Rafflesia arnoldii R. Br. merupakan salah satu spesies tumbuhan dari familiĀ RafflesiaceaeĀ yang dikenal dengan sebutan bunga bangkai atau padma raksasa. Tumbuhan ini menjadi perhatian dunia karena menghasilkan bunga individu terbesar di dunia, dengan diameter yang dapat mencapai lebih dari satu meter dan bobot hingga sekitar 11 kilogram. Bunganya berwarna merah dengan tonjolan menyerupai kutil, serta mengeluarkan bau menyengat yang menyerupai daging busuk. Aroma ini berfungsi untuk menarik lalat bangkai sebagai penyerbuk alami.
Berbeda dengan kebanyakan tumbuhan, Rafflesia arnoldii tidak memiliki batang, daun, maupun akar, sehingga tidak dapat melakukan fotosintesis. Tumbuhan ini sepenuhnya bergantung pada tanaman inangnya, terutama dari genus Tetrastigma, untuk memperoleh nutrisi. Sifat parasit obligat tersebut menjadikannya organisme unik dengan strategi hidup yang sangat spesifik dalam ekosistem hutan hujan tropis.
Selain keunikannya, Rafflesia arnoldii memiliki nilai simbolis bagi Indonesia. Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1993 tentang Satwa dan Bunga Nasional, spesies ini ditetapkan sebagai Puspa Langka Nasional.Ā
Keberadaannya juga dilindungi melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.Ā
Klasifikasi Ilmiah
Rafflesia arnoldii termasuk dalam kelompok tumbuhan berbunga yang memiliki ciri khas unik, yaitu tidak memiliki batang, daun, maupun akar sejati. Secara taksonomi, tumbuhan ini ditempatkan dalam familiĀ Rafflesiaceae, dengan rincian klasifikasi sebagai berikut:
- Kingdom: Plantae
- Subkingdom: Tracheobionta
- Superdivisi: Spermatophyta
- Divisi: Magnoliophyta
- Kelas: Magnoliopsida
- Subkelas: Rosidae
- Ordo: Rafflesiales
- Famili:Ā Rafflesiaceae
- Genus: Rafflesia
- Spesies: Rafflesia arnoldii R. Br.
Kedudukan taksonomi ini menunjukkan bahwa Rafflesia arnoldii merupakan bagian dari tumbuhan berbunga tingkat tinggi, meskipun morfologinya sangat berbeda dibandingkan tumbuhan pada umumnya karena sifatnya yang parasit obligat.
Sejarah Penemuan
Rafflesia arnoldii pertama kali ditemukan pada tahun 1818 di hutan Sumatra oleh seorang pemandu lokal yang bekerja untuk Dr. Joseph Arnold. Saat itu, Arnold tengah mengikuti ekspedisi yang dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles.Ā
Penemuan tersebut kemudian diabadikan dengan pemberian nama ilmiah Rafflesia arnoldii R. Br., yang merupakan gabungan dari nama Raffles dan Arnold sebagai bentuk penghormatan terhadap keduanya.
Publikasi deskripsi ilmiah pertama dilakukan oleh Robert Brown pada tahun 1820. Sejak saat itu, Rafflesia arnoldii menjadi spesies pertama dari genus Rafflesia yang diakui secara ilmiah dan menjadi dasar pembentukan familiĀ Rafflesiaceae.
Menurut data dari KSDAE KLHK (2019), saat ini terdapat 33 spesies Rafflesia di dunia, dengan 14 di antaranya tumbuh di Indonesia, dan 11 jenis merupakan endemik Sumatra. Posisi Rafflesia arnoldii sebagai spesies pertama yang ditemukan menjadikannya sangat penting dalam kajian taksonomi dan sejarah botani.
MorfologiĀ
Rafflesia arnoldii dikenal sebagai salah satu bunga terbesar di dunia, dengan karakteristik morfologi dan biologi yang unik. Tumbuhan ini tidak memiliki batang, daun, maupun akar sejati, melainkan hanya terlihat melalui bunganya yang menonjol. Berikut uraian mengenai ciri-ciri morfologi dan biologi Rafflesia arnoldii:
Ukuran
BungaĀ Rafflesia arnoldiiĀ dapat mencapai diameter lebih dari 1 m (70 – 110 cm) dengan tinggi sekitar 50 cm dan berat mencapai 11 kg. Ukuran tersebut menjadikannya bunga individu terbesar di dunia.
Aroma
BungaĀ Rafflesia arnoldiiĀ mengeluarkan bau busuk menyerupai daging busuk. Aroma ini berfungsi untuk menarik lalat bangkai yang menjadi penyerbuk utamanya.
Sifat Parasit Obligat
Rafflesia arnoldii merupakan parasit obligat yang bergantung sepenuhnya pada tanaman inang dari genus Tetrastigma (tumbuhan pemanjat atau merambat) untuk mendapatkan nutrisi dan air. Tanpa inang, bunga ini tidak dapat bertahan hidup.
