Pare (Momordica charantia L.), merupakan tanaman semusim yang dikenal sebagai sayuran sekaligus obat tradisional di berbagai budaya Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Tanaman ini memiliki nilai agronomis karena mampu tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis serta mudah dibudidayakan oleh petani skala kecil hingga besar.
Secara etnobotani, pare telah lama dimanfaatkan dalam beragam sistem pengobatan tradisional, khususnya untuk pengelolaan gula darah, pencernaan, dan kesehatan umum.
Klasifikasi Ilmiah
Pare diklasifikasikan sebagai berikut:
- Kingdom: Plantae
- Subkingdom: Tracheobionta
- Superdivisi: Spermatophyta
- Divisi: Magnoliophyta
- Kelas: Magnoliopsida
- Ordo: Cucurbitales
- Famili: Cucurbitaceae
- Genus: Momordica
- Spesies: Momordica charantia L.
Penamaan ilmiah Momordica charantia pertama kali dipublikasikan oleh Carolus Linnaeus pada tahun 1753 melalui karyanya Species Plantarum. Nama genus Momordica berasal dari bahasa Latin momordere yang berarti “menggigit”, merujuk pada tepi daunnya yang tampak bergerigi seakan-akan digigit.
Pare memiliki berbagai sebutan lokal, antara lain pare atau paria di Indonesia, peria di Malaysia, ampalaya di Filipina, karela di India, serta bitter melon atau bitter gourd dalam bahasa Inggris.
Sebaran dan Habitat
Pare (Momordica charantia L.) diperkirakan berasal dari kawasan India Barat dan Burma (Myanmar), yang merupakan pusat keanekaragaman alami genus Momordica. Dari wilayah asalnya, tanaman ini menyebar luas ke berbagai daerah tropis Asia melalui jalur perdagangan dan perpindahan budaya sejak berabad-abad lalu.
Pada perkembangan selanjutnya, pare kenalkan ke Afrika Timur, Amerika Selatan, dan Karibia, sehingga kini menjadi tanaman pangan dan obat yang umum ditemukan di seluruh kawasan tropis dan subtropis.
Di Indonesia, pare diduga masuk melalui interaksi perdagangan Asia Selatan dan Asia Tenggara sejak masa pra-kolonial, kemudian berkembang menjadi tanaman kebun pekarangan maupun budidaya skala kecil.
Secara ekologis, pare tumbuh baik pada bioma tropis basah dengan kondisi cahaya penuh hingga sedikit ternaungi. Tanaman ini mampu beradaptasi pada ketinggian 0 – 1.500 mdpl, dengan suhu optimal 24 – 30°C, serta kebutuhan curah hujan tahunan sekitar 1.000 – 2.500 mm.
Pare menyukai tanah bertekstur ringan hingga sedang, seperti lempung berpasir atau lempung gembur, dengan pH tanah 5,5 – 6,7. Kemampuannya beradaptasi pada berbagai kondisi lingkungan menjadikan pare mudah dibudidayakan di banyak daerah tropis.
Morfologi
Pare (Momordica charantia L.) merupakan tanaman herba semusim yang tumbuh menjalar atau memanjat dengan memanfaatkan sulur.
Batang pare berwarna hijau hingga hijau tua, berbentuk silindris dan beralur, serta bersifat lunak namun kuat. Permukaan batang umumnya ditutupi rambut halus (trikoma) dan memiliki sulur tunggal pada setiap ruas yang berfungsi sebagai alat pemanjat. Pertumbuhan batang bersifat menjalar dengan panjang yang dapat mencapai 2 – 5 meter.
Daun pare bertipe tunggal, tersusun berseling, dan memiliki bentuk menjari dengan 3 – 7 lekukan dalam. Ukurannya bervariasi antara 4 – 12 cm, berwarna hijau cerah hingga hijau tua. Permukaan daun sedikit kasar akibat rambut halus, sedangkan tulang daun menonjol dan bercabang menyirip. Tangkai daun relatif panjang, berkisar 2 – 5 cm.
