Serai wangi atau sereh wangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) merupakan tumbuhan menahun yang termasuk dalam famili Poaceae (suku rumput-rumputan). Tumbuhan ini dikenal dengan nama ilmiah Cymbopogon nardus dan berasal dari bioma beriklim tropis.
Tanaman serai wangi dikenal karena kandungan minyak atsirinya yang menghasilkan aroma khas, dan telah lama dimanfaatkan dalam berbagai bidang, mulai dari pengobatan tradisional hingga industri pengharum. Di berbagai daerah tropis, terutama di Asia, tanaman ini digunakan sebagai bahan alami untuk menjaga kebugaran tubuh dan mengusir serangga.
Klasifikasi Ilmiah
Serai wangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) termasuk dalam kelompok tumbuhan berbiji (Spermatophyta). Berdasarkan sistem taksonomi botani, posisi taksonomis tanaman ini adalah sebagai berikut:
- Kingdom: Plantae
- Subkingdom: Tracheobionta
- Superdivisi: Spermatophyta
- Divisi: Magnoliophyta
- Kelas: Equisetopsida
- Subkelas: Commelinidae
- Ordo: Poales
- Famili: Poaceae
- Genus: Cymbopogon
- Spesies: Cymbopogon nardus (L.) Rendle
Nama ilmiah lengkap tumbuhan ini adalah Cymbopogon nardus (L.) Rendle, yang dipublikasikan pertama kali oleh Alfred Barton Rendle pada tahun 1899.
Tanaman ini dikenal dengan nama umum serai wangi atau sereh wangi, dan termasuk dalam kelompok tumbuhan penghasil minyak atsiri beraroma kuat.
Sebaran dan Habitat
Serai wangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) berasal dari kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara, wilayah yang memiliki iklim tropis lembap dengan curah hujan tinggi sepanjang tahun. Tumbuhan ini tumbuh alami di berbagai daerah Asia tropis dan telah lama dibudidayakan oleh masyarakat setempat karena manfaatnya.
Negara-negara utama yang menjadi pusat penyebaran dan budidaya serai wangi meliputi Indonesia, India, Sri Lanka, dan Malaysia. Dari kawasan ini, tanaman kemudian diperkenalkan ke berbagai negara tropis lainnya, baik di Asia maupun Afrika, untuk keperluan industri minyak atsiri.
Secara tradisional, masyarakat di wilayah asalnya telah memanfaatkan serai wangi untuk berbagai keperluan rumah tangga dan pengobatan alami. Daun dan batangnya digunakan sebagai bahan aromaterapi, penolak serangga, serta ramuan tradisional untuk mengatasi demam, nyeri otot, dan gangguan pencernaan. Selain itu, minyak atsiri yang diperoleh melalui proses penyulingan dikenal memiliki nilai ekonomi tinggi karena digunakan dalam industri parfum, kosmetik, dan farmasi.
Di Indonesia, serai wangi merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri unggulan yang banyak dibudidayakan di daerah beriklim tropis basah seperti Jawa Barat, Sumatera, dan Kalimantan. Potensi ekonomi tanaman ini cukup besar, terutama karena meningkatnya permintaan minyak serai wangi di pasar domestik maupun ekspor sebagai bahan alami pengharum dan pengusir serangga.
Agroekologi
Serai wangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) merupakan tanaman tropis yang tumbuh baik pada daerah beriklim hangat dengan paparan sinar matahari penuh. Tanaman ini memerlukan kondisi lingkungan tertentu agar pertumbuhannya optimal dan kandungan minyak atsirinya tinggi.
Kondisi lingkungan tumbuh ideal bagi serai wangi berada pada kisaran suhu 25 – 30°C dengan curah hujan tahunan antara 1.000 – 2.500 mm. Tanaman ini dapat tumbuh pada ketinggian 0 – 1.200 mdpl, meskipun produksi minyak atsiri tertinggi umumnya diperoleh pada daerah dataran menengah dengan sirkulasi udara baik dan intensitas cahaya tinggi.
Serai wangi menyukai tanah gembur, subur, dan kaya bahan organik, dengan pH tanah antara 5,5 – 7,0. Jenis tanah seperti latosol, andosol, dan aluvial dinilai paling sesuai untuk pertumbuhannya. Tanah dengan drainase baik sangat penting untuk mencegah genangan air yang dapat menghambat perkembangan akar dan menurunkan produktivitas tanaman.
Tanaman ini tahan terhadap iklim panas dan kering dalam periode tertentu, namun pertumbuhannya akan terganggu jika kekurangan air dalam jangka panjang atau terkena suhu rendah di bawah 15°C. Daun yang terpapar suhu dingin berlebih cenderung mengalami penurunan produksi minyak atsiri.
Faktor lingkungan seperti intensitas cahaya, suhu udara, curah hujan, dan kesuburan tanah memiliki pengaruh langsung terhadap kadar dan kualitas minyak atsiri yang dihasilkan. Kondisi tanah yang kaya unsur hara serta penyinaran optimal akan meningkatkan akumulasi komponen utama minyak seperti sitronelal, geraniol, dan sitronelol, yang menentukan aroma serta mutu minyak serai wangi.
Morfologi
Serai wangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) merupakan tumbuhan rumput-rumputan menahun yang tumbuh berumpun padat dengan tinggi mencapai 1 – 2 meter. Seluruh bagian tanaman mengeluarkan aroma khas yang kuat akibat kandungan minyak atsiri yang tersimpan dalam jaringan daunnya.
Sistem akar serai wangi termasuk akar serabut yang menyebar ke segala arah di lapisan tanah bagian atas. Akar-akar ini berfungsi memperkokoh rumpun tanaman sekaligus membantu penyerapan air dan unsur hara secara efisien.
Batang tanaman berupa batang semu yang terbentuk dari tumpukan pelepah daun. Batangnya berwarna hijau muda hingga kehijauan, berbentuk silindris, dan tumbuh tegak. Bagian pangkal batang sering kali berwarna agak kemerahan dan membentuk rumpun yang rapat.
Daun berbentuk pita panjang, sempit, dan meruncing di ujung, dengan panjang dapat mencapai 1 meter dan lebar sekitar 1,5 – 2 cm. Permukaan daun terasa kasar, tepi bergerigi halus, dan berwarna hijau keabu-abuan. Daun serai wangi mengandung banyak kelenjar minyak atsiri yang tersebar di jaringan epidermis dan parenkim daun, terutama pada bagian permukaan bawah.
Bunga serai wangi tersusun dalam malai panjang (panicula) dengan anak tangkai berbulu halus. Warna bunga bervariasi antara putih kekuningan hingga kehijauan, dan penyerbukan umumnya dilakukan oleh angin (anemofili). Walaupun tanaman ini mampu berbunga, perbanyakan lebih sering dilakukan secara vegetatif menggunakan anakan karena bijinya jarang menghasilkan kecambah yang baik.
Ciri khas morfologi yang membedakan Cymbopogon nardus dari jenis serai dapur (Cymbopogon citratus) adalah aroma daun yang lebih tajam dan cenderung menyengat, serta tekstur daun yang lebih kasar. Selain itu, batang serai wangi tidak menebal di pangkal seperti pada serai dapur, dan warna daun cenderung lebih gelap.
Budidaya
Budidaya serai wangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) tergolong mudah dan dapat dilakukan di berbagai jenis lahan beriklim tropis. Tanaman ini mampu tumbuh sepanjang tahun apabila mendapatkan cahaya matahari penuh dan pengelolaan lahan yang baik.
Perbanyakan
Perbanyakan serai wangi dilakukan secara vegetatif, yaitu dengan memisahkan anakan atau rumpun dari tanaman induk yang sudah berumur 6 – 8 bulan. Setiap anakan dipilih yang memiliki akar serabut kuat dan daun sehat, kemudian dipotong sebagian daunnya untuk mengurangi penguapan. Cara perbanyakan melalui tunas anakan lebih disukai karena menghasilkan tanaman baru yang memiliki sifat genetik dan produktivitas sama dengan induknya.
Persiapan Lahan dan Media Tanam
Lahan yang akan digunakan perlu dibersihkan dari gulma dan sisa tanaman lain, kemudian dilakukan pembajakan dan penggemburan tanah hingga kedalaman sekitar 30 cm. Untuk meningkatkan kesuburan, tanah dicampur dengan pupuk kandang atau kompos sebanyak 10 – 20 ton per hektar.
Jarak tanam yang ideal adalah 60 × 60 cm atau 70 × 70 cm, tergantung pada kesuburan lahan. Lubang tanam dibuat dengan kedalaman sekitar 10 – 15 cm, kemudian anakan serai ditanam dengan posisi tegak dan padat.
Waktu Tanam dan Pemeliharaan
Waktu tanam terbaik adalah pada awal musim hujan, sehingga tanaman memperoleh cukup kelembapan untuk pertumbuhan awal. Setelah tanam, dilakukan penyiraman rutin hingga tanaman berakar kuat.
Pemeliharaan meliputi penyiangan gulma setiap 1 – 2 bulan, pembumbunan tanah di sekitar rumpun, dan pemupukan susulan menggunakan pupuk NPK atau pupuk organik cair untuk merangsang pertumbuhan daun. Pemberian pupuk dilakukan setiap 2 – 3 bulan sekali agar tanaman tetap subur dan produktif.
Panen
Serai wangi dapat dipanen pertama kali pada umur 4 – 8 bulan setelah tanam, tergantung kondisi pertumbuhan. Panen berikutnya dapat dilakukan setiap 3 – 4 bulan sekali.
Teknik panen dilakukan dengan memotong bagian daun sekitar 5 – 10 cm di atas permukaan tanah menggunakan sabit tajam. Daun hasil panen kemudian dijemur di tempat teduh selama beberapa jam sebelum disuling untuk memperoleh minyak atsiri.
Tips Budidaya untuk Hasil Minyak Atsiri Optimal
Untuk mendapatkan rendemen minyak atsiri yang tinggi dan berkualitas, diperlukan beberapa langkah penting, antara lain:
- Menanam di lokasi yang mendapatkan penyinaran matahari penuh sepanjang hari.
- Menggunakan bibit unggul dari rumpun produktif.
- Menjaga keseimbangan unsur hara tanah dengan pemupukan organik teratur.
- Melakukan panen pada pagi hari saat kandungan minyak daun berada pada kadar maksimum.
- Menghindari penyimpanan daun terlalu lama sebelum proses penyulingan agar kualitas minyak tetap baik.
Dengan pengelolaan budidaya yang tepat, produksi minyak serai wangi dapat mencapai hasil optimal, baik dari segi volume maupun kualitas aromanya.
Kandungan Nutrisi
Serai wangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) memiliki kandungan kimia di dalamnya yang memberikan aroma khas, serta memiliki berbagai aktivitas biologis yang bermanfaat bagi kesehatan maupun industri.
Kandungan Utama
Komponen utama yang terdapat dalam serai wangi adalah minyak atsiri, yang merupakan hasil metabolit sekunder dari jaringan daun dan batang. Kandungan minyak atsiri pada serai wangi berkisar antara 0,5 – 1,5% dari berat segar daun, tergantung pada kondisi tumbuh dan proses penyulingan. Senyawa utama penyusun minyak atsiri tersebut meliputi:
- Citronellal, memberikan aroma khas segar dan berfungsi sebagai bahan aktif pengusir serangga.
- Geraniol, berfungsi sebagai antibakteri alami dan memberikan aroma floral.
- Limonene, berfungsi memberikan aroma segar serta bersifat antimikroba dan antioksidan.
Komponen Kimia Pendukung
Selain komponen utama di atas, serai wangi juga mengandung berbagai senyawa pendukung yang memperkaya karakter aromatik dan efek terapeutiknya, antara lain:
- Eugenol
- Citronellol
- α-Cubebene
- Camphene
- Myrcene
- Sabinen
- Metileugenol
Kombinasi berbagai senyawa tersebut menghasilkan minyak atsiri dengan karakteristik kompleks dan stabil, yang banyak digunakan dalam industri parfum, kosmetik, aromaterapi, serta bahan baku pestisida alami.
Kandungan Vitamin dan Mineral
Selain mengandung minyak atsiri, serai wangi juga memiliki sejumlah nutrisi penting, terutama:
- Vitamin B kompleks (termasuk B1, B2, dan B6) yang memiliki manfaat dalam proses metabolisme energi dan fungsi saraf.
- Mineral mangan (Mn), zat besi (Fe), dan magnesium (Mg) yang penting untuk pembentukan enzim, sel darah merah, serta menjaga keseimbangan elektrolit tubuh.
Kandungan nutrisi ini menjadikan serai wangi tidak hanya bernilai farmakologis tetapi juga memiliki kontribusi terhadap kesehatan tubuh secara umum.
Khasiat dan Manfaat
Manfaat Medis dan Pengobatan Tradisional
Serai wangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) sejak lama dikenal sebagai tanaman obat tradisional yang digunakan dalam berbagai ramuan herbal masyarakat Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk di Indonesia.
Dalam pengobatan tradisional, tanaman ini dipercaya memiliki khasiat sebagai:
- Obat sinusitis dan gangguan pernapasan, dengan cara menghirup uap rebusan daun atau minyaknya untuk membantu melegakan saluran napas.
- Peluruh air seni (diuretik) dan peluruh keringat, yang membantu detoksifikasi tubuh melalui peningkatan pengeluaran cairan.
- Peluruh dahak (ekspektoran), berguna dalam meredakan batuk berdahak serta membersihkan saluran pernapasan.
- Obat kumur alami, digunakan untuk menjaga kebersihan mulut dan mengurangi bau tidak sedap.
- Penghangat tubuh dan obat masuk angin, biasanya melalui konsumsi air rebusan serai atau penggunaan minyak gosok berbahan dasar minyak atsiri serai wangi.
- Penambah nafsu makan, karena aroma segarnya dapat merangsang produksi enzim pencernaan.
Penggunaan serai wangi secara tradisional ini mencerminkan nilai etnobotani yang tinggi serta pengobatan alami masyarakat pedesaan.
Manfaat Berdasarkan Penelitian Modern
Berbagai studi ilmiah modern telah mengonfirmasi sejumlah manfaat serai wangi yang mendukung penggunaannya dalam bidang kesehatan dan farmasi. Beberapa manfaat medis yang telah dibuktikan antara lain:
- Pencegahan infeksi mulut dan gigi berlubang, kandungan antimikroba pada minyak atsiri serai efektif melawan Streptococcus mutans, bakteri penyebab utama gigi berlubang dan penyakit gusi.
- Meredakan diare dan tukak lambung, senyawa sitral dan geraniol membantu menghambat pertumbuhan Escherichia coli penyebab diare serta melindungi lapisan lambung dari kerusakan akibat konsumsi obat antiinflamasi seperti aspirin.
- Meredakan sakit kepala dan migrain, kandungan eugenol memiliki efek analgesik alami yang menyerupai aspirin, membantu mengurangi nyeri kepala dan ketegangan otot.
- Mengatasi infeksi jamur dan peradangan kulit, minyak serai bersifat antijamur dan antiinflamasi, efektif dalam mengatasi penyakit kulit seperti kurap, kutu air, serta infeksi akibat Candida.
- Menurunkan tekanan darah dan kolesterol, senyawa citronellal dan citral bermanfaat dalam menurunkan tekanan darah melalui mekanisme vasodilatasi, efek menenangkan sistem saraf, dan peningkatan ekskresi cairan tubuh.
- Mencegah penyumbatan jantung dan risiko kanker, kandungan antioksidan quercetin dan sitral mampu melawan radikal bebas, mengurangi peradangan, dan menghambat pertumbuhan sel kanker tertentu.
- Meredakan rheumatoid arthritis, penggunaan minyak esensial serai secara topikal terbukti dapat mengurangi peradangan dan rasa nyeri pada sendi setelah penggunaan rutin selama beberapa minggu.
- Mengurangi kecemasan dan stres, aromaterapi serai membantu menurunkan ketegangan saraf, memperbaiki suasana hati, serta mempercepat pemulihan dari kondisi stres.
- Mengatasi kram menstruasi, kandungan antiinflamasi alami pada serai membantu mengurangi nyeri perut dan kram akibat haid.
- Mengatasi ketombe dan menjaga kesehatan kulit kepala, penggunaan tonik rambut yang mengandung 5 – 15% minyak serai terbukti mampu mengurangi ketombe hingga lebih dari 80% dalam dua minggu, berkat aktivitas antimikroba dan antiradang.
Manfaat-manfaat tersebut menjadikan serai wangi sebagai bahan aktif potensial dalam industri farmasi, kosmetik, aromaterapi, dan produk perawatan pribadi.
Cara Pengolahan
Serai wangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) memiliki beragam cara pengolahan dan pemanfaatan, baik untuk keperluan kesehatan, kuliner, maupun aromaterapi. Setiap metode pengolahan ditujukan untuk memaksimalkan kandungan minyak atsiri dan senyawa bioaktif di dalamnya sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Sebagai Minuman Herbal
Serai wangi dapat diolah menjadi berbagai jenis minuman yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh.
Beberapa bentuk olahan umum antara lain:
- Teh Serai, Batang serai segar dipotong menjadi beberapa bagian, kemudian direbus selama 10 – 15 menit hingga aromanya keluar. Air rebusannya dapat diminum hangat, baik secara tunggal maupun dicampur dengan madu atau perasan lemon.
- Rebusan Serai, Digunakan sebagai minuman tradisional untuk menghangatkan tubuh, meredakan masuk angin, serta membantu melancarkan pencernaan.
- Minuman Detoks Serai, Campuran air rebusan serai dengan jahe dan madu dipercaya membantu proses detoksifikasi tubuh, meningkatkan daya tahan, serta memberikan efek relaksasi alami.
Minuman berbahan serai wangi sebaiknya dikonsumsi tidak lebih dari dua cangkir per hari untuk menghindari efek diuretik berlebih.
Sebagai Minyak Herbal
Minyak serai wangi dapat dibuat secara sederhana di rumah dengan cara ekstraksi menggunakan minyak pelarut alami. Langkah-langkahnya meliputi:
- Geprek batang serai segar hingga seratnya terbuka.
- Rendam dalam minyak kelapa, minyak zaitun, atau minyak almond selama beberapa hari dalam wadah tertutup rapat.
- Setelah itu, saring larutan untuk memperoleh minyak serai alami siap pakai.
Minyak ini dapat digunakan untuk pijat relaksasi, mengurangi nyeri otot, atau mengusir serangga secara alami. Penggunaannya harus diencerkan lebih lanjut sebelum dioleskan pada kulit untuk mencegah iritasi.
Sebagai Bumbu Masakan
Dalam dunia kuliner, serai wangi dikenal sebagai penambah aroma dan rasa khas pada berbagai masakan Asia.
Batang serai biasanya digeprek sebelum dimasukkan ke dalam masakan agar minyak atsirinya keluar. Pemanfaatan umumnya meliputi:
- Masakan kari dan gulai, untuk memberikan aroma segar dan menetralkan bau amis pada daging atau ikan.
- Sup dan tumisan, sebagai bahan penyedap alami.
- Sate atau olahan panggang, di mana batang serai dapat digunakan sebagai penambah aroma wangi saat dipanggang.
Selain menambah cita rasa, penggunaan serai juga berfungsi sebagai pengawet alami karena sifat antimikroba yang dimilikinya.
Sebagai Aromaterapi
Serai wangi banyak dimanfaatkan dalam aromaterapi karena kandungan minyak atsirinya yang tinggi. Beberapa cara penggunaannya antara lain:
Diffuser atau alat pengharum ruangan, dengan meneteskan beberapa tetes minyak serai untuk menciptakan suasana yang segar dan menenangkan.
Campuran minyak pijat relaksasi, untuk membantu mengurangi stres, meningkatkan sirkulasi darah, dan mengendurkan otot tegang.
Campuran air semprot alami, yang digunakan untuk menyegarkan udara dan mengusir serangga seperti nyamuk dan lalat.
Aroma serai wangi memberikan efek menenangkan (calming) sekaligus menyegarkan (refreshing), menjadikannya bahan populer dalam industri spa, parfum, dan terapi relaksasi modern.
Catatan Konsumsi
Serai wangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) umumnya aman dikonsumsi dalam jumlah sedang dan telah digunakan secara luas dalam bentuk minuman herbal, minyak esensial, serta aromaterapi. Namun, seperti halnya bahan alami lainnya, penggunaannya tetap memerlukan perhatian terhadap dosis dan cara pemakaian yang tepat untuk menghindari efek samping yang tidak diinginkan.
Anjuran Konsumsi Harian
Serai wangi dapat dikonsumsi dalam bentuk teh atau rebusan herbal, dengan dosis yang disarankan tidak melebihi 1 – 2 cangkir per hari. Rebusan ini biasanya dibuat dengan merebus beberapa batang serai segar selama 10 – 15 menit. Konsumsi berlebihan tidak dianjurkan karena dapat menimbulkan gangguan metabolik ringan maupun efek fisiologis yang tidak diinginkan.
Cara Aman Penggunaan Minyak Serai
Minyak esensial serai wangi tidak boleh digunakan langsung pada kulit tanpa pelarut, karena dapat menimbulkan iritasi atau reaksi alergi. Untuk pemakaian luar, minyak harus diencerkan terlebih dahulu dengan minyak pembawa seperti minyak kelapa, minyak zaitun, atau minyak jojoba dengan perbandingan aman sekitar 1:10.
Selain itu, minyak serai tidak disarankan untuk dioleskan pada kulit yang terluka atau sensitif, serta tidak boleh dihirup secara langsung. Sebagai aromaterapi, minyak sebaiknya diteteskan pada kain atau digunakan melalui diffuser untuk menghasilkan efek menenangkan dan menyegarkan.
Efek Samping Akibat Konsumsi Berlebihan
Meskipun termasuk bahan alami, konsumsi serai wangi dalam jumlah berlebihan dapat menyebabkan beberapa efek samping ringan, seperti:
- Pusing dan kelelahan, akibat efek diuretik berlebihan yang menyebabkan penurunan kadar cairan tubuh.
- Mulut kering dan peningkatan frekuensi buang air kecil.
- Iritasi kulit, terutama pada individu dengan kulit sensitif ketika menggunakan minyak atsiri tanpa pengenceran.
- Gangguan pencernaan ringan, seperti mual atau kembung pada sebagian orang.
Untuk mencegah efek samping tersebut, konsumsi atau pemakaian luar sebaiknya dilakukan secara bertahap dan sesuai takaran, serta disertai pengamatan terhadap reaksi tubuh.
Peringatan Penggunaan Khusus
Ibu hamil dan menyusui sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi atau menggunakan produk berbahan serai wangi, karena beberapa komponen minyak atsiri dapat memengaruhi kontraksi otot rahim.
Pengguna obat-obatan tertentu, seperti antihipertensi, diuretik, atau antikoagulan, disarankan berhati-hati karena serai wangi memiliki efek farmakologis yang dapat berinteraksi dengan obat tersebut.
Penderita alergi terhadap tanaman famili Poaceae perlu menghindari penggunaan serai wangi untuk mencegah reaksi hipersensitivitas.
Saran Konsultasi Medis
Meskipun memiliki berbagai manfaat, serai wangi tidak boleh dijadikan pengganti terapi medis utama. Penggunaannya sebagai pengobatan pendamping sebaiknya dilakukan setelah berkonsultasi dengan tenaga medis atau herbalis berpengalaman. Konsultasi ini penting untuk memastikan dosis, bentuk sediaan, dan interaksi dengan obat lain sesuai dengan kondisi kesehatan individu.
Sumber:
- “SERAI WANGI Cymbopogon nardus (L.) Rendle” plantamor.com (Diakses pada 15 Oktober 2025)
- “Sereh Wangi” www.socfindoconservation.co.id (Diakses pada 15 Oktober 2025)
- “11 Manfaat Sereh untuk Kesehatan” www.alodokter.com (Diakses pada 15 Oktober 2025)
- “Rutin Mengonsumsi Serai? Ini 12 Manfaat yang Bisa Didapat” ciputrahospital.com (Diakses pada 15 Oktober 2025)
- “7 Manfaat Minum Air Sereh Setiap Hari untuk Kesehatan Tubuh dan Kulit” www.biofarma.co.id (Diakses pada 15 Oktober 2025)
- “13 Manfaat Daun Sereh, Tak Hanya Bantu Mengusir Nyamuk” www.halodoc.com (Diakses pada 15 Oktober 2025)
- “Manfaat serai untuk kesehatan” hellosehat.com (Diakses pada 15 Oktober 2025)



