Terung

Solanum melongena L. (Terung)

Syarat Tumbuh

Habitat: Daratan
Suhu: 22 - 35 °C
Ketinggian: 25 - 1.200 mdpl
Curah Hujan: 800 - 1.200 mm/tahun
Kelembapan Udara: 65 - 80%
pH Tanah: 5,5 - 6,8
Intensitas Cahaya: 1000 - 4000 lux

Bagian yang Dimanfaatkan

Terung (Solanum melongena L.) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang tergolong ke dalam famili Solanaceae dan genus Solanum. Tanaman ini dikenal sebagai sayuran buah yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta banyak dikonsumsi oleh masyarakat di berbagai belahan dunia. 

Dalam kehidupan sehari-hari, terung dimanfaatkan sebagai bahan pangan yang diolah dalam beragam masakan tradisional maupun internasional, sehingga perannya cukup penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan.

Dalam sistem kekerabatan botani, terung memiliki hubungan yang erat dengan beberapa tanaman lain yang masih berada dalam famili Solanaceae, seperti tomat (Solanum lycopersicum L.) dan kentang (Solanum tuberosum)

Di berbagai daerah, terung dikenal dengan beragam nama lokal. Di wilayah Sumatra, tanaman ini dikenal dengan sebutan terong, encung, tiung, serta latteung di daerah Tapanuli. 

Klasifikasi Ilmiah

Terung (Solanum melongena L.) merupakan tumbuhan berbiji yang termasuk ke dalam kelompok tumbuhan berbunga. Terung tergolong dalam tumbuhan bertrakea yang memiliki jaringan pembuluh angkut untuk mendukung proses fisiologisnya. Berikut susunan klasisfikasi ilimiah terung:

Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Superdivisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Subkelas: Asteridae
Ordo: Solanales
Famili: Solanaceae
Genus: Solanum
Spesies: Solanum melongena L.

Penamaan ilmiah terung sebagai Solanum melongena pertama kali dipublikasikan oleh botanis Swedia, Carolus Linnaeus, dalam karyanya Species Plantarum pada tahun 1753. 

Sebaran dan Habitat

Terung (Solanum melongena L.) berasal dari wilayah Indo-Burma, khususnya India dan Sri Lanka, dan termasuk tanaman purba yang telah lama mengalami proses domestikasi. 

Kawasan China dan Afrika dikenal sebagai pusat keanekaragaman terung, sementara sebaran alaminya meliputi wilayah Myanmar hingga Yunnan di China bagian selatan. Dari daerah asal tersebut, terung kemudian menyebar ke berbagai kawasan beriklim tropis dan subtropis di dunia.

Di Indonesia, terung telah lama dibudidayakan dan menjadi salah satu komoditas hortikultura penting. Penanaman terung tersebar di beberapa wilayah, dengan areal penanaman terbesar terdapat di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bengkulu, dan Sulawesi Selatan. 

Selain dibudidayakan secara intensif, tanaman terung juga dapat dijumpai tumbuh semi-liar di beberapa daerah.

Terung dapat tumbuh optimal pada suhu udara berkisar antara 25 – 35°C, dengan ketinggian tempat antara 1 – 1.200 mdpl. Pada ketinggian di atas 1.200 mdpl, pertumbuhan tanaman cenderung terhambat dan produksi buah menurun.

Kondisi tanah yang sesuai untuk pertumbuhan terung adalah tanah yang subur, gembur, memiliki drainase yang baik, serta bertekstur lempung berpasir. 

Derajat keasaman tanah yang ideal berada pada kisaran pH 5,3 – 6,8, meskipun tanaman ini masih mampu tumbuh pada pH mendekati 5,0. 

Terung juga dikenal toleran terhadap kondisi kekeringan maupun curah hujan tinggi, sehingga dapat dibudidayakan sepanjang tahun tanpa mengenal musim.

Morfologi

Terung (Solanum melongena L.) memiliki karakter morfologi yang khas dan relatif mudah dikenali sebagai anggota famili Solanaceae

Tanaman ini tumbuh sebagai herba semusim dengan struktur tubuh yang tersusun atas akar, batang, daun, bunga, buah, dan biji, yang masing-masing memiliki ciri morfologis tersendiri.

