Lengkuas (Alpinia galanga (L.) Willd.) merupakan tumbuhan anggota famili Zingiberaceae atau suku temu-temuan. Spesies ini termasuk tanaman herba berbatang semu yang memiliki akar rimpang aromatik. Dalam bahasa ilmiah, lengkuas dikenal sebagai Alpinia galanga, sedangkan dalam masyarakat Indonesia dikenal dengan berbagai nama lokal seperti langkuas, laos (bahasa Jawa), atau laja (bahasa Sunda).
Tanaman ini berasal dari bioma beriklim tropis basah dengan daerah sebaran alami yang meliputi kawasan Asia Tenggara. Lengkuas telah lama dimanfaatkan baik sebagai bumbu dapur maupun sebagai tanaman obat tradisional di berbagai negara Asia Tenggara.
Nama ilmiah Alpinia galanga pertama kali dipublikasikan oleh botanis Carl Ludwig von Willdenow pada tahun 1797. Tanaman ini kini telah tersebar luas dan dibudidayakan di berbagai negara tropis, termasuk Indonesia, karena nilai ekonominya yang tinggi di bidang kuliner, pengobatan, dan industri minyak atsiri.
Klasifikasi Ilmiah
Lengkuas (Alpinia galanga (L.) Willd.) diklasifikasikan ke dalam kelas Liliopsida atau tumbuhan monokotil. Berikut klasifikasi ilmiah kunyit secara lengkap:
- Kingdom: Plantae
- Subkingdom: Tracheobionta
- Superdivisi: Spermatophyta
- Divisi: Magnoliophyta
- Kelas: Liliopsida
- Subkelas: Commelinidae
- Ordo: Zingiberales
- Famili: Zingiberaceae
- Genus: Alpinia
- Spesies: Alpinia galanga (L.) Willd.
Tanaman ini termasuk ke dalam genus Alpinia yang memiliki banyak spesies lain yang serupa, seperti lengukuas kecil (Alpinia officinarum) dan Jahe cangkang (Alpinia zerumbet). Ciri utama genus ini adalah keberadaan rimpang aromatik, batang semu, dan bunga majemuk berbentuk tandan yang khas pada anggota famili Zingiberaceae.
Sebaran dan Habitat
Lengkuas (Alpinia galanga (L.) Willd.) diperkirakan berasal dari kawasan Asia Tenggara, khususnya daerah dengan iklim tropis basah seperti Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Dari wilayah asalnya, tanaman ini kemudian menyebar secara alami maupun melalui kegiatan perdagangan rempah ke berbagai negara di Asia, seperti India, Tiongkok bagian selatan, Sri Lanka, dan Myanmar, hingga akhirnya dikenal di kawasan Afrika Timur dan Kepulauan Pasifik.
Di Indonesia, lengkuas banyak ditemukan dan dibudidayakan di berbagai daerah, terutama di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Tanaman ini tumbuh subur di dataran rendah hingga ketinggian sekitar 1.200 mdpl, terutama pada tanah yang gembur, lembap, dan mendapat sinar matahari cukup.
Agroekologi
Lengkuas (Alpinia galanga (L.) Willd.) merupakan tumbuhan tropis yang dapat tumbuh baik pada berbagai kondisi lingkungan, namun akan menghasilkan rimpang yang optimal bila dibudidayakan pada lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan ekologisnya.
Lengkuas tumbuh baik pada ketinggian 0 – 1.200 mdpl. Meskipun dapat tumbuh di dataran tinggi, pertumbuhan terbaik umumnya terjadi di dataran rendah hingga menengah, terutama di daerah yang memiliki drainase tanah baik dan tidak tergenang air.
Kisaran suhu yang ideal untuk pertumbuhan lengkuas adalah antara 22 – 30°C. Suhu yang terlalu rendah dapat menghambat pertumbuhan tunas, sedangkan suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan daun cepat layu dan rimpang menjadi kecil.
Lengkuas memerlukan curah hujan tahunan antara 1.500 – 3.000 mm. Tanaman ini memerlukan kelembapan tinggi untuk pertumbuhan vegetatifnya, tetapi juga memerlukan periode kering menjelang panen untuk mencegah pembusukan rimpang.
Lengkuas tumbuh baik pada tanah gembur, subur, dan kaya bahan organik, terutama tanah bertekstur lempung berpasir atau lempung liat dengan pH antara 6,0 – 7,5. Tanaman ini membutuhkan pencahayaan penuh (intensitas cahaya sekitar 70 – 100%) agar proses fotosintesis dan pembentukan rimpang berlangsung optimal.
