Melati (Jasminum sambac)
merupakan salah satu spesies tumbuhan berbunga dari famili Oleaceae yang dikenal luas karena keindahan dan keharuman bunganya. Tumbuhan ini termasuk jenis perdu yang tumbuh menjalar dan telah lama dibudidayakan di berbagai wilayah tropis.
Secara historis, melati berasal dari wilayah India, kemudian menyebar ke kawasan Hindustan dan Indo-China, sebelum akhirnya mencapai Kepulauan Melayu. Tanaman ini diperkenalkan ke wilayah Malaysia dan Jawa sekitar abad ke-3 Masehi. Sejak itu, melati berkembang pesat di berbagai daerah di Indonesia dan menjadi bagian penting dari tradisi dan kehidupan masyarakat.
Dalam konteks nasional, bunga melati (Jasminum sambac) ditetapkan sebagai salah satu dari tiga bunga nasional Indonesia dengan sebutan Puspa Bangsa, yang melambangkan kemurnian dan kesucian. Dalam tradisi budaya Indonesia, melati kerap menjadi simbol kesederhanaan, keanggunan, dan keharuman budi pekerti. Bunga ini banyak digunakan dalam upacara adat dan pernikahan tradisional, terutama sebagai hiasan pada busana pengantin.
Selain nilai simboliknya, melati juga memiliki berbagai kegunaan praktis. Bunganya sering dimanfaatkan sebagai bunga tabur dalam upacara keagamaan, bahan baku industri parfum dan kosmetika, serta dalam bidang farmasi. Di beberapa daerah, seperti di Cina dan Jawa, bunga melati digunakan sebagai bahan campuran untuk membuat teh melati yang dikenal karena aroma khas dan rasanya yang lembut.
Klasifikasi Ilmiah
Melati (Jasminum sambac (L.) Aiton) termasuk dalam famili Oleaceae. Nama ilmiah ini pertama kali dipublikasikan oleh ahli botani asal Skotlandia, William Aiton, pada tahun 1789 dalam karya botani terkenalnya Hortus Kewensis.
Klasifikasi ilmiah Jasminum sambac adalah sebagai berikut:
- Kingdom: Plantae
- Subkingdom: Tracheobionta
- Superdivisi: Spermatophyta
- Divisi: Magnoliophyta
- Kelas: Magnoliopsida
- Subkelas: Asteridae
- Ordo: Scrophulariales
- Famili: Oleaceae
- Genus: Jasminum
- Spesies: Jasminum sambac (L.) Aiton
Di Indonesia, melati dikenal dengan berbagai sebutan lokal. Di daerah Gayo dan Batak Karo disebut Melur, di Bali dikenal sebagai Menuh, di Aceh disebut Meulu atau Riwat, di Banda disebut Menyuru, di Manado dikenal Manduru, di Bima dan Sumbawa disebut Mundu, sedangkan di Madura dikenal dengan nama Malete. Di Jawa, masyarakat umumnya menyebutnya Menur.
Sebaran dan Habitat
Melati (Jasminum sambac (L.) Aiton) berasal dari kawasan tropis kering Asia Selatan, dengan habitat alaminya tersebar mulai dari Bhutan hingga India. Dari wilayah asalnya tersebut, melati kemudian menyebar ke berbagai daerah di Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Proses penyebarannya berlangsung secara bertahap, dimulai dari kawasan Hindustan ke Indo-China, kemudian ke Kepulauan Melayu, dan akhirnya diperkenalkan ke Malaysia serta Pulau Jawa sekitar abad ke-3 Masehi.
Melati juga dikenal memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap berbagai kondisi lingkungan, sehingga dapat tumbuh di berbagai wilayah beriklim panas maupun lembap di seluruh Indonesia. Hal ini membuat melati mudha dibudidayakan baik sebagai tanaman hias maupun sebagai komoditas perkebunan.