Akar

Sistem perakaran terung berupa akar tunggang yang berkembang kuat dan mampu menembus tanah hingga kedalaman tertentu. Akar ini berfungsi sebagai penopang tanaman sekaligus sebagai organ utama dalam penyerapan air dan unsur hara dari dalam tanah.

Batang

Batang terung bersifat tegak dan bercabang, dengan tekstur permukaan agak kasar. Umumnya batang terdiri atas batang utama (primer) yang disertai beberapa cabang sekunder yang tumbuh menyebar. 

Permukaan batang dan cabang biasanya ditutupi oleh rambut-rambut halus (trikoma) yang memberikan kesan berbulu.

Daun

Daun terung bertangkai dengan panjang tangkai sekitar 5 – 10 cm. Helaian daun berbentuk bulat telur hingga lonjong, dengan pangkal daun membulat hingga menyerupai bentuk jantung dan ujung daun tumpul sampai meruncing. 

Tepi daun relatif rata, pertulangan daun menyirip, dan permukaan daun ditumbuhi bulu halus. Warna daun umumnya hijau hingga hijau keunguan.

Bunga

Bunga terung merupakan bunga lengkap atau berkelamin dua, karena dalam satu bunga terdapat alat kelamin jantan (benang sari) dan alat kelamin betina (putik). 

Mahkota bunga berwarna ungu dengan benang sari berwarna kuning yang mencolok. Bunga biasanya muncul di ketiak daun dan tersusun secara soliter atau dalam kelompok kecil.

Buah

Buah terung termasuk buah sejati tunggal yang berdaging tebal dan lunak. Bentuk buah sangat bervariasi, mulai dari bulat, lonjong, hingga memanjang, bergantung pada varietasnya. Warna kulit buah juga beragam, antara lain ungu, hijau, putih, merah, atau kombinasi warna tertentu.

Biji

Biji terung berukuran kecil, bertekstur lembut, dan sedikit berlendir. Bentuk biji umumnya bulat lonjong dengan permukaan mengilap, serta berwarna cokelat kekuningan hingga cokelat kehitaman ketika telah masak sempurna.

Kandungan dan Nutrisi

Terung (Solanum melongena L.) merupakan sayuran dengan kandungan energi yang rendah dan kadar air yang tinggi, sehingga banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan dalam berbagai pola konsumsi. 

Dalam setiap 100 gram terung segar, terkandung energi sekitar 24 kalori dengan kadar air mencapai 92,7 gram, yang menunjukkan bahwa terung termasuk sayuran rendah kalori dan bersifat menyegarkan.

Dari sisi kandungan gizi makro, terung mengandung protein sekitar 1,1 gram, lemak 0,2 gram, dan karbohidrat 5,5 gram per 100 gram bahan segar. Kandungan serat di dalamnya berperan dalam mendukung fungsi sistem pencernaan. 

Sementara itu, kandungan gizi mikro terung meliputi kalsium sekitar 15 miligram, fosfor 37 miligram, dan zat besi 0,4 miligram. Terung juga mengandung vitamin, antara lain vitamin A sebesar 4 SI, vitamin B1 (tiamin) sekitar 0,04 miligram, serta vitamin C sekitar 5 miligram.

Selain zat gizi tersebut, terung mengandung kalium dalam jumlah relatif tinggi dan natrium dalam kadar rendah, yang berperan dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh. 

Terung juga mengandung berbagai senyawa bioaktif dan bahan kimia alami, antara lain senyawa fenolik, flavonoid, antosianin, steroid, alkaloid, glikosida, saponin, tanin, serta asam klorogenat. 

Senyawa antosianin, seperti nasunin yang terdapat pada kulit terung berwarna ungu, dikenal sebagai komponen antioksidan yang berperan dalam melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.

Budidaya

Terung (Solanum melongena L.) diperbanyak secara generatif melalui biji. Biji yang digunakan sebagai benih umumnya berasal dari buah yang telah tua dan sehat agar memiliki daya tumbuh yang baik. 

Perbanyakan dengan biji merupakan metode yang paling umum diterapkan dalam budidaya terung karena mudah dilakukan dan mampu menghasilkan tanaman dengan pertumbuhan yang seragam.

Sebelum disemai, benih terung terlebih dahulu diberi perlakuan untuk mempercepat proses perkecambahan. Benih direndam dalam air hangat selama sekitar 10 – 15 menit, kemudian dibungkus dengan kain basah dan dibiarkan selama kurang lebih 24 jam. 