Di Indonesia, lengkuas banyak dibudidayakan di berbagai daerah, baik sebagai tanaman pekarangan maupun dalam skala perkebunan rakyat. Daerah penghasil utama lengkuas antara lain:
- Jawa Barat (Kabupaten Sukabumi, Garut, dan Cianjur)
- Jawa Tengah (Kabupaten Boyolali, Magelang, dan Wonogiri)
- Sumatra Barat dan Sumatra Utara
- Kalimantan Selatan
- Sulawesi Selatan
Kondisi agroklimat di daerah-daerah tersebut mendukung pertumbuhan lengkuas secara optimal, sehingga menghasilkan rimpang dengan ukuran besar, aroma kuat, dan kandungan minyak atsiri yang tinggi.
Morfologi
Lengkuas (Alpinia galanga (L.) Willd.) memiliki ciri khas yang membedakannya dari anggota suku temu-temuan lainnya, terutama pada bagian rimpangnya yang beraroma tajam dan bertekstur keras.
Rimpang
Rimpang lengkuas merupakan bagian utama yang digunakan untuk berbagai keperluan kuliner dan pengobatan tradisional. Rimpangnya berbentuk silindris, besar, berdaging tebal, dan bercabang-cabang.
- Warna luar rimpang bervariasi antara merah, cokelat kemerahan, hingga kuning kehijauan pucat, tergantung pada varietas dan umur panen.
- Bagian dalam berwarna putih atau kekuningan, keras, berserat kasar, dan mengeluarkan aroma khas menyengat serta rasa pedas tajam.
- Rimpang yang masih muda bertekstur lebih lunak dan mengandung sedikit serat, sedangkan rimpang tua memiliki serat lebih kasar dan keras.
- Ukuran rimpang berkisar antara 2 – 4 cm dalam diameter.
- Saat dikeringkan, rimpang menjadi agak kehijauan dengan aroma lebih kuat akibat peningkatan konsentrasi minyak atsiri.
Batang
Batang lengkuas terbentuk dari pelepah-pelepah daun yang saling membungkus rapat.
- Tipe batang, semu, tegak, tidak bercabang, dan tumbuh berumpun.
- Tinggi tanaman dapat mencapai 2 meter atau lebih.
- Batang muda muncul dari tunas yang tumbuh di pangkal batang tua.
- Warna batang hijau hingga hijau kemerahan dengan permukaan halus.
Batang semu ini berfungsi menopang daun serta melindungi tunas muda dari kekeringan.
Daun
Daun lengkuas bersifat tunggal, bertangkai pendek, dan tersusun berseling pada batang semu.
- Bentuk daun lanset memanjang dengan ujung runcing dan pangkal tumpul.
- Ukuran daun berkisar antara 25 – 50 cm panjang dan 7 – 15 cm lebar.
- Pelepah daun beralur memanjang dengan panjang 15 – 30 cm.
- Warna daun hijau tua pada permukaan atas dan hijau muda di bagian bawah.
- Tepi daun rata, dengan tulang daun menyirip yang tampak jelas.
Permukaan daun halus dan mengilap, menandakan kemampuan tanaman ini beradaptasi di lingkungan lembap dan bercahaya penuh.
Bunga
Bunga lengkuas tersusun dalam perbungaan majemuk berbentuk tandan tegak yang muncul di ujung tangkai.
- Panjang tandan bunga dapat mencapai 20 – 30 cm, dengan bunga bagian bawah lebih banyak daripada bagian atas, sehingga membentuk piramida memanjang.
- Kelopak bunga berbentuk lonceng atau corong, berwarna putih kehijauan.
- Mahkota bunga berbentuk jorong, berwarna putih pada bagian ujung dan hijau pada pangkalnya.
- Bibir bunga (labellum) berukuran sekitar 2,5 cm, berwarna putih dengan garis miring merah muda di sisi-sisinya, menjadi ciri khas identifikasi tanaman ini.
- Bunga bersifat hermafrodit, mengandung benangsari dan putik dalam satu struktur bunga.
Buah dan Biji
Buah lengkuas termasuk tipe buah buni, berbentuk bulat kecil dan keras.
- Warna buah muda hijau, kemudian berubah menjadi cokelat saat matang.
- Permukaan buah licin dan keras, melindungi biji di dalamnya.