Bunga pare bersifat uniseksual (berumah satu), dengan bunga jantan dan betina muncul pada individu yang sama. Bunga berwarna kuning cerah, memiliki lima helai kelopak dan lima helai mahkota yang membuka lebar. Bunga jantan umumnya muncul lebih banyak, bertangkai panjang, dan mengandung tiga stamen. Bunga betina memiliki tangkai lebih pendek serta bagian bakal buah yang tampak jelas di pangkal bunga.
Buah pare berbentuk lonjong hingga memanjang, dengan ukuran 8 – 30 cm tergantung varietas. Permukaan buah khas dengan bintil-bintil tidak teratur. Warna buah muda hijau cerah hingga hijau tua, dan berubah menjadi kuning-oranye ketika masak. Rasa buah sangat pahit akibat kandungan momordisin. Saat matang penuh, kulit buah akan merekah dan memperlihatkan biji berbalut aril merah terang.
Biji berjumlah 10 – 20 butir per buah, berbentuk pipih-oval dengan pinggiran bergerigi, berwarna coklat muda hingga coklat tua. Teksturnya keras dan terlindungi oleh lapisan aril merah saat buah masak.
Sistem Perakaran pare memiliki sistem akar campuran yang terdiri atas akar tunggang yang relatif pendek dan sejumlah akar serabut yang menyebar di lapisan tanah bagian atas. Akar serabut yang meluas ini mendukung kemampuan pare beradaptasi pada tanah berstruktur ringan dan berdrainase baik.
Budidaya
Persiapan lahan
Budidaya pare umumnya dilakukan pada sistem bedengan dengan ukuran lebar 1 – 1,2 meter dan tinggi 20 – 30 cm untuk memastikan drainase baik. Jarak antarbedengan berkisar 40 – 50 cm. Pengolahan tanah meliputi pembalikan dan penggemburan, disertai pemberian pupuk dasar berupa kompos atau pupuk kandang sebanyak 10 – 20 ton per hektare.
Pada sistem pot atau polybag, digunakan wadah berukuran minimal 30 – 40 cm yang diisi media tanam campuran tanah, kompos, dan pasir dengan perbandingan 2:1:1. Penyemaian awal dilakukan dalam tray atau polybag kecil sebelum bibit dipindahkan.
Persiapan benih
Benih pare yang baik berasal dari buah matang fisiologis dengan warna kuning-oranye. Benih dipilih berdasarkan ukuran seragam, bebas hama, dan memiliki daya kecambah tinggi.
Penyemaian dilakukan pada media lembap dan gembur, benih dapat direndam 6 – 12 jam untuk mempercepat perkecambahan. Bibit siap pindah tanam setelah berumur 2 – 3 minggu atau memiliki 3 – 4 helai daun sejati.
Penanaman
Penanaman dapat dilakukan secara langsung di lahan atau melalui tahap persemaian. Lubang tanam dibuat sedalam 2 – 3 cm, dengan jarak tanam 50 – 70 cm dalam barisan dan 1,5 – 2 m antarbarisan, tergantung varietas dan sistem rambatan. Pada penanaman melalui persemaian, bibit dipindahkan bersama media untuk mengurangi stres transplantasi.
Pemeliharaan
Pemeliharaan meliputi penyiraman rutin, terutama pada fase awal pertumbuhan, untuk menjaga kelembapan tanah. Pemupukan susulan dilakukan menggunakan pupuk organik atau campuran nitrogen, fosfor, dan kalium pada umur 2, 4, dan 6 minggu setelah tanam. Pendangiran diperlukan untuk memperbaiki aerasi tanah dan mengendalikan gulma.