Tanaman melati memiliki kemampuan adaptasi yang luas terhadap berbagai kondisi lingkungan tropis. Spesies ini dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 10 – 1.600 mdpl, memerlukan intensitas sinar matahari yang cukup, curah hujan ideal sekitar 112 – 119 mm per bulan, serta kondisi tanah dengan drainase yang baik agar pertumbuhan akar dan bunga berlangsung optimal.
Morfologi
Melati (Jasminum sambac (L.) Aiton) merupakan tanaman perdu berkayu yang memiliki morfologi yang khas.
Akar
Melati memiliki sistem akar tunggang yang kuat dan bercabang banyak, dengan kedalaman mencapai 40 – 80 cm di bawah permukaan tanah. Akar utamanya keras, tidak berserat, dan tampak berbuku-buku atau membesar pada beberapa bagian.
Selain berfungsi menopang tanaman, sistem akar ini juga mampu menumbuhkan tunas baru, yang membantu dalam proses regenerasi alami tanaman.
Batang
Batang melati termasuk jenis batang semak berkayu dengan tinggi tanaman berkisar antara 0,5 – 2 meter. Batang muda berwarna hijau, sedangkan batang yang sudah tua berwarna kecokelatan. Permukaannya berbulu halus, lentur, dan relatif mudah patah.
Batang berbentuk bulat hingga agak bersudut, dengan percabangan yang banyak dan menyebar ke berbagai arah, mendukung kebiasaan tumbuhnya yang menjalar atau memanjat.
Daun
Daun melati merupakan daun tunggal dengan tangkai pendek dan letak berhadapan pada batang. Bentuk daun oval hingga jorong, berujung runcing dan berpangkal membulat, dengan tepi rata atau sedikit bergelombang. Ukuran daun bervariasi, dengan panjang sekitar 2 – 10 cm dan lebar 1,5 – 6 cm.
Permukaan daun berwarna hijau mengilap hingga hijau keabu-abuan, serta memiliki tulang daun menyirip. Seluruh bagian tanaman, termasuk daun, mengandung senyawa aktif seperti indole, linalcohol, asetat benzilic, alkohol benzilic, dan jasmon, yang menimbulkan aroma khas serta potensi farmakologisnya.
Bunga
Bunga melati tumbuh secara tunggal di ujung tangkai, dengan diameter sekitar 3 – 3,5 cm. Sebelum mekar sempurna, bunga biasanya berwarna kemerahan, kemudian berubah menjadi putih saat mekar penuh.
Bunga memiliki mahkota berlapis tunggal atau ganda, bertekstur lembut, dan mengeluarkan aroma harum khas yang kuat, sehingga sering dimanfaatkan sebagai bahan parfum dan hiasan tradisional.
Buah
Buah melati termasuk jenis buah buni, berbentuk kecil dan berwarna hitam mengilap ketika matang. Buah ini biasanya dikelilingi oleh kelopak yang tetap menempel, dan meskipun tidak umum dimanfaatkan, buahnya difungsikan sebagai proses reproduksi generatif tanaman.
Budidaya
Melati (Jasminum sambac (L.) Aiton) tergolong sebagai tanaman yang mudah dibudidayakan karena memiliki daya adaptasi tinggi terhadap berbagai kondisi lingkungan tropis.
Perbanyakan
Melati dapat berkembang biak melalui dua mekanisme, yaitu reproduksi seksual (generatif) dan reproduksi aseksual (vegetatif). Kedua cara ini memungkinkan melati untuk mempertahankan populasi serta memperluas penyebaran di habitat budidaya maupun alami.
Reproduksi generatif terjadi melalui penyerbukan antara benang sari sebagai alat kelamin jantan dan putik sebagai alat kelamin betina. Proses ini menghasilkan biji yang dapat tumbuh menjadi individu baru setelah melalui tahap pembuahan. Namun, metode ini jarang digunakan dalam budidaya karena proses tumbuhnya memerlukan waktu lebih lama dan tidak selalu mempertahankan sifat unggul dari induknya.
Reproduksi vegetatif melati dengan cara penyetekan batang. Metode ini lebih umum digunakan oleh petani dan penghobi tanaman hias karena lebih efisien dan cepat. Batang yang distek akan menumbuhkan akar baru pada bagian yang ditanam di media tanam lembap, menghasilkan tanaman yang memiliki sifat identik dengan induknya serta mampu berbunga dalam waktu relatif singkat.
Perbanyakan melati umumnya dilakukan secara vegetatif, terutama melalui stek cabang keras atau dengan cara perundukan cabang basal. Metode ini dipilih karena mampu menghasilkan tanaman baru yang memiliki sifat identik dengan induknya, serta lebih cepat berbunga dibandingkan perbanyakan melalui biji.
Persiapan bibit (stek batang)
Bibit melati dapat diperoleh dengan stek batang dari tanaman induk yang sehat. Tahapan pembibitan meliputi:
- Pilih batang berdiameter sedang dan tidak terlalu tua.
- Potong batang sepanjang ±12 cm.
- Tancapkan potongan batang ke dalam media campuran pasir dan tanah dengan perbandingan 1:1.
- Tutup bibit dengan plastik transparan untuk menjaga kelembapan udara.
- Siram secara teratur 1 – 2 kali sehari agar media tetap lembap, tetapi tidak tergenang.
Setelah beberapa minggu, batang stek akan menumbuhkan tunas dan akar baru. Bibit yang telah tumbuh kuat dapat dipindahkan ke pot atau lahan dengan ukuran lebih besar.
Penanaman
Tunas yang telah tumbuh sekitar dua bulan setelah stek siap dipindahkan ke media tanam permanen. Langkah penanaman meliputi:
- Siapkan pot atau wadah yang lebih besar dan letakkan pecahan genteng atau batu bata di dasar pot sebagai lapisan drainase.
- Tambahkan campuran pasir dan pupuk organik dengan perbandingan 1:1.
- Isi pot hingga sepertiga bagian, tanam tunas melati, lalu tambahkan media hingga pot penuh.
- Tempatkan pot di lokasi yang mendapatkan sinar matahari langsung minimal empat jam per hari untuk menunjang pertumbuhan optimal.
Pemeliharaan
Pemeliharaan melati meliputi pengaturan suhu, penyiraman, pemangkasan, dan pemupukan.
- Suhu ideal untuk pertumbuhan melati berkisar antara 15 – 24°C.
- Penyiraman dilakukan 1 – 2 kali sehari pada pagi dan sore hari selama 30 hari pertama masa pertumbuhan, dengan memastikan media tetap lembap namun tidak becek.
- Pemangkasan perlu dilakukan secara berkala, terutama saat tanaman mencapai tinggi 75 – 90 cm, guna merangsang pertumbuhan cabang baru dan menjaga bentuk tanaman.
- Pemupukan dianjurkan menggunakan campuran N-Pâ‚‚Oâ‚…-Kâ‚‚O dengan dosis 240-240-240 gram per tanaman, untuk mempercepat pembungaan dan menjaga kesuburan tanaman.
Kandungan Nutrisi
Melati (Jasminum sambac (L.) Aiton) mengandung berbagai senyawa kimia aktif yang menimbulkan aroma khas, manfaat farmakologis, serta nilai ekonominya. Komponen utama yang ditemukan pada bunga, daun, dan batang melati meliputi alkaloid, flavonoid, terpenoid, fenol, tanin, saponin, dan pitosterol.
Selain itu, melati juga mengandung senyawa volatil yang memberikan aroma wangi khas, seperti indole, linalcohol (linalool), benzilic alcohol, dan jasmon. Kombinasi senyawa itu menimbulkan wangi khas melati dan dapat menjadi antioksidan, antiinflamasi, antimikroba, serta penenang alami.
Khasiat dan Manfaat
Melati (Jasminum sambac (L.) Aiton) memiliki khasiat dan manfaat yang luas, mencakup bidang ekonomi, kesehatan, industri kecantikan, pangan tradisional, hingga lingkungan.