- Biji berukuran kecil, berbentuk lonjong, dan berwarna hitam pekat.
- Biji ini memiliki daya tumbuh rendah, sehingga perbanyakan tanaman lebih sering dilakukan melalui potongan rimpang daripada biji.
Jenis Lengkuas
Secara umum, masyarakat mengenal dua jenis utama lengkuas berdasarkan warna rimpangnya, yaitu:
Lengkuas Putih (Alpinia galanga var. officinarum)
Jenis ini memiliki rimpang berwarna pucat hingga kekuningan dengan aroma yang lebih lembut. Lengkuas putih banyak digunakan sebagai bumbu masakan sehari-hari, terutama pada masakan tradisional seperti sayur lodeh, opor, dan tumisan.
Lengkuas Merah (Alpinia galanga var. rubra)
Jenis ini memiliki rimpang berwarna kemerahan dengan aroma lebih tajam dan rasa yang sedikit pedas. Lengkuas merah umumnya dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional, karena kandungan senyawa aktifnya yang lebih tinggi, seperti galangin dan minyak atsiri.
Perbedaan kedua varietas tersebut tidak hanya tampak pada warna dan aroma, tetapi juga pada kegunaan dan kandungan kimianya. Lengkuas putih lebih populer untuk keperluan kuliner, sedangkan lengkuas merah banyak digunakan dalam pengobatan herbal dan jamu tradisional di berbagai daerah di Indonesia.
Budidaya
Budidaya Lengkuas (Alpinia galanga (L.) Willd.) tergolong mudah karena tanaman ini mampu tumbuh baik di berbagai jenis tanah dan kondisi iklim tropis Indonesia. Namun, untuk memperoleh hasil rimpang yang optimal, diperlukan teknik budidaya yang tepat mulai dari perbanyakan hingga masa panen.
Perbanyakan
Lengkuas diperbanyak secara vegetatif, yaitu menggunakan potongan rimpang yang memiliki mata tunas aktif. Langkah-langkah perbanyakan sebagai berikut:
Pemilihan rimpang induk
- Gunakan rimpang yang berasal dari tanaman berumur 9 – 10 bulan agar mata tunasnya kuat dan siap tumbuh.
- Pilih rimpang yang sehat, tidak busuk, dan memiliki 2 – 3 mata tunas.
Pemotongan dan penyemaian
- Potong rimpang sepanjang 5 – 7 cm.
- Diamkan potongan rimpang selama 1 – 2 hari agar luka potong mengering.
- Semai potongan rimpang di tempat lembap selama 2 – 4 minggu hingga muncul tunas dan akar.
Persiapan lahan
- Gemburkan tanah sedalam 30 – 40 cm, lalu campurkan dengan pupuk kandang atau kompos.
- Buat bedengan selebar 1 meter dengan jarak antarbedengan sekitar 40 cm untuk drainase air.
Penanaman
Waktu tanam
Waktu terbaik untuk menanam lengkuas adalah pada awal musim hujan, agar kelembapan tanah cukup untuk pertumbuhan awal tunas.
Jarak tanam
Gunakan jarak tanam sekitar 60 × 60 cm atau 70 × 70 cm, tergantung pada kesuburan tanah.
Teknik tanam
Tanam potongan rimpang pada kedalaman 5 – 7 cm dengan posisi mata tunas menghadap ke atas.
Tutup dengan tanah gembur dan padatkan sedikit agar rimpang tidak mudah tercabut.
Perawatan Tanaman
Penyiraman
Lakukan penyiraman rutin 2 – 3 kali seminggu terutama pada musim kemarau untuk menjaga kelembapan tanah.
Penyiangan dan pembumbunan
Lakukan penyiangan gulma setiap 1 – 2 bulan sekali agar tidak menghambat pertumbuhan rimpang.
Pembumbunan dilakukan setelah tanaman berumur 2 – 3 bulan untuk menutup rimpang yang mulai muncul ke permukaan tanah.
Pemupukan
Pupuk dasar menggunakan pupuk kandang 10 – 15 ton per hektar.
Tambahkan pupuk anorganik (misalnya NPK 15:15:15) setiap 3 bulan sekali untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan pembentukan rimpang.
Pengendalian hama dan penyakit
Hama yang umum menyerang antara lain ulat daun dan penggerek rimpang, yang dapat dikendalikan dengan pestisida nabati atau rotasi tanaman.
