kandungan vitamin C.
  • Perebusan membantu melunakkan daging buah sekaligus mengurangi kadar getah.
  • Pemanggangan memberikan aroma khas dan rasa gurih tanpa tambahan minyak berlebih.

Disarankan untuk menghindari penggorengan berulang atau penggunaan minyak dalam jumlah banyak, karena dapat meningkatkan kadar lemak jenuh dan mengurangi manfaat kesehatannya.

Tips memilih dan menyiapkan sukun matang

Buah sukun yang baik memiliki kulit berwarna hijau kekuningan dengan tekstur agak lunak saat ditekan. Tonjolan pada permukaan kulit mulai merata dan getah pada tangkai berkurang. 

Sebelum diolah, kulit buah dikupas dan daging buah dicuci bersih untuk menghilangkan sisa getah. Sukun yang belum sepenuhnya matang dapat diperam selama 2 – 3 hari pada suhu ruang hingga mencapai tingkat kematangan ideal untuk dikonsumsi.

Peringatan bagi penderita gangguan ginjal

Bagi penderita gangguan fungsi ginjal perlu membatasi konsumsi buah sukun. Hal ini disebabkan oleh tingginya kadar kalium (K) pada buah sukun yang berpotensi menimbulkan hiperkalemia bila dikonsumsi berlebihan, terutama pada individu dengan kemampuan ekskresi kalium yang terganggu. Disarankan untuk konsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mengkonsumsi rutin buah sukun.

Efek samping konsumsi berlebihan

Sukun pada dasarnya aman dikonsumsi, namun konsumsi berlebihan dapat menimbulkan efek samping ringan seperti:

  • Perut kembung, akibat fermentasi serat dan pati di saluran pencernaan.
  • Penurunan tekanan darah, karena kandungan kalium yang tinggi dapat memperlebar pembuluh darah bila dikonsumsi dalam jumlah besar.

Untuk menjaga manfaat optimal, konsumsi sukun sebaiknya dilakukan secara seimbang dan bervariasi bersama sumber pangan lain dalam pola makan harian.

Sumber:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *