Singkong (Manihot esculenta Crantz) merupakan tanaman perdu tropis yang termasuk dalam famili Euphorbiaceae. Tanaman ini dikenal karena umbinya yang kaya akan karbohidrat yang menjadi salah satu sumber pangan di berbagai negara tropis.
Secara botani, singkong berasal dari wilayah tropis kering Amerika Selatan, terutama dari daerah Brasil dan sekitarnya, sebelum kemudian menyebar luas ke berbagai daerah tropis dunia, termasuk Asia Tenggara dan Indonesia. Di Indonesia, tanaman ini telah beradaptasi baik pada berbagai kondisi agroklimat dan menjadi salah satu komoditas penting di sektor pertanian rakyat.
Dalam masyarakat Nusantara, singkong memiliki banyak sebutan daerah, antara lain ubi kayu, ketela pohon, pohung (Jawa), sampeu (Sunda), dan ubai (Maluku). Keragaman penyebutan ini mencerminkan luasnya distribusi dan peran singkong dalam budaya pangan lokal.
Secara ilmiah, tanaman ini pertama kali dideskripsikan dan diberi nama oleh Heinrich Johann Nepomuk von Crantz pada tahun 1766, sehingga nama ilmiahnya ditetapkan sebagai Manihot esculenta Crantz.
Klasifikasi Ilmiah
Singkong (Manihot esculenta Crantz) termasuk dalam famili Euphorbiaceae, yakni famili yang juga mencakup berbagai spesies penghasil getah dan tanaman tropis lainnya. Klasifikasi ilmiahnya dapat disajikan sebagai berikut:
- Kingdom: Plantae
- Subkingdom: Tracheobionta
- Superdivisi: Spermatophyta
- Divisi: Magnoliophyta
- Kelas: Magnoliopsida
- Subkelas: Rosidae
- Ordo: Euphorbiales
- Famili: Euphorbiaceae
- Genus: Manihot
- Spesies: Manihot esculenta Crantz
Tanaman ini merupakan satu-satunya anggota genus Manihot yang dibudidayakan secara luas untuk diambil umbinya sebagai sumber karbohidrat pangan.
Sebaran dan Habitat
Singkong (Manihot esculenta Crantz) berasal dari wilayah Amerika Selatan bagian tropis, terutama dari kawasan yang kini dikenal sebagai Brasil dan Paraguay. Di daerah ini, varietas sinkong liar secara alami didomestikasi yang menjadi tanaman budidaya.
Bukti arkeologis menunjukkan bahwa budidaya singkong telah dilakukan oleh peradaban Maya di wilayah Meksiko dan El Salvador sejak ribuan tahun lalu. Tanaman ini menjadi salah satu sumber makanan pokok masyarakat pra-Kolumbus bersama jagung dan ubi-ubian lainnya.
Penyebaran singkong ke luar benua Amerika dimulai pada abad ke-16, ketika bangsa Portugis membawa tanaman ini ke kawasan Afrika dan Asia Tenggara melalui jalur perdagangan rempah. Di wilayah Nusantara, singkong diperkenalkan sekitar abad ke-16 melalui Kepulauan Maluku, kemudian menyebar ke berbagai daerah di Indonesia.
Pada abad ke-19, budidaya singkong berkembang pesat di Pulau Jawa, terutama sebagai tanaman pangan alternatif di lahan kering. Selama masa kolonial Belanda, singkong menjadi salah satu komoditas penting dalam sistem pertanian rakyat karena mudah ditanam dan tahan terhadap kekeringan.
Setelah masa kemerdekaan, singkong berfungsi sebagai bahan pangan utama pengganti beras pada masa-masa krisis pangan, sekaligus menjadi bahan baku industri pangan dan nonpangan seperti tapioka, pakan ternak, serta bioetanol.
Singkong merupakan spesies yang beradaptasi baik di wilayah tropis dan subtropis, terutama pada lingkungan dengan suhu dan intensitas cahaya tinggi.
Pertumbuhan optimal dicapai pada suhu udara 25 – 32 °C, dengan curah hujan tahunan antara 760 – 1.015 mm. Singkong dapat tumbuh dari ketinggian 10 – 700 mdpl, namun hasil terbaik biasanya diperoleh pada daerah dataran rendah dengan sirkulasi udara dan cahaya matahari yang cukup.
Jenis tanah yang ideal bagi singkong adalah tanah lempung liat berpasir yang gembur, memiliki drainase baik, dan pH tanah berkisar antara 5,5 – 6,5, meskipun tanaman ini masih toleran terhadap kisaran pH lebih luas, yaitu 4,5 – 8,0.
Singkong dikenal tahan terhadap kekeringan berkat sistem perakarannya yang dalam dan efisien dalam menyerap air, namun tidak tahan terhadap genangan air yang dapat menyebabkan pembusukan akar dan umbi. Selain itu, tanaman ini memerlukan paparan sinar matahari penuh sepanjang hari untuk menunjang pembentukan umbi secara optimal.
Morfologi
Singkong (Manihot esculenta Crantz) merupakan perdu tahunan dengan tinggi mencapai sekitar 2 – 3 meter, memiliki struktur morfologi khas yang mendukung pertumbuhannya di lingkungan tropis kering.
Batang singkong bersifat berkayu dan beruas-ruas, dengan warna bervariasi dari hijau muda hingga kecokelatan tergantung pada varietas dan umur tanaman. Batang ini berfungsi sebagai tempat cadangan air dan bahan vegetatif untuk perbanyakan melalui stek.
Daun singkong tersusun secara spiral dan memiliki bentuk menjari, terdiri atas 5 hingga 9 helai anak daun yang masing-masing berbentuk lanset atau lonjong dengan ujung meruncing. Warna daun umumnya hijau tua, sedangkan daun muda cenderung lebih pucat dan mengandung senyawa sianogenik (penghasil asam sianida) dalam kadar yang bervariasi antar varietas.
Bunga singkong termasuk berumah satu (monoecious), artinya bunga jantan dan bunga betina terdapat pada satu tanaman namun pada tangkai yang berbeda. Bunga jantan berukuran lebih kecil dan tersusun dalam rangkaian panjang di bagian atas, sedangkan bunga betina umumnya muncul lebih dahulu di bagian bawah tangkai.
Umbi singkong merupakan akar termodifikasi yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan, terutama dalam bentuk pati (karbohidrat). Umbi berbentuk silindris memanjang, memiliki kulit luar berwarna cokelat muda hingga tua, dan daging berwarna putih, krem, atau kekuningan tergantung varietasnya. Bagian inilah yang paling banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan maupun bahan baku industri.
Varietas
Singkong (Manihot esculenta Crantz) memiliki banyak varietas yang dikembangkan untuk tujuan berbeda, baik sebagai bahan pangan maupun bahan baku industri. Setiap varietas memiliki karakteristik khusus dalam hal produktivitas, kadar pati, dan kandungan senyawa sianida (HCN).
Varietas untuk pangan
Varietas singkong yang dikembangkan untuk konsumsi langsung umumnya memiliki rasa tidak pahit dan kadar sianida rendah. Beberapa varietas unggul yang banyak dibudidayakan di Indonesia untuk pangan antara lain:
- N1 Mekarmanik
- Adira 1
- Malang 1
- Malang 2
- Darul Hidayah
Varietas-varietas ini dikenal menghasilkan umbi yang empuk dan pulen setelah dimasak, sehingga banyak digunakan sebagai bahan pangan olahan seperti singkong rebus, getuk, atau tape.
Varietas untuk industri
Varietas singkong industri memiliki kadar pati tinggi dan rendemen bahan kering besar, menjadikannya ideal untuk pengolahan menjadi tepung tapioka, etanol, dan produk turunan lainnya. Beberapa varietas unggul untuk keperluan industri di Indonesia meliputi:
- N1 Mekarmanik
- Adira 2
- Adira 4
- Malang 4
- Malang 6
- UJ 3
- UJ 5
Ciri-ciri varietas berdasarkan tujuan penggunaan
Varietas pangan umumnya memiliki umbi pulen, rasa manis atau netral, dan kadar asam sianida (HCN) kurang dari 50 mg/kg, sehingga aman dikonsumsi setelah dimasak.
Varietas industri memiliki kadar pati tinggi dengan bahan kering sekitar 0,6 g/kg, serta produktivitas umbi lebih besar, meskipun tidak cocok untuk konsumsi langsung karena rasa yang pahit akibat kandungan HCN lebih tinggi.
Budidaya
Singkong (Manihot esculenta Crantz) dibudidayakan secara luas karena kemampuannya tumbuh baik pada lahan kering dengan perawatan minimal. Proses budidayanya meliputi tahapan perbanyakan, pra-perkecambahan, penanaman, pemeliharaan, dan panen.
Tahapan tumbuh
Pertumbuhan tanaman singkong berlangsung melalui beberapa fase perkembangan yang saling berkesinambungan, dimulai sejak penanaman hingga masa dormansi. Setiap fase memiliki ciri fisiologis dan morfologis yang berbeda sebagai penentu keberhasilan pembentukan umbi.
Fase awal (5 – 15 hari setelah tanam)
Pada tahap ini terjadi pembentukan akar adventif dari stek batang yang ditanam, diikuti oleh munculnya tunas dan daun muda. Aktivitas metabolik difokuskan pada penyesuaian jaringan terhadap lingkungan baru dan pembentukan sistem perakaran awal.
Fase vegetatif (15 – 90 hari)
Fase ini ditandai oleh pertumbuhan aktif batang, daun, dan akar serabut. Daun yang terbentuk akan meningkatkan kapasitas fotosintesis tanaman, sementara akar serabut berfungsi dalam penyerapan air dan unsur hara dari tanah.
Fase fotosintesis maksimum (3 – 6 bulan)
Pada periode ini, aktivitas fotosintesis mencapai tingkat tertinggi, ditandai dengan pertumbuhan batang dan daun yang pesat. Energi hasil fotosintesis mulai dialokasikan untuk pembentukan jaringan penyimpan pati di akar.
Fase pembentukan umbi (6 – 9 bulan)
Tahap ini merupakan masa translokasi karbohidrat dari bagian vegetatif ke akar, yang kemudian berkembang menjadi umbi penyimpan cadangan makanan. Faktor lingkungan seperti ketersediaan air dan cahaya sangat berpengaruh terhadap ukuran serta kualitas umbi.
Fase dormansi (9 – 10 bulan)
Pada fase akhir ini, tanaman mengalami pengguguran daun dan penghentian pertumbuhan vegetatif. Aktivitas fisiologis menurun, dan umbi mencapai tingkat kematangan penuh. Fase ini biasanya menjadi waktu yang tepat untuk panen.
Perbanyakan
Perbanyakan singkong dilakukan secara vegetatif menggunakan stek batang dari tanaman induk yang sehat dan berumur minimal 10 bulan. Stek dipotong sepanjang ±20 cm dengan 1 – 2 ruas mata tunas. Sebelum ditanam, stek dapat direndam dalam larutan fungisida untuk mencegah serangan jamur dan mempercepat pertumbuhan akar.
Pra-perkecambahan
Tahap pra-perkecambahan bertujuan untuk mempercepat pembentukan tunas dan akar. Stek dapat diletakkan pada bedengan atau polybag berisi tanah gembur dan dijaga pada kondisi teduh sebagian agar kelembapan tetap stabil. Dalam waktu 7 – 10 hari, biasanya sudah muncul tunas dan akar baru yang menandakan keberhasilan pra-perkecambahan.