Penyakit utama adalah busuk rimpang yang disebabkan oleh jamur Fusarium sp., yang dapat dicegah dengan drainase baik dan penggunaan bibit sehat.
Masa Panen
Tanaman lengkuas mulai dapat dipanen pada umur 2,5 – 4 bulan untuk rimpang muda yang seratnya masih halus, atau pada umur 10 – 12 bulan untuk rimpang tua yang beraroma kuat.
Panen dilakukan dengan cara menggali rumpun secara hati-hati menggunakan cangkul atau garpu tanah agar rimpang tidak terluka.
Setelah panen, rimpang dibersihkan dari tanah dan dikeringkan di tempat teduh sebelum disimpan atau diolah lebih lanjut.
Tips Menghasilkan Rimpang Berkualitas
- Gunakan bibit unggul dari tanaman yang sehat dan produktif.
- Tanam di tanah gembur dan kaya bahan organik agar rimpang dapat tumbuh besar.
- Hindari genangan air karena dapat menyebabkan pembusukan rimpang.
- Lakukan pemupukan secara teratur dan seimbang antara pupuk organik dan anorganik.
- Pastikan tanaman mendapatkan pencahayaan penuh untuk memaksimalkan pembentukan minyak atsiri yang memberi aroma khas pada rimpang.
Kandungan Nutrisi
Lengkuas (Alpinia galanga (L.) Willd.) kaya akan senyawa bioaktif dan nutrisi. Kandungan kimia dan gizinya tidak hanya digunakan sebagai bumbu dapur, tetapi juga sebagai bahan obat tradisional dan bahan baku industri farmasi serta kosmetik.
Kandungan Bahan Kimia Aktif
Rimpang lengkuas mengandung beragam senyawa kimia yang berkontribusi terhadap aroma khas, rasa pedas, serta berbagai khasiat farmakologisnya. Senyawa-senyawa aktif tersebut termasuk dalam golongan terpenoid, fenolik, flavonoid, dan minyak atsiri.
Berikut beberapa komponen utama yang telah diidentifikasi:
- Terpenoid, Senyawa volatil yang memberikan aroma khas dan memiliki aktivitas antimikroba serta antiinflamasi.
- Tanin, Berfungsi sebagai zat astringen dan memiliki efek antiradang serta antibakteri.
- Fenol dan Flavonoid, Termasuk senyawa galangin, kaempferol, dan kuersetin, yang dikenal memiliki efek antioksidan kuat dan berpotensi sebagai antikanker.
- Saponin, Berperan dalam meningkatkan sistem imun dan menurunkan kadar kolesterol.
- Minyak atsiri (essential oil), Mengandung berbagai komponen aromatik, antara lain: Carotol, Cineole (1,8-cineole), Fenchyl acetate, β-caryophyllene, Methyl cinnamate, Camphor.
Senyawa-senyawa tersebut memberikan aroma tajam khas pada rimpang lengkuas serta berperan penting dalam aktivitas biologisnya seperti antimikroba, antiradang, dan stimulan pencernaan.
Kandungan Nutrisi per 100 Gram
Selain kaya akan senyawa bioaktif, lengkuas juga mengandung berbagai nutrisi penting yang mendukung kesehatan tubuh. Komposisi gizi per 100 gram rimpang segar adalah sebagai berikut:
- Karbohidrat: 9,6 gram
- Serat: 1,0 gram
- Lemak: 0,4 gram
- Protein: 0,76 gram
Lengkuas juga mengandung berbagai vitamin dan mineral esensial, antara lain:
- Vitamin: Thiamin (B1), Riboflavin (B2), Niacin (B3), Vitamin B6, dan Vitamin C.
- Mineral: Zat besi, kalsium, magnesium, mangan, fosfor, kalium (potasium), natrium (sodium), dan seng (zink).
Kombinasi antara senyawa bioaktif dan nutrisi tersebut menjadikan lengkuas bermanfaat untuk menjaga sistem kekebalan tubuh, meningkatkan metabolisme, serta melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas.
Khasiat dan Manfaat
Lengkuas (Alpinia galanga (L.) Willd.) telah lama dimanfaatkan baik sebagai bumbu dapur maupun ramuan obat tradisional. Rimpangnya mengandung berbagai senyawa aktif seperti galangin, camphor, dan flavonoid yang memberikan efek farmakologis penting bagi kesehatan.
