Syarat Tumbuh
| Habitat | : Daratan |
| Suhu | : 25 - 30 °C |
| Ketinggian | : 50 - 600 mdpl |
| Curah Hujan | : 2.500 - 4.000 mm/tahun |
| Kelembapan Udara | : 60 - 80% |
| pH | : 5,5 - 6,5 |
| Intensitas Cahaya | : 1.000 - 4.000 lux |
Bagian yang Dimanfaatkan
- Rimpang
- Daun
Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan tanaman herbal dan rempah tradisional yang dikenal karena rimpangnya memiliki aroma khas serta rasa hangat dan pedas.
Kencur sudah lama digunakan oleh masyarakat Indonesia, umumnya digunakan sebagai obat tradisional dan jamu seperti beras kencur sebagai minuman penyegar dan tonikum. Kencur juga dimanfaatkan dalam olahan kuliner tradisional sebagai bumbu masakan, penambah citarasa dan aroma khas kencur.
Secara botani, kencur merupakan tumbuhan menahun yang mampu tumbuh dan berkembang dalam jangka waktu lama. Tanaman ini memiliki rimpang yang berfungsi sebagai organ penyimpanan cadangan makanan sekaligus sebagai alat perbanyakan vegetatif.
Kencur termasuk dalam kelompok tanaman obat tradisional yang berasal dari famili Zingiberaceae (suku jahe-jahean/temu-temuan) yang banyak dimanfaatkan sebagai rempah dan tanaman obat.
Nama kencur dikenal dengan berbagai sebutan di berbagai negara, seperti cekur di Malaysia dan pro hom di Thailand. Dalam literatur berbahasa Inggris, kencur sering disalahartikan sebagai lesser galangal/lengkuas (Alpinia officinarum) atau zedoary/temu putih (Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe), meskipun keduanya merupakan spesies yang berbeda dan tidak dapat saling menggantikan sebagai rempah.
Secara etimologis, nama kencur dipinjam dari bahasa Sanskerta kachora, yang merujuk pada temu putih (Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe), meskipun secara taksonomi kencur merupakan spesies yang berbeda.
Klasifikasi Ilmiah
Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan salah satu spesies tumbuhan berbunga yang termasuk dalam kelompok monokotil. Dalam sistem klasifikasi botani, kencur termasuk kedalam famili zingiberaceae yang dicirikan oleh keberadaan rimpang sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan serta penghasil senyawa aromatik.
Berikut susunan klasisfikasi ilmiah kencur:
| Kingdom | : Plantae |
| Subkingdom | : Tracheobionta |
| Superdivisi | : Spermatophyta |
| Divisi | : Magnoliophyta |
| Kelas | : Liliopsida |
| Subkelas | : Commelinidae |
| Ordo | : Zingiberales |
| Famili | : Zingiberaceae |
| Genus | : Kaempferia |
| Spesies | : Kaempferia galanga L. |
Penamaan ilmiah kencur sebagai Kaempferia galanga pertama kali di kemukanan oleh Carolus Lennaeus seorang botani asal Swedia, yang ia publikasikan pada tahun 1753 dalam karya nya Species Plantarum.
Sebaran dan Habitat
Kencur (Kaempferia galanga L.) secara geografis berasal dari kawasan Asia Selatan, khususnya wilayah India, yang dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman tumbuhan famili Zingiberaceae. Kencur kemudian menyebar ke berbagai kawasan beriklim tropis basah di Asia, seiring dengan kemampuan adaptasinya terhadap lingkungan hangat dan lembap.
Penyebaran kencur tidak hanya terjadi secara alami, tetapi juga dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Karena dimanfaatkan sebagai tanaman obat dan rempah, kencur telah lama dibudidayakan dan diperkenalkan ke berbagai daerah. Melalui proses budidaya dan pertukaran tanaman, kencur menyebar luas ke Asia Tenggara, Tiongkok bagian selatan, wilayah Indo-China, kepulauan Nusantara, hingga Australia bagian utara.
Di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara, kencur dikenal dengan beragam nama lokal. Di Jawa dan Indonesia secara umum tanaman ini disebut kencur, sementara di Sunda dikenal sebagai cikur, di Aceh disebut ceuko, di Karo dikenal sebagai kaciwer, di Madura disebut kencor, di Bali dikenal sebagai cekuh, dan di Sasak disebut sekur atau sekuk.
Di kawasan Melayu Manado kencur dikenal sebagai sukung, sedangkan di Maluku dikenal dengan sebutan asauli, sauleh, soul, atau umpa. Di Sumba, kencur dikenal dengan nama cekir.
Secara ekologis, kencur tumbuh baik pada habitat alami berupa hutan tropis dataran rendah, tepi hutan, semak-semak, serta lahan terbuka yang agak terlindung. Di alam, kencur sering dijumpai tumbuh berkelompok di bawah naungan parsial pepohonan, dengan kondisi tanah yang gembur dan kaya bahan organik. Kencur juga banyak dibudidayakan di pekarangan rumah dan lahan pertanian, baik secara monokultur maupun polikultur, terutama di daerah pedesaan.
Kencur dapat tumbuh optimal pada ketinggian sekitar 50 – 600 mdpl, dengan suhu rata-rata tahunan berkisar antara 25 – 30°C. Tanaman ini memerlukan curah hujan yang relatif tinggi, yaitu sekitar 2.500 – 4.000 mm per tahun, dengan distribusi hujan yang cukup merata. Kondisi ini mendukung pertumbuhan vegetatif dan pembentukan rimpang secara optimal.
Dari segi cahaya, kencur mampu tumbuh baik pada intensitas cahaya penuh, namun juga toleran terhadap naungan ringan hingga sedang, terutama pada fase awal pertumbuhan. Kelembapan udara yang tinggi dan stabil mendukung pertumbuhan kencur di lingkungan tropis basah.
Tanah yang sesuai untuk pertumbuhan kencur adalah tanah yang memiliki drainase baik, bertekstur lempung hingga lempung liat berpasir, serta kaya akan bahan organik. Jenis tanah yang umum mendukung pertumbuhan kencur antara lain latosol, regosol, asosiasi latosol-andosol, regosol-latosol, dan regosol-litosol. Tingkat keasaman tanah yang ideal antara pH 5,5 – 6,5, meskipun kencur masih dapat tumbuh pada kondisi tanah yang sedikit lebih asam.
Kemampuan adaptasi kencur terhadap lingkungan tropis basah didukung oleh karakter morfologi dan fisiologinya. Rimpang yang tebal dan berdaging berfungsi sebagai organ penyimpanan cadangan makanan, sehingga tanaman mampu bertahan pada kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, seperti periode kering sementara.
Daun yang melebar dan menyebar mendatar membantu memaksimalkan penyerapan cahaya di bawah naungan, sedangkan sistem perakaran serabut memudahkan penyerapan air dan unsur hara dari lapisan tanah atas yang lembap.
Morfologi
Kencur (Kaempferia galanga L.) memiliki habitus khas berupa tanaman berukuran rendah dan tumbuh berkelompok. Tanaman ini tidak membentuk batang semu yang tinggi sebagaimana jahe atau lengkuas, melainkan memiliki batang sejati yang sangat pendek dan sebagian besar berada di dalam tanah. Pola pertumbuhannya berumpun, berasal dari rimpang yang bercabang-cabang, sehingga dalam satu rumpun dapat muncul beberapa tunas sekaligus.
Batang
Batang kencur bersifat basal dengan panjang relatif pendek, umumnya berkisar antara 3 – 10 cm, dan tidak tampak jelas di atas permukaan tanah.
Akar
Sistem perakaran kencur berupa akar serabut yang berwarna cokelat kekuningan. Akar-akar tersebut tumbuh dari rimpang dan berfungsi menyerap air serta unsur hara dari lapisan tanah atas yang lembap. Pada sistem perakaran sering dijumpai umbi-umbi kecil berbentuk bulat yang berwarna putih kekuningan.
Daun
Daun kencur merupakan daun tunggal yang jumlahnya relatif sedikit, umumnya hanya 2 – 3 helai per tanaman, dengan susunan saling berhadapan. Daun berbentuk membulat, bulat lonjong, hingga jorong, dengan ujung daun runcing dan pangkal daun melengkung.