Penanaman
Bibit hasil pra-perkecambahan dipindahkan ke lahan setelah berumur 4 – 6 minggu. Jarak tanam yang umum digunakan adalah 75 – 100 cm antar tanaman dan 1 – 1,5 m antar baris, tergantung varietas dan kesuburan tanah. Sebagai dasar pemupukan, digunakan pupuk kandang atau pupuk organik untuk meningkatkan struktur tanah dan menyediakan unsur hara awal.
Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman meliputi pengendalian gulma, penyiraman teratur terutama pada fase awal pertumbuhan, serta pemupukan susulan sesuai kebutuhan tanaman. Pemeliharaan yang baik membantu pembentukan umbi yang seragam dan berkualitas tinggi.
Panen
Waktu panen singkong bervariasi menurut varietas, umumnya dilakukan pada umur 9 – 12 bulan setelah tanam. Panen dilakukan dengan menggali tanah secara hati-hati untuk menghindari kerusakan pada umbi. Setelah dicabut, umbi segera dipisahkan dari batang untuk mencegah kehilangan kadar air dan mutu gizi.
Kandungan Nutrisi
Singkong (Manihot esculenta Crantz) memiliki nilai gizi yang cukup tinggi, terutama sebagai sumber energi dari karbohidrat. Selain umbinya yang kaya pati, daun singkong juga merupakan sumber protein nabati, vitamin, dan mineral penting bagi tubuh.
Umbi singkong (per 100 gram bahan segar)
Umbi singkong mengandung komponen gizi utama berupa karbohidrat dengan kadar air yang cukup tinggi. Kandungan gizinya sebagai berikut:
- Kalori: 121 kkal
- Air: 62,5 g
- Karbohidrat: 34 g
- Protein: 1,2 g
- Lemak: 0,3 g
- Fosfor (P): 40 mg
- Kalsium (Ca): 33 mg
- Besi (Fe): 0,7 mg
- Vitamin C: 30 mg
- Vitamin B1 (Tiamin): 0,01 mg
Umbi singkong merupakan sumber energi yang baik, namun rendah protein dan lemak. Karena itu, konsumsi singkong biasanya dikombinasikan dengan bahan pangan lain yang mengandung protein hewani atau nabati untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbang.
Daun singkong (per 100 gram bahan segar)
Daun singkong memiliki nilai gizi yang lebih tinggi dibanding umbinya, terutama pada kandungan protein, mineral, dan vitamin. Komposisi gizinya meliputi:
- Protein: 6,8 g
- Kalsium (Ca): 165 mg
- Fosfor (P): 54 mg
- Besi (Fe): 2 mg
- Vitamin A: 11.000 IU
- Vitamin C: 275 mg
Daun singkong dikenal sebagai sumber protein nabati, vitamin A, dan vitamin C yang berfungsi untuk menjaga kesehatan mata, sistem imun, serta proses regenerasi sel tubuh. Dengan kandungan nutrisinya yang lengkap, daun singkong sering dijadikan sayuran tradisional di berbagai daerah di Indonesia.
Khasiat dan Manfaat
Singkong (Manihot esculenta Crantz) merupakan sumber pangan yang tidak hanya kaya energi, tetapi juga memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan. Kandungan karbohidrat kompleks, vitamin, dan mineral di dalamnya menjadikan singkong sebagai bahan makanan yang bergizi dan multifungsi.
Sumber energi tinggi
Singkong mengandung karbohidrat dalam jumlah tinggi, terutama dalam bentuk pati, sehingga menjadi sumber energi utama bagi tubuh. Oleh karena itu, singkong sering dijadikan makanan pokok di berbagai daerah tropis.
Menstabilkan gula darah
Kandungan pati resisten dan serat pada singkong membantu memperlambat penyerapan glukosa dalam darah, sehingga bermanfaat bagi penderita diabetes. Selain itu, kadar kalium yang tinggi membantu menjaga keseimbangan tekanan darah dan fungsi jantung.
Kaya mineral esensial
Singkong mengandung berbagai mineral penting seperti kalsium, fosfor, mangan, besi, dan kalium yang berperan dalam menjaga kesehatan tulang, metabolisme energi, serta pembentukan sel darah merah.