Sebagai Bumbu dan Rempah Masakan
Dalam dunia kuliner, lengkuas termasuk rempah yang banyak digunakan di kawasan Asia Tenggara, terutama di Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Beberapa fungsi lengkuas dalam masakan antara lain:
- Memberi aroma dan rasa khas pada hidangan berkuah seperti rendang, soto, opor, tom yam, dan kari.
- Mengurangi bau amis pada ikan, daging, atau unggas.
- Bersifat pengawet alami, karena kandungan minyak atsirinya dapat menghambat pertumbuhan mikroba pada makanan.
Rimpang lengkuas yang digunakan dalam masakan biasanya lengkuas merah karena aromanya lebih tajam dan rasanya sedikit pedas, sedangkan lengkuas putih lebih sering digunakan sebagai campuran jamu atau bahan ramuan herbal.
Sebagai Tanaman Obat dan Herbal Tradisional
Dalam pengobatan tradisional Asia, lengkuas dipercaya memiliki berbagai khasiat karena kandungan antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasinya. Beberapa manfaat umumnya antara lain:
- Meningkatkan sistem pencernaan: merangsang produksi enzim pencernaan dan mengurangi perut kembung.
- Sebagai antiinflamasi alami: membantu meredakan nyeri dan pembengkakan.
- Meningkatkan daya tahan tubuh: kandungan flavonoid dan minyak atsiri berperan melawan infeksi mikroba.
- Meningkatkan sirkulasi darah dan stamina tubuh.
- Mengurangi gejala pilek, batuk, dan asma melalui efek ekspektoran dan antioksidan.
Manfaat Air Rebusan Lengkuas untuk Kesehatan
Air rebusan rimpang lengkuas merupakan salah satu bentuk pemanfaatan tradisional yang populer. Konsumsi air rebusan ini dipercaya memberikan berbagai manfaat kesehatan berikut:
- Meningkatkan kekebalan tubuh, Kandungan antioksidan dan senyawa fenolik seperti galangin membantu menetralkan radikal bebas dan memperkuat sistem imun.
- Menjaga tekanan darah, Kalium dalam lengkuas membantu mengatur keseimbangan cairan dan menurunkan tekanan darah tinggi secara alami.
- Menurunkan kolesterol, Saponin dan flavonoid berperan dalam mengurangi kadar kolesterol jahat (LDL) serta meningkatkan kolesterol baik (HDL).
- Meredakan kram otot, Kandungan magnesium dan efek antiinflamasi dari camphor membantu merilekskan otot dan meredakan kejang.
- Mengatasi sembelit, Serat alami dalam lengkuas merangsang pergerakan usus sehingga membantu melancarkan pencernaan.
- Menjaga kesehatan tulang, Kandungan kalsium, fosfor, dan mangan mendukung pembentukan dan kekuatan tulang.
- Mengatasi anemia, Kandungan zat besi berfungsi dalam pembentukan sel darah merah sehingga mencegah anemia.
- Mencegah kanker, Senyawa galangin dan flavonoid memiliki aktivitas antiproliferatif yang membantu menghambat pertumbuhan sel kanker.
- Mengurangi peradangan kulit, Efek antiinflamasi dan antibakteri membantu meredakan jerawat, ruam, serta infeksi kulit ringan.
- Meningkatkan daya ingat, Kandungan antioksidan mendukung fungsi otak dan melindungi sel saraf dari kerusakan oksidatif.
- Mengatasi insomnia, Aroma menenangkan dari rebusan lengkuas dapat membantu relaksasi dan meningkatkan kualitas tidur.
- Meredakan nyeri sendi, Efek analgesik dan antiinflamasi pada minyak atsiri rimpang lengkuas bermanfaat bagi penderita rematik atau nyeri sendi.
- Meningkatkan kesuburan pria, Kandungan antioksidan dan mineral tertentu mendukung kesehatan sperma dan meningkatkan vitalitas.
- Menurunkan kadar gula darah, Senyawa aktif seperti galangin dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin.
- Menghambat virus dan bakteri, Komponen minyak atsiri seperti cineole dan camphor memiliki aktivitas antibakteri dan antivirus alami.
Catatan Konsumsi
Meskipun Lengkuas (Alpinia galanga (L.) Willd.) memiliki banyak manfaat kesehatan dan digunakan luas dalam kuliner maupun pengobatan tradisional, penggunaannya tetap memerlukan perhatian terhadap dosis, cara konsumsi, serta kondisi individu.