Panjang daun berkisar antara 7 – 15 cm dan lebar 2 – 8 cm. Permukaan atas daun berwarna hijau, licin, dan tidak berbulu, sedangkan permukaan bawahnya berwarna hijau lebih pucat hingga kehijauan kemerahan serta ditutupi bulu-bulu halus.
Tepi daun umumnya rata dan pada beberapa varietas tampak berwarna cokelat kemerahan. Daun kencur menyebar mendatar dan hampir sejajar dengan permukaan tanah, sehingga tampak seperti menempel di atas tanah.
Bunga
Bunga kencur muncul langsung dari pangkal tanaman dan tersusun dalam bentuk bongkol atau bulir setengah duduk, sehingga tampak keluar dari permukaan tanah di antara daun-daun.
Bunga berbentuk terompet dengan panjang sekitar 3 – 5 cm. Dalam satu bongkol terdapat 4 – 12 kuntum bunga. Warna bunga didominasi putih, dengan bagian bibir bunga (labellum) berwarna ungu kemerahan hingga ungu muda.
Benang sari berwarna kuning dengan panjang sekitar 4 mm, sedangkan putik berwarna putih dengan corak keunguan.
Rimpang
Rimpang kencur berbentuk pendek menyerupai jari tumpul dan bercabang banyak. Warna kulit rimpang cokelat hingga cokelat kekuningan dengan permukaan mengilap. Daging rimpang berwarna putih hingga putih kekuningan, bertekstur berdaging dan tidak berserat.
Rimpang kencur mengeluarkan aroma khas yang kuat dan harum, yang berasal dari kandungan minyak atsiri di dalamnya. Beberapa cabang rimpang dapat muncul hingga mendekati atau sedikit di atas permukaan tanah.
Perbedaan morfologi
Secara keseluruhan, kencur memiliki ciri morfologi yang membedakannya dari anggota famili Zingiberaceae lainnya.
Ciri pembeda utama tersebut meliputi habitus yang rendah tanpa batang semu tinggi, jumlah daun yang sedikit, daun yang menyebar mendatar dekat permukaan tanah, serta rimpang yang relatif kecil, pendek, dan sangat aromatik.
Perbedaan ini membedakan kencur secara jelas dari tanaman jahe, kunyit, maupun lengkuas yang umumnya memiliki batang semu lebih tinggi dan rimpang berukuran lebih besar.
Kandungan dan Nutrisi
Rimpang kencur (Kaempferia galanga L.) mengandung berbagai komponen nutrisi dan senyawa kimia aktif yang membantu fungsi fisiologi tanaman maupun pemanfaatannya oleh manusia.
Kandungan nutrisi dasar rimpang kencur didominasi oleh pati dengan kadar sekitar 4,14%, yang berfungsi sebagai cadangan energi bagi tanaman dan turut memberikan sifat mengenyangkan ketika dikonsumsi dalam bentuk ramuan tradisional.
Selain pati, rimpang kencur juga mengandung mineral sekitar 13,73%. Mineral utama yang terkandung di dalamnya meliputi kalium, kalsium, dan magnesium. Unsur-unsur mineral ini membantu menjaga keseimbangan elektrolit, mendukung fungsi saraf dan otot, serta berkontribusi terhadap kestabilan tekanan darah.
Kandungan lainnya adalah minyak atsiri, meskipun kadarnya relatif kecil, yaitu sekitar 0,02% dari bobot rimpang. Minyak atsiri ini terdiri atas berbagai senyawa volatil yang memberikan aroma khas kencur yang tajam dan hangat. Senyawa volatil utama yang teridentifikasi antara lain sineol (eukaliptol), borneol, kamfena, dan karvona.
Rimpang kencur juga mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berperan dalam aktivitas farmakologisnya. Senyawa utama yang banyak dilaporkan adalah etil-p-metoksisinamat dengan kisaran kadar 1,28 – 3%, serta metilsinamat, asam sinamat, asam anisat, p-metoksistirena, dan pentadekana. Selain itu, rimpang kencur juga mengandung gom, alkaloid, senyawa fenolik, dan paraeumarin.
Secara umum, komposisi kimia rimpang kencur tersusun atas pati, mineral, minyak atsiri, gom, alkaloid, serta berbagai senyawa aromatik dan fenolik. Beberapa laporan menyebutkan bahwa kandungan utama minyak atsiri kencur meliputi etil-p-metoksisinamat (31,77%), metilsinamat (23,23%), karvona (11,13%), eukaliptol (9,59%), dan pentadekana (6,41%).
Budidaya
Kencur (Kaempferia galanga L.) dapat tumbuh optimal pada kondisi agroklimat tertentu yang mendukung pertumbuhan vegetatif dan pembentukan rimpang. Tanaman ini sesuai dibudidayakan pada wilayah dengan iklim tipe A, B, dan C menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson.
Persiapan dan pengolahan lahan dilakukan dengan menggemburkan tanah melalui pencangkulan atau penggarpuan hingga kedalaman sekitar 30 cm. Lahan harus dibersihkan dari sisa-sisa tanaman, ranting, dan bahan organik yang sulit terurai.
Kondisi drainase yang baik sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya genangan air, karena genangan dapat memicu berkembangnya penyakit, terutama penyakit busuk rimpang dan layu bakteri.
Tanah yang sesuai untuk budidaya kencur bertekstur lempung hingga lempung liat berpasir, dengan kemiringan lahan kurang dari 3%. pH tanah ideal berkisar antara 5,5 – 6,5. Apabila tingkat keasaman tanah berada pada pH 4,5 – 5,0, dapat dilakukan pengapuran menggunakan kapur pertanian atau dolomit sebanyak 1 – 2 ton per hektare untuk meningkatkan pH tanah.
Pembibitan kencur dilakukan secara vegetatif menggunakan rimpang sebagai bahan tanam. Rimpang yang dipilih sebagai benih sebaiknya sehat, memiliki 2 – 3 bakal mata tunas, dan bobot sekitar 5 – 10 gram.
Sebelum ditanam, rimpang benih ditunaskan terlebih dahulu dengan cara disemai di tempat yang teduh, ditutup jerami, dan disiram secara teratur hingga tunas muncul.
Penanaman dilakukan dengan menanam rimpang sedalam 5 – 7 cm, dengan posisi tunas menghadap ke atas. Jarak tanam pada sistem monokultur umumnya berkisar antara 15 × 15 cm atau 20 × 15 cm.
Pada sistem polatanam atau tumpangsari, jarak tanam dapat diperlebar menjadi sekitar 20 × 20 cm, dengan penyesuaian berdasarkan jenis tanah dan tanaman pendamping yang digunakan.
Pemupukan dilakukan untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan pembentukan rimpang. Pupuk kandang diberikan pada saat tanam dengan dosis sekitar 20 – 30 ton per hektare, tergantung pada kondisi lahan. Pupuk kandang diletakkan langsung ke dalam lubang tanam. Selain itu, pupuk anorganik dapat diberikan secara tugal atau dilarik dengan jarak sekitar 5 cm dari tanaman.
Kencur dapat dibudidayakan dengan sistem monokultur maupun polikultur. Pada sistem polikultur, kencur dapat ditanam secara tumpangsari atau disisipkan dengan tanaman lain, terutama pada fase awal pertumbuhan hingga umur sekitar 3 – 6 bulan. Pola tanam ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas lahan.
Pemeliharaan tanaman meliputi kegiatan penyiangan gulma, penyulaman tanaman yang mati atau tumbuh tidak normal, pembumbunan untuk menutup rimpang yang mulai muncul ke permukaan tanah, serta pengendalian organisme pengganggu tanaman.
Panen kencur untuk keperluan konsumsi umumnya dilakukan pada umur 6 – 10 bulan setelah tanam. Berbeda dengan beberapa tanaman rimpang lain, panen kencur dapat ditunda hingga musim berikutnya, bahkan sampai tiga tahun, tanpa menurunkan mutu rimpang, meskipun ukuran rimpang cenderung menjadi lebih kecil. Untuk keperluan pembibitan, rimpang kencur sebaiknya dipanen pada umur 10 – 12 bulan, karena rimpang dari tanaman yang terlalu tua kurang baik digunakan sebagai benih.
Varietas
Pengembangan varietas kencur (Kaempferia galanga L.) di Indonesia dilakukan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku obat tradisional, industri pangan, dan kosmetik, serta untuk meningkatkan produktivitas dan mutu hasil panen.