Turus dan para-para
Sebagai tanaman menjalar, pare membutuhkan turus atau para-para sebagai penopang. Ketinggian penopang berkisar 1,5 – 2 m, dengan model tegak lurus, segitiga, atau para-para horizontal. Bahan yang digunakan umumnya bambu, kayu, atau tali rambatan.
Struktur rambatan ini berfungsi mendukung pertumbuhan vertikal, meningkatkan sirkulasi udara, serta memudahkan panen.
Pengendalian hama dan penyakit
Organisme pengganggu yang sering dijumpai meliputi kutu daun, lalat buah, ulat daun, embun tepung, dan layu fusarium. Pengendalian dilakukan melalui pendekatan terpadu berupa sanitasi lahan, penangkapan hama secara mekanis, penggunaan musuh alami, dan pengaplikasian pestisida nabati. Penggunaan insektisida sintetis dibatasi pada kondisi serangan berat dan dilakukan secara selektif.
Kandungan Nutrisi
Buah pare (Momordica charantia L.) memiliki komposisi gizi yang khas sebagai pangan fungsional. Dalam setiap 100 gram bagian buah dapat dimakan, kandungan utamanya meliputi air 88 – 92%, yang menjadikan pare termasuk sayuran berkalori rendah.
Kandungan protein berkisar 1,0 – 1,6 g, lemak sekitar 0,1 – 0,3 g, dan karbohidrat total 3 – 5 g, dengan serat pangan antara 1 – 2 g. Mineral yang dominan meliputi kalsium, fosfor, kalium, magnesium, dan sejumlah kecil zat besi.
Pare juga mengandung vitamin, termasuk vitamin C, vitamin A (β-karoten), vitamin B kompleks, serta sejumlah kecil asam folat.
Selain nutrisi dasar, pare kaya akan senyawa fitokimia bioaktif yang menyebabkan pare memiliki rasa pahit dan manfaat kesehatannya. Senyawa tersebut mencakup quinine, cucurbitacins, triterpenoids seperti momordicin dan charantin, serta fitosterol dan flavonoid lain yang berfunsi sebagai antioksidan.
Kandungan β-karoten mendukung aktivitas provitamin A, sedangkan triterpenoid dan cucurbitacins diketahui memiliki potensi aktivitas biologis dalam penelitian modern. Kombinasi gizi dan fitokimia ini menjadikan pare salah satu tanaman hortikultura dengan nilai nutrisi dan terapeutik yang tinggi.
Khasiat dan Manfaat
Pare (Momordica charantia L.) dikenal sebagai tanaman pangan sekaligus obat tradisional dengan beragam manfaat kesehatan. Salah satu khasiat paling menonjol adalah kemampuannya membantu mengatur kadar gula darah. Senyawa bioaktif seperti charantin, polipeptida-P, dan triterpenoid telah diteliti memiliki aktivitas menyerupai insulin serta meningkatkan pemanfaatan glukosa oleh sel, sehingga pare banyak digunakan dalam pengendalian diabetes tipe 2.
Tanaman ini juga menunjukkan potensi dalam menurunkan kadar kolesterol, terutama melalui peningkatan metabolisme lipid dan penurunan akumulasi trigliserida. Kandungan antioksidan termasuk flavonoid, cucurbitacins, dan vitamin C berfungsi sebagai antikanker, dengan beberapa studi melaporkan penghambatan proliferasi sel tumor dan induksi apoptosis pada kultur sel.
Pare memiliki sifat antivirus, termasuk hasil penelitian awal yang menunjukkan aktivitas terhadap beberapa virus, seperti HIV, meskipun temuan tersebut masih bersifat eksperimental dan belum direkomendasikan sebagai terapi klinis. Selain itu, sifat antibakteri dan antiinflamasi pare berkontribusi terhadap kesehatan pernapasan, termasuk meredakan batuk dan iritasi tenggorokan.