Setelah itu, benih disemai di atas bedengan yang gembur dan lembap. Pada tahap penyemaian, bibit diberi naungan tipis untuk melindungi tanaman muda dari paparan sinar matahari langsung dan hujan deras.

Bibit terung siap dipindahkan ke lahan tanam setelah berumur sekitar 1,5 bulan atau ketika telah memiliki empat helai daun sejati. 

Penanaman dilakukan dengan meletakkan satu bibit pada setiap lubang tanam, dengan jarak tanam yang disesuaikan dengan varietas yang digunakan. 

Terung tumbuh baik pada lahan terbuka tanpa naungan, dengan kebutuhan cahaya matahari penuh sepanjang hari serta kondisi tanah yang subur dan memiliki drainase yang baik.

Pemanenan terung umumnya dilakukan pada umur sekitar 90 hari setelah semai. Panen dapat dilakukan secara bertahap dengan frekuensi sekitar satu kali setiap minggu, dan berlangsung sebanyak 6 – 7 kali selama masa produksi. 

Waktu panen yang dianjurkan adalah pada pagi atau sore hari untuk menjaga kesegaran dan kualitas buah serta menghindari kerusakan akibat suhu tinggi.

Varietas

Terung (Solanum melongena L.) memiliki keragaman varietas yang sangat luas, yang dibedakan berdasarkan bentuk buah, warna kulit, ukuran, serta karakter daging buahnya. Keragaman ini merupakan hasil dari proses domestikasi dan seleksi yang berlangsung lama di berbagai wilayah, sehingga menghasilkan varietas-varietas yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan konsumsi masyarakat setempat.

Salah satu varietas yang dikenal luas adalah terung putih (white eggplant). Varietas ini memiliki kulit berwarna putih bersih dengan bentuk buah bulat hingga memanjang dan ukuran relatif kecil. Tekstur daging buahnya lembut setelah dimasak dan sering dimanfaatkan dalam berbagai olahan berbumbu.

Terung telunjuk, yang juga dikenal sebagai terung Medan, memiliki bentuk buah panjang dan ramping menyerupai jari telunjuk. Kulit buahnya berwarna hijau dengan lurik putih di bagian bawah. Varietas ini umum digunakan sebagai bahan masakan tauco dan sebagai pelengkap berbagai hidangan.

Terung ungu merupakan varietas yang paling banyak dijumpai. Buahnya berkulit ungu tua mengilap dengan tekstur daging lembut. Varietas ini banyak dimanfaatkan dalam berbagai olahan masakan, seperti rebusan, panggangan, dan gorengan.

Varietas lain yang cukup dikenal adalah terung Jepang (Japanese eggplant), yang di Jepang disebut nasu. Buahnya berbentuk panjang dan ramping dengan kulit tebal berwarna ungu gelap serta daging buah yang lembut. Terung ini umum digunakan dalam masakan rebus, panggang, dan berbagai hidangan tradisional Jepang.

Terung hijau memiliki kulit berwarna hijau cerah dengan ukuran buah yang relatif lebih besar. Daging buahnya lembut, berair, dan memiliki biji berukuran kecil. Varietas ini banyak digunakan dalam masakan kukus, tumisan, dan sup tradisional.

Terung zebra memiliki ciri khas berupa pola garis-garis putih dan hijau pada kulit buahnya. Daging buahnya bertekstur renyah dan sering dimanfaatkan dalam olahan goreng atau panggang.

Terung India (brinjal) memiliki kulit berwarna ungu tua mengilap dengan ukuran sedang dan biji relatif besar. Varietas ini banyak digunakan dalam masakan khas Asia Selatan, seperti kari dan hidangan panggang.

Terung Siam atau terung lalapan merupakan varietas yang umum dijumpai di pasar tradisional Indonesia. Buahnya berbentuk bulat kecil dengan kulit tipis berwarna hijau muda dan sering dikonsumsi sebagai lalapan segar atau dimasak dalam tumisan dan sayur berbumbu ringan.

Selain itu, terdapat pula terung merah yang memiliki kulit berwarna merah cerah dengan ukuran buah lebih besar, serta terung kuning yang berukuran kecil dengan kulit berwarna kuning cerah. 