Bidang ekonomi
Melati merupakan komoditas penting dalam industri parfum, teh, dan aromaterapi. Minyak atsiri melati bernilai tinggi di pasar internasional dan menjadi bahan dasar pembuatan parfum premium. Selain itu, aromanya dimanfaatkan dalam produk teh melati yang populer di Asia sebagai minuman relaksasi dan peningkat suasana hati.
Bidang kesehatan
Dalam pengobatan tradisional, melati digunakan untuk meringankan hepatitis, diare, stroke, gangguan kulit, stres, dan insomnia. Kandungan antioksidannya, seperti polifenol, theanine, dan kafein alami, membantu menjaga kesehatan jantung, kulit, dan otak, serta membantu dalam pencegahan diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular.
Bidang industri dan kecantikan
Minyak esensial melati banyak digunakan sebagai bahan parfum, sabun, lotion, dan produk kecantikan lainnya. Aromanya yang lembut dan menenangkan juga dimanfaatkan dalam aromaterapi dan dekorasi kamar pengantin tradisional.
Bidang pangan dan obat tradisional
Teh melati dikenal sebagai minuman kesehatan yang memberikan efek menenangkan dan menyegarkan tubuh. Selain itu, berbagai ramuan tradisional menggunakan bunga dan daun melati untuk mengatasi demam berdarah, radang ginjal, serta gangguan pencernaan.
Bidang lingkungan
Sebagai tanaman hias, melati banyak ditanam di taman, pekarangan, dan halaman rumah untuk memperindah lingkungan. Aromanya yang alami memberikan suasana segar dan menenangkan, sekaligus meningkatkan nilai estetika ruang hijau.
Catatan Penggunaan
Secara umum, Melati (Jasminum sambac (L.) Aiton) tergolong aman digunakan, baik sebagai bahan minuman, aromaterapi, maupun produk perawatan tubuh, asalkan digunakan dalam batas wajar dan sesuai anjuran.
Konsumsi teh melati disarankan sebanyak 1 – 3 cangkir per hari untuk memperoleh manfaat relaksasi dan antioksidan tanpa menimbulkan efek samping.
Penggunaan minyak esensial melati sebaiknya dilakukan dengan pengenceran menggunakan minyak pembawa (carrier oil), seperti minyak kelapa atau minyak zaitun, sebelum dioleskan ke kulit agar tidak menimbulkan iritasi.
Melati mengandung kafein alami, bila dikonsumsi berlebihan, dapat menyebabkan insomnia, jantung berdebar, atau gangguan lambung.
Pada beberapa individu dengan kulit sensitif, penggunaan minyak esensial tanpa pengenceran dapat menimbulkan reaksi alergi ringan seperti kemerahan atau gatal. Oleh karena itu, uji sensitivitas kulit dianjurkan sebelum pemakaian topikal.
Dengan pemakaian yang bijak dan sesuai takaran, melati dapat memberikan manfaat maksimal tanpa menimbulkan efek yang merugikan kesehatan.
Sumber:
- “MELATI Jasminum sambac (L.) Aiton” plantamor.com (Diakses pada 10 November 2025)
- “Melati” www.socfindoconservation.co.id (Diakses pada 10 November 2025)
- “Memetik Manfaat Bunga Melati untuk Kesehatan” www.alodokter.com (Diakses pada 10 November 2025)
- “Jasminum sambac” www.rhs.org.uk (Diakses pada 10 November 2025)
- “Jasminum sambac (Melati Putih)” library.sman7purworejo.sch.id (Diakses pada 10 November 2025)
- “Jasminum sambac (L.) Aiton” powo.science.kew.org (Diakses pada 10 November 2025)
- “Menanam bunga Melati Putih (Jasminum sambac)” biodiversitywarriors.kehati.or.id (Diakses pada 10 November 2025)