Dalam sistem pencernaan, pare membantu meningkatkan nafsu makan, merangsang sekresi enzim, serta mendukung pergerakan usus. Kandungan β-karoten mendukung kesehatan mata, sementara mineral seperti kalsium dan magnesium berperan dalam kesehatan tulang. Pare juga memiliki efek positif pada kesehatan kulit, terutama dalam mengatasi jerawat, infeksi ringan, dan iritasi.
Kadar kalori yang rendah dan kandungan serat yang cukup menjadikan pare bermanfaat dalam pengaturan berat badan, membantu memberikan rasa kenyang serta memperbaiki metabolisme lipid. Selain itu, pare mengandung sejumlah kecil zat besi yang berkontribusi dalam pencegahan anemia, meskipun tidak dapat dijadikan satu-satunya sumber mineral tersebut.
Catatan Konsumsi
Konsumsi pare pada umumnya aman dalam porsi makanan sehari-hari, namun tetap memerlukan perhatian khusus terkait efek samping dan kelompok rentan. Konsumsi berlebihan dapat menimbulkan gangguan pencernaan, termasuk nyeri perut, mual, dan diare akibat kandungan triterpenoid pahit.
Pada sebagian individu, pare juga dapat memicu sakit kepala atau rasa tidak nyaman. Karena sifat hipoglikemiknya, konsumsi berlebihan dapat menyebabkan penurunan kadar gula darah yang terlalu cepat (hipoglikemia), terutama pada penderita diabetes yang sedang menggunakan obat penurun glukosa.
Bagian biji merah pada buah yang sudah masak memiliki potensi toksisitas, terutama pada anak-anak, dan dapat menyebabkan muntah atau diare jika tertelan. Oleh karena itu, biji merah sebaiknya tidak dikonsumsi.
Bentuk konsumsi pare baik mentah, jus, maupun dimasak mempengaruhi intensitas rasa pahit dan potensinya terhadap sistem pencernaan. Pare yang dimasak cenderung lebih aman dan mudah dicerna dibandingkan bentuk mentah atau jus konsentrat.
Sebagai bahan herbal, batas aman konsumsi umumnya berada pada 50 – 100 gram buah segar per hari, atau sekitar 30 – 50 ml jus pare, tergantung toleransi individu. Kelompok tertentu memerlukan kehati-hatian khusus, termasuk ibu hamil, karena beberapa komponen pare berpotensi merangsang kontraksi.
Anak-anak, penderita hipoglikemia, pasien dengan gangguan hati, serta individu yang sedang mengonsumsi obat antidiabetes juga harus berhati-hati. Dalam kondisi tertentu, konsultasi dengan tenaga medis diperlukan untuk mencegah interaksi obat dan efek samping yang tidak diinginkan.
Secara keseluruhan, konsumsi pare tetap bermanfaat apabila dilakukan secara moderat dan disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing individu.
Sumber:
- “PARE Momordica charantia L.“ plantamor.com (Diakses pada 21 November 2025)
- “Pare” www.socfindoconservation.co.id (Diakses pada 21 November 2025)
- “Tak Sepahit Rasanya, Ini 5 Manfaat Pare yang Begitu Manis bagi Tubuh” www.alodokter.com (Diakses pada 21 November 2025)
- “11 Manfaat Pare untuk Kesehatan yang Sayang Anda Lewatkan” hellosehat.com (Diakses pada 21 November 2025)
- “10 Manfaat Pare, Kandungan Gizi, dan Risiko Efek Samping” ciputrahospital.com (Diakses pada 21 November 2025)
- “Pare (Momordica Charantia)” tangerangkab.go.id (Diakses pada 21 November 2025)
- “Si Pahit yang Punya Banyak Khasiat, Ini 6 Manfaat Pare bagi Kesehatan Tubuh” www.halodoc.com (Diakses pada 21 November 2025)
- “TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN PARIA (Momordica charantia L.)” banten.brmp.pertanian.go.id (Diakses pada 21 November 2025)