Anjuran Konsumsi Harian
Lengkuas aman dikonsumsi dalam jumlah moderate sebagai bumbu masakan sehari-hari. Untuk konsumsi dalam bentuk rebusan atau jamu tradisional, dianjurkan:
- Dosis umum: sekitar 5 – 10 gram rimpang segar atau 2 – 4 gram rimpang kering per hari.
- Dapat direbus dalam 200 – 300 ml air selama 10 – 15 menit, kemudian disaring dan diminum.
- Jika digunakan bersama bahan herbal lain, perhatikan proporsinya agar tidak berlebihan.
Konsumsi secara berlebihan atau jangka panjang tanpa jeda dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan atau reaksi sensitif pada lambung.
Efek Samping Bila Berlebihan
Meskipun tergolong aman, penggunaan lengkuas dalam dosis tinggi dapat menimbulkan beberapa efek samping berikut:
- Iritasi lambung akibat kandungan minyak atsiri yang bersifat tajam.
- Rasa panas di tenggorokan atau mulut bila dikonsumsi dalam bentuk mentah.
- Reaksi alergi ringan, seperti gatal atau ruam, terutama pada individu dengan sensitivitas terhadap tanaman famili Zingiberaceae.
- Gangguan ginjal atau hati (jarang terjadi) jika dikonsumsi secara berlebihan dan terus-menerus dalam bentuk ekstrak pekat.
Yang Perlu Menghindari atau Membatasi Konsumsi
Beberapa orang perlu berhati-hati atau berkonsultasi terlebih dahulu sebelum mengonsumsi lengkuas dalam bentuk olahan herbal:
- Anak-anak di bawah 5 tahun, karena sistem pencernaan mereka masih sensitif terhadap minyak atsiri.
- Ibu hamil, terutama pada trimester pertama, karena beberapa senyawa aktif dapat menstimulasi kontraksi ringan pada rahim.
- Ibu menyusui, disarankan menghindari konsumsi berlebihan karena efek komponen aromatik dapat memengaruhi rasa ASI.
- Lansia dan penderita gangguan lambung kronis, sebaiknya membatasi konsumsi dalam bentuk rebusan pekat atau ekstrak.
Tips Penggunaan Luar (Uji Alergi Kulit)
Lengkuas sering dimanfaatkan secara topikal (luar) untuk pijat, kompres, atau perawatan kulit karena kandungan camphor dan minyak atsirinya memberikan efek hangat dan antiseptik. Namun, penggunaannya perlu dilakukan dengan hati-hati:
- Lakukan uji alergi terlebih dahulu dengan mengoleskan sedikit ekstrak atau parutan lengkuas pada bagian dalam lengan.
- Tunggu 24 jam untuk melihat apakah timbul reaksi seperti kemerahan, gatal, atau rasa terbakar.
- Jika muncul iritasi, segera bilas dengan air bersih dan hentikan penggunaan.
- Hindari penggunaan langsung pada kulit luka terbuka, muka, atau daerah sensitif.
- Bila digunakan sebagai minyak pijat, sebaiknya dicampur dengan minyak pembawa seperti minyak kelapa atau minyak zaitun untuk mengurangi efek panas.
Sumber:
- “LENGKUAS Alpinia galanga (L.) Willd.” plantamor.com (Diakses pada 18 Oktober 2025)
- “Lengkuas” www.socfindoconservation.co.id (Diakses pada 18 Oktober 2025)
- “Inilah 5 Manfaat Lengkuas bagi Kesehatan” www.alodokter.com (Diakses pada 18 Oktober 2025)
- “11 Manfaat Minum Air Rebusan Lengkuas untuk Kesehatan” www.halodoc.com (Diakses pada 18 Oktober 2025)
- “5 Manfaat Lengkuas untuk Kesehatan yang Perlu Kamu Ketahui!” www.biofarma.co.id (Diakses pada 18 Oktober 2025)
- “10 Manfaat Lengkuas untuk Kesehatan dan Kulit Wajah” www.klikdokter.com (Diakses pada 18 Oktober 2025)
- “Alpinia galanga” www.nparks.gov.sg (Diakses pada 18 Oktober 2025)
- “Lengkuas (Alpinia Galangal)” babakan.tangerangkab.go.id (Diakses pada 18 Oktober 2025)
- “Alpinia galanga (L.) Willd.” powo.science.kew.org (Diakses pada 18 Oktober 2025)
- “Lengkuas, Rimpang Aromatik Bermanfaat bagi Kuliner dan Medis” www.greeners.co (Diakses pada 18 Oktober 2025)