Mengandung antioksidan alami
Vitamin C, vitamin A, dan beta-karoten dalam singkong berfungsi sebagai antioksidan yang melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Senyawa ini juga membantu menjaga kesehatan kulit dan memperkuat sistem imun.
Meningkatkan fungsi otak
Asupan karbohidrat kompleks dari singkong dapat mendukung kinerja otak dengan menyediakan suplai energi yang stabil. Kandungan vitamin B-kompleks juga berperan dalam fungsi saraf dan konsentrasi.
Menurunkan kolesterol jahat (LDL)
Kandungan serat dan senyawa fitokimia dalam singkong dapat membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) serta meningkatkan kolesterol baik (HDL), sehingga mendukung kesehatan jantung.
Mendukung program diet sehat
Singkong mengandung serat tinggi dan pati resisten yang memberikan rasa kenyang lebih lama serta membantu mengontrol berat badan. Olahan singkong tanpa tambahan gula atau minyak dapat menjadi alternatif makanan sehat.
Meningkatkan sistem imun dan kesehatan kulit
Kandungan vitamin C yang tinggi membantu meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi, mempercepat penyembuhan luka, dan merangsang produksi kolagen untuk menjaga elastisitas kulit.
Catatan Konsumsi
Singkong (Manihot esculenta Crantz) aman dikonsumsi apabila telah melalui proses pengolahan yang tepat untuk menghilangkan kandungan racun alaminya. Umbi ini dapat dijadikan makanan pokok, camilan, atau bahan baku olahan industri pangan. Namun, konsumsi perlu dibatasi, terutama bagi ibu hamil dan menyusui, guna mencegah paparan zat beracun dalam jumlah berlebih.
Efek samping
Singkong mengandung glikosida sianogenik, senyawa yang dapat melepaskan sianida (HCN) ketika diurai dalam tubuh. Konsumsi singkong mentah atau kurang matang berisiko menyebabkan keracunan sianida dengan gejala seperti mual, pusing, dan gangguan pernapasan.
Konsumsi berlebihan dalam jangka panjang juga dapat menurunkan kadar yodium dalam tubuh, sehingga meningkatkan risiko gangguan tiroid seperti gondok endemik. Oleh karena itu, pengolahan yang benar sangat penting untuk menjaga keamanan pangan.
Cara pengolahan yang aman
- Kupas kulit luar singkong hingga bersih untuk mengurangi kandungan senyawa sianogenik yang sebagian besar terdapat pada lapisan kulit.
- Rendam potongan umbi dalam air bersih selama 48 – 60 jam untuk menurunkan kadar HCN melalui proses fermentasi alami.
- Masak singkong hingga benar-benar matang dengan cara merebus, mengukus, atau menggoreng selama minimal 25 menit. Proses pemanasan membantu menguraikan dan menguapkan sisa sianida yang masih tersisa.
Dengan penerapan langkah-langkah tersebut, singkong dapat dikonsumsi secara aman sebagai sumber pangan bergizi dan terjangkau.
Sumber:
- “SINGKONG Manihot esculenta Crantz” plantamor.com (Diakses pada 11 November 2025)
- “Manihot esculenta” www.iplantz.com (Diakses pada 11 November 2025)
- “Manioc (Manihot esculenta )” lakpura.com (Diakses pada 11 November 2025)
- “Cassava (manioc)” plantvillage.psu.edu (Diakses pada 11 November 2025)
- “4 Manfaat Singkong bagi Kesehatan dan Cara Tepat Mengolahnya” www.alodokter.com (Diakses pada 11 November 2025)
- “10 Manfaat Singkong, Sumber Karbohidrat Menyehatkan” hellosehat.com (Diakses pada 11 November 2025)
- “7 Manfaat Singkong untuk Wajah yang Lebih Sehat” www.halodoc.com (Diakses pada 11 November 2025)