Varietas Galesia-1
Varietas Galesia-1 yang dikenal sebagai kencur Bangkok Cileungsi merupakan salah satu varietas unggul dengan ciri rimpang berukuran gemuk dan berbentuk membulat. Kulit rimpang berwarna cokelat terang, dengan daging rimpang berwarna kuning.
Secara morfologi, varietas ini memiliki daun berbentuk membulat dengan ujung runcing serta bunga berwarna putih dengan mahkota berwarna ungu.
Produktivitas Galesia-1 tergolong baik, dengan hasil panen berkisar antara 7,07 – 14,69 ton per hektare dan bobot rimpang sekitar 35,36 – 73,44 gram per rumpun. Varietas ini mampu beradaptasi dengan baik pada lahan dataran rendah hingga menengah di wilayah beriklim tropis basah.
Varietas Galesia-2
Varietas Galesia-2 dikenal memiliki aroma rimpang yang lebih menyengat dan rasa yang lebih pedas dibandingkan Galesia-1.
Rimpangnya cenderung berbentuk lonjong, dengan kulit berwarna cokelat gelap dan daging rimpang berwarna putih yang memiliki garis ungu di bagian tengah. Daunnya berbentuk jorong dengan ujung meruncing, permukaan atas daun berwarna hijau terang, sedangkan permukaan bawah berwarna hijau kemerahan.
Produktivitas varietas ini berkisar antara 4,67 – 16,18 ton per hektare, dengan bobot rimpang sekitar 23,31 – 80,92 gram per rumpun. Kandungan minyak atsiri yang relatif tinggi menjadikan varietas Galesia-2 banyak dimanfaatkan dalam industri jamu dan obat tradisional.
Varietas Kencur Papan Kentala
Varietas Kencur Papan Kentala berasal dari Tanah Laut, Kalimantan Selatan, dan dikenal memiliki kemampuan adaptasi yang baik pada dataran rendah. Tanaman ini dapat tumbuh pada ketinggian sekitar 27 – 40 mdpl.
Secara morfologi, varietas ini memiliki ukuran tanaman relatif kecil, dengan tinggi sekitar 7 – 12 cm dan jumlah daun 3 – 6 helai per tanaman. Daun berbentuk bulat lonjong, berwarna hijau pada permukaan atas dan hijau keputihan pada permukaan bawah, dengan tekstur permukaan daun bagian atas agak kasar.
Keunggulan utama varietas ini adalah kandungan minyak atsiri sekitar 3%. Rimpang muda berwarna kuning, sedangkan rimpang tua berwarna kuning kecokelatan dengan daging berwarna putih agak berserat.
Varietas Kencur Gading
Varietas Kencur Gading merupakan varietas unggul yang berasal dari Nogosari, Boyolali, Jawa Tengah. Varietas ini memiliki produktivitas sekitar 13 ton per hektare dan mampu tumbuh baik pada dataran rendah hingga menengah dengan ketinggian 100 – 600 mdpl.
Secara morfologi, Kencur Gading memiliki daun berbentuk oval dengan pangkal membulat, bunga berwarna putih keunguan dengan kelopak berjumlah tiga helai, serta rimpang berdaging putih dengan aroma wangi yang tajam.
Kandungan minyak atsiri pada varietas ini relatif tinggi, yaitu sekitar 4%, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku industri obat, aromaterapi, dan kosmetik.
Khasiat dan Manfaat
Kencur (Kaempferia galanga L.) sejak lama dimanfaatkan sebagai jamu dan pengobatan tradisional di Indonesia serta kawasan Asia Tenggara. Rimpangnya digunakan sebagai bahan utama maupun campuran dalam ramuan tradisional untuk menjaga kebugaran tubuh dan membantu mengatasi keluhan kesehatan ringan.
Khasiat kencur berkaitan dengan kandungan senyawa aktif yang terdapat di dalam rimpangnya, terutama minyak atsiri dan senyawa fenolik. Komponen volatil seperti etil p-metoksisinamat dan etil sinamat berperan dalam memberikan aroma khas serta mendukung aktivitas biologis rimpang.
Dalam sistem pencernaan, kencur digunakan untuk membantu meredakan gangguan seperti perut kembung, mual, dan rasa tidak nyaman pada lambung