Solanales

Solanales

Klasifikasi Ilmiah

Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Superdivisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Subkelas: Asteridae
Ordo: Solanales

Morfologi

Salah satu karakter anatomi yang menonjol pada Solanales, khususnya dalam famili Solanaceae dan Convolvulaceae, adalah keberadaan floem intraksiler atau floem internal. Floem intraksiler merupakan untaian atau pita jaringan pengangkut tapis yang terletak di bagian dalam xilem sekunder atau di tepi empulur (medula). Secara ontogenetik, struktur ini berkembang dari derivatif prokambium setelah pembentukan protoxilem dan protofloem primer.

Pada spesies tertentu, seperti scarletcreeper (Ipomoea hederifolia L.), perkembangan kambium internal dapat menghasilkan berkas pengangkut terbalik, di mana xilem sekunder terbentuk secara sentrifugal dan floem sekunder secara sentripetal. Keberadaan floem internal tidak hanya memiliki nilai taksonomik, tetapi juga berfungsi sebagai saluran sekunder untuk translokasi fotosintat. Struktur ini berperan ketika floem eksternal mengalami gangguan akibat suhu ekstrem atau serangan serangga. Pada kentang (Solanum tuberosum L.), floem internal berperan dalam pengiriman sinyal tuberisasi yang memicu pembentukan umbi.

Habitus ordo Solanales menunjukkan variasi yang beragam, seperti herba semusim, semak, pohon kecil, hingga liana berkayu. Pada famili Solanaceae, habitus herba mendominasi, meskipun beberapa genus, seperti Cestrum, dapat tumbuh sebagai pohon kecil. Sebaliknya, famili Convolvulaceae umumnya didominasi oleh tumbuhan merambat yang membelit (twining), dengan batang yang sering memutar ke arah kanan (detrorse).

Daun pada ordo Solanales umumnya tersusun secara spiral atau berseling (alternate), bersifat sederhana, dan tidak memiliki stipula (ekstipulat). Pola tulang daun biasanya retikulat atau menyirip, sesuai dengan karakter eudikotil. Pada beberapa kelompok, daun dapat mengalami reduksi atau modifikasi, termasuk perubahan menjadi struktur menyerupai duri.

Bunga ordo Solanales umumnya bersifat pentamerous atau berkelipatan lima dan bersifat biseksual. Kelopak dan mahkota biasanya menyatu (gamosepalous dan gamopetalous), membentuk struktur bunga yang khas. Bentuk mahkota bervariasi, antara lain berbentuk corong (infundibuliform), lonceng (campanulate), atau rotat.

Simetri bunga dalam ordo ini menunjukkan variasi evolusioner yang kompleks. Meskipun banyak spesies memiliki bunga aktinomorfik atau bersimetri radial, sejumlah klad basal dalam Solanaceae menunjukkan bunga zigomorfik atau bersimetri bilateral, seperti pada subfamili Schizanthoideae dan ordo Salpiglossis. Transisi antara simetri radial dan bilateral terjadi secara berulang dan berkaitan dengan spesialisasi terhadap kelompok penyerbuk tertentu, termasuk lebah, ngengat, dan burung.

Ordo Solanales dikenal menghasilkan berbagai metabolit sekunder yang digunakan sebagai pertahanan terhadap herbivora. Alkaloid tropan merupakan turunan ornitin yang melimpah dalam famili Solanaceae. Senyawa seperto atropin dan hiosiamin, yang ditemukan pada belladona (Atropa belladonna L.) dan black henbane (Hyoscyamus niger L.), serta skopolamin (hiosin) yang umum pada genus Datura dan Brugmansia. Senyawa-senyawa ini bekerja dengan menghambat reseptor asetilkolin muskarinik dan dimanfaatkan dalam bidang medis, termasuk untuk pengobatan bradikardia, dilatasi pupil, dan pencegahan mabuk perjalanan.

Nikotin merupakan alkaloid piridin yang diproduksi dalam jumlah besar oleh genus Nicotiana. Senyawa ini disintesis di akar dan diangkut ke daun, serta berfungsi sebagai insektisida neurotoksik yang kuat. Selain dimanfaatkan dalam industri tembakau, nikotin juga menjadi objek penelitian dalam studi farmakologi reseptor nikotinik.

Genus Capsicum menghasilkan capsaicin, suatu amida alkaloid yang menimbulkan sensasi pedas melalui aktivasi reseptor vanilloid (TRPV1). Secara ekologis, senyawa ini mencegah mamalia memakan buah, sementara burung yang tidak peka terhadap capsaicin tetap dapat menyebarkan bijinya.

Pada genus Solanum, ditemukan glikoalkaloid steroid seperti solanin dan cakonin. Senyawa ini dapat bersifat toksik dalam konsentrasi tinggi dan terakumulasi pada bagian hijau tanaman, terutama umbi yang terpapar cahaya. Beberapa glikoalkaloid, seperti solasodin, dimanfaatkan sebagai prekursor dalam sintesis hormon steroid medis.

Dari pusat asal tersebut, terjadi beberapa gelombang migrasi. Penyebaran ke Amerika Utara kemungkinan berlangsung melalui jembatan darat Amerika Tengah atau melalui dispersal melintasi laut pada periode Tersier. Penyebaran ke Dunia Lama, termasuk Afrika, Eurasia, dan Australia, diperkirakan terjadi melalui penyebaran jarak jauh melintasi samudra, mengingat usia famili ini yang relatif lebih muda dibandingkan peristiwa pemisahan Gondwana.

Beberapa genus menunjukkan pola distribusi disjungtif. Genus Lycium memiliki sebaran yang terpisah antara Amerika dan Afrika/Eurasia. Demikian pula, genus Nicotiana memiliki spesies asli yang tersebar di Amerika dan Australia.

Berbeda dengan famili besar yang persebarannya luas, beberapa famili minor dalam ordo Solanales menunjukkan pola sebaran yang lebih terbatas. Famili Montiniaceae terdistribusi di Afrika Timur dan Barat Daya serta Madagaskar.

Famili Sphenocleaceae, meskipun kini ditemukan di berbagai wilayah tropis dunia, dianggap berasal dari daerah tropis Dunia Lama, khususnya Afrika dan Asia. Penyebarannya ke Amerika dilaporkan terjadi sebagai kontaminan dalam budidaya padi dalam kurun waktu sekitar 150 tahun terakhir.

Pola sebaran ordo Solanales dipengaruhi oleh kombinasi peristiwa vikarians dan penyebaran jarak jauh (long-distance dispersal). Vikarians berkaitan dengan pemisahan wilayah akibat perubahan geologi, sedangkan penyebaran jarak jauh melibatkan perpindahan melintasi hambatan geografis seperti samudra.

Scroll to Top