Varietas lokal lainnya adalah terung pipit atau rimbang, yang berbuah kecil, bulat, dan berkulit hijau, serta terung Dayak atau terung asam yang berkulit kuning cerah dan berbentuk bulat, banyak dijumpai di Kalimantan.

Varietas terung globe memiliki buah pendek, gemuk, dan berwarna ungu tua, sedangkan terung Italia memiliki bentuk dan warna yang mirip dengan terung globe namun berukuran lebih kecil. 

Khasiat dan Manfaat

Terung (Solanum melongena L.) merupakan bahan pangan yang banyak dimanfaatkan dalam bidang kuliner karena sifatnya yang serbaguna dan mudah diolah. Buah terung dapat dimasak dengan berbagai teknik, seperti digoreng, ditumis, direbus, dibakar, atau dipanggang. Baik kulit maupun daging buah terung dapat dikonsumsi, karena keduanya mengandung zat gizi dan senyawa bioaktif yang bermanfaat.

Dalam tradisi kuliner, terung berperan sebagai bahan pangan penting dalam berbagai masakan lokal dan internasional. Di Indonesia, terung digunakan dalam beragam hidangan, seperti terong balado, sayur lodeh, dan berbagai olahan tumis. 

Di tingkat internasional, terung menjadi bahan utama dalam hidangan khas Timur Tengah seperti baba ganoush, masakan Italia seperti eggplant parmesan, serta berbagai hidangan kari di kawasan Asia. 

Selain dimanfaatkan sebagai bahan pangan, terung juga dikenal memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan tubuh yang berkaitan dengan kandungan gizinya. Kandungan serat di dalam terung berperan dalam membantu menjaga fungsi sistem pencernaan. Mineral seperti kalium berperan dalam membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh dan tekanan darah.

Terung juga mengandung berbagai vitamin dan senyawa antioksidan, seperti antosianin dan nasunin, yang terdapat terutama pada kulit terung berwarna ungu. Senyawa-senyawa tersebut membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. 

Selain itu, kandungan zat gizi lain seperti kalsium, fosfor, dan zat besi mendukung fungsi fisiologis tubuh, sehingga terung dimanfaatkan sebagai bagian dari pola konsumsi sehari-hari.

Catatan Penggunaan

Meskipun jarang terjadi, konsumsi terung (Solanum melongena L.) pada kondisi tertentu dapat menimbulkan reaksi yang kurang diinginkan. 

Pada sebagian kecil individu, konsumsi terung dapat memicu reaksi alergi. Reaksi ini serupa dengan alergi makanan lainnya dan umumnya terjadi pada orang yang memiliki sensitivitas tinggi. 

Gejala yang dapat muncul meliputi rasa gatal pada bibir, lidah, atau tenggorokan, batuk, nyeri atau kram perut, muntah, serta diare. Dalam kasus tertentu, reaksi alergi terhadap terung dapat berkembang menjadi anafilaksis, yaitu reaksi alergi berat yang berpotensi mengancam jiwa. 

Terung termasuk dalam kelompok tanaman nightshade bersama tomat, kentang, dan paprika. Kelompok tanaman ini diketahui mengandung alkaloid, salah satunya solanin, yang bersifat toksik dalam jumlah tertentu. 

Senyawa solanin berfungsi sebagai mekanisme perlindungan alami tanaman pada fase pertumbuhan. Namun, kandungan solanin dalam terung tergolong rendah, sehingga relatif aman untuk dikonsumsi selama tidak berlebihan.

Konsumsi terung dalam jumlah besar berpotensi menghambat penyerapan zat besi dalam tubuh. Hal ini berkaitan dengan kandungan nasunin, yaitu senyawa fitokimia dalam terung yang dapat mengikat zat besi dan mengeluarkannya dari sel tubuh melalui proses yang dikenal sebagai kelasi besi. 

Mekanisme ini dapat bermanfaat bagi individu dengan kadar zat besi berlebih, tetapi pada orang dengan kadar zat besi rendah, kondisi tersebut dapat berdampak kurang menguntungkan.

Terung mengandung oksalat, meskipun kadarnya lebih rendah dibandingkan beberapa jenis buah dan sayuran lainnya. Pada individu yang memiliki kerentanan tertentu, oksalat dapat berkontribusi terhadap pembentukan batu ginjal. Apabila tidak ditangani, batu ginjal berpotensi menimbulkan gangguan fungsi ginjal yang serius.

Sumber:

Scroll to Top