Reproduksi
Bunga ini bersifat dioseus, artinya bunga jantan dan betina terdapat pada individu yang berbeda. Penyerbukan terjadi melalui perantara lalat yang membawa serbuk sari dari bunga jantan ke bunga betina. Tingkat keberhasilan penyerbukan relatif rendah karena jarangnya sinkronisasi mekar antara bunga jantan dan betina.
Siklus Hidup
Perkembangan bunga membutuhkan waktu lama, sekitar 21 bulan sejak awal pertumbuhan hingga mekar. Namun, bunga hanya bertahan selama 5 – 7 hari sebelum layu. Pada bunga betina, setelah layu akan terbentuk buah yang pecah dan melepaskan biji. Biji kemudian hidup dalam jaringan inang hingga membentuk knop bunga baru.
Struktur Bunga
Bunga memiliki lima daun mahkota tebal berwarna merah oranye dengan bintik-bintik putih. Bagian tengah bunga berbentuk menyerupai gentong, dengan dasar berupa piringan berduri yang berisi benang sari pada bunga jantan atau putik pada bunga betina.
Karakteristik Taksonomi
Identifikasi jenis Rafflesia umumnya didasarkan pada morfologi bunga, termasuk ukuran diameter, bukaan diafragma, jumlah prosesus (tonjolan seperti duri), pola bintil putih, jumlah anther (sekitar 40 pada bunga jantanĀ Rafflesia arnoldii), serta struktur ramenta pada bagian diafragma.
Secara biologis, Rafflesia arnoldii memiliki keterbatasan dalam reproduksi dan penyebaran karena ketergantungannya yang tinggi pada inang dan kondisi lingkungan yang spesifik, menjadikannya salah satu tumbuhan paling rentan terhadap perubahan habitat.
Distribusi dan Habitat
Rafflesia arnoldii terutama ditemukan di hutan-hutan tropis Asia Tenggara, khususnya Pulau Sumatra, dan sebagian kecil wilayah Kalimantan. Spesies ini merupakan salah satu jenis Rafflesia dengan sebaran geografis yang paling luas, yaitu sepanjang sisi barat Pegunungan Bukit Barisan dari Aceh hingga Lampung.
Habitat alami Rafflesia arnoldii adalah hutan hujan tropis dataran rendah dengan suhu relatif hangat dan kelembaban tinggi. Tumbuhan ini tumbuh pada ketinggian sekitar 35 – 600 m di atas permukaan laut, baik di hutan primer maupun sekunder muda, kebun penduduk, maupun hutan pegunungan bagian bawah.
Ketergantungan Rafflesia arnoldii pada tumbuhan inang dari genus Tetrastigma membuat distribusinya bersifat sporadis dan tidak merata. Inang tersebut berupa tumbuhan pemanjat atau merambat yang banyak ditemukan di hutan tropis dengan pasokan air melimpah. Karena bunga ini bersifat dioseus, persebarannya semakin terbatas akibat jarangnya pertemuan antara bunga jantan dan betina yang mekar pada waktu bersamaan.
Sebaran yang paling banyak dijumpai berada di Provinsi Bengkulu, sehingga wilayah ini sering dianggap sebagai pusat distribusi utama Rafflesia arnoldii.
Konservasi
Rafflesia arnoldii telah ditetapkan sebagai Puspa Langka Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1993 tentang Satwa dan Bunga Nasional. Spesies ini juga tercantum dalam daftar tumbuhan dilindungi sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
Upaya konservasi di luar habitat aslinya (ex situ) telah dilakukan sejak abad ke-19, namun hasilnya sangat terbatas. Terobosan penting terjadi di Kebun Raya Bogor pada tahun 2022, ketika untuk pertama kalinya Rafflesia arnoldii berhasil mekar hasil dari upaya budidaya jangka panjang. Peristiwa ini menunjukkan bahwa meskipun penuh tantangan, konservasi ex situ dapat mendukung pelestarian spesies ini di masa mendatang.
Meskipun demikian, pelestarian Rafflesia arnoldii di habitat alaminya (in situ) tetap menjadi prioritas utama karena kompleksitas hubungan ekologisnya yang sulit ditiru di luar lingkungan hutan tropis.
Pelestarian Rafflesia arnoldii menghadapi tantangan besar karena ketergantungannya pada tumbuhan inang Tetrastigma dan kondisi ekosistem hutan tropis yang spesifik. Upaya yang dilakukan mencakup pendekatan in situ maupun ex situ.
Konservasi In Situ
Perlindungan habitat hutan hujan tropis dataran rendah di Sumatra, khususnya wilayah Bengkulu, menjadi langkah utama pelestarian.
Penetapan kawasan konservasi, seperti Taman Nasional Kerinci Seblat dan Cagar Alam Taba Penanjung, berperan penting dalam menjaga keberlangsungan spesies ini.
Keterlibatan masyarakat lokal dalam menjaga habitat dan mengelola ekowisata berbasis Rafflesia turut mendukung upaya konservasi.
Konservasi Ex Situ
Kebun Raya Bogor menjadi pelopor dalam penelitian dan budidaya Rafflesia arnoldii di luar habitat aslinya. Keberhasilan mekarnya bunga ini di Kebun Raya Bogor pada tahun 2022 merupakan capaian penting dalam upaya pelestarian.
Penelitian mengenai biologi reproduksi, interaksi dengan inang, serta teknik perbanyakan terus dilakukan untuk meningkatkan peluang keberhasilan konservasi ex situ.
Edukasi dan Pariwisata
Rafflesia arnoldii memiliki nilai ekologi, ilmiah, dan budaya yang tinggi. Oleh karena itu, pengembangan ekowisata berbasis konservasi tidak hanya memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar, tetapi juga meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya pelestarian.
Program pendidikan lingkungan dan kampanye pelestarian turut digencarkan agar masyarakat memahami peran penting Rafflesia arnoldii dalam ekosistem.
Upaya pelestarian yang terpadu antara pemerintah, lembaga penelitian, kebun raya, serta masyarakat lokal menjadi kunci dalam memastikan keberlangsungan Rafflesia arnoldii di masa depan.
Budaya dan Ilmiah
Rafflesia arnoldii memiliki nilai penting baik dari sisi budaya maupun ilmiah.
Budaya
Di Indonesia, Rafflesia arnoldii ditetapkan sebagai Puspa Langka Nasional bersama dengan melati (Jasminum sambac) sebagai Puspa Bangsa dan anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis) sebagai Puspa Pesona.
Penetapan tersebut mencerminkan statusnya sebagai simbol kekayaan hayati Indonesia yang unik dan bernilai tinggi.
Bunga ini juga menjadi ikon pariwisata di Bengkulu, daerah yang dianggap sebagai pusat penyebarannya, sehingga sering ditampilkan dalam lambang, promosi daerah, serta kegiatan budaya.
Ilmiah
Rafflesia arnoldii merupakan objek penelitian dalam bidang botani, khususnya terkait dengan parasitisme tumbuhan, adaptasi ekstrem, dan interaksi ekologis dengan inangnya (Tetrastigma).
Penelitian genetik menunjukkan bahwa Rafflesia kehilangan banyak gen yang umumnya dimiliki tumbuhan hijau, termasuk gen fotosintesis, sehingga menjadi model studi dalam memahami evolusi tumbuhan parasit.
Mekanisme penyerbukan yang unik melalui lalat bangkai menjadikannya contoh penting dalam studi ekologi penyerbukan.
Dari sisi konservasi, bunga ini berfungsi sebagai indikator kesehatan ekosistem hutan tropis, karena keberadaannya bergantung pada kelestarian habitat dan inang spesifik.
Dengan keunikan morfologi, keterbatasan biologis, serta nilai simbolisnya, Rafflesia arnoldii tidak hanya menjadi ikon keanekaragaman hayati Indonesia, tetapi juga sumber pengetahuan ilmiah dan kebanggaan budaya.
Sumber:
- “BUNGA BANGKAI Rafflesia arnoldii R. Br.” plantamor.com (Diakses pada 30 September 2025)
- “Rafflesia arnoldi Rafflesia arnoldi” www.kew.org (Diakses pada 30 September 2025)
- “Upaya Konservasi Rafflesia Arnoldii: Antara Keindahan dan Keberlangsungan” yiari.or.id (Diakses pada 30 September 2025)
- “Pertama Kali Terjadi, Rafflesia arnoldii R.Br Mekar di Luar Habitatnya” www.brin.go.id (Diakses pada 30 September 2025)
- “Rafflesia, Bunga Misterius yang Butuh Sentuhan Peneliti” mongabay.co.id (Diakses pada 30 September 2025)
- “Rafflesia arnoldii” www.picturethisai.com (Diakses pada 30 September 2025)
- “Mengenal Rafflesia Arnoldii Bunga Langka Indonesia, Sejarah dan Cirinya” www.faunadanflora.com (Diakses pada 30 September 2025)
- “Rafflesia Arnoldii, Si Raksasa Flora Endemik Sumatra” www.floweradvisor.co.id (Diakses pada 30 September 2025)
- “Bunga Rafflesia Arnoldi, Ikon Puspa Indonesia” biodiversitywarriors.kehati.or.id (Diakses pada 30 September 2025)
- “Rafflesia: Dikenal sebagai ‘bunga bangkai’ karena baunya yang menyinggung” www.oneearth.org (Diakses pada 30 September 2025)
- “Bunga Rafflesia Arnoldi” disparpora.agamkab.go.id (Diakses pada 30 September 2025)
- “Rafflesia arnoldii” www.bionity.com(Diakses pada 30 September 2025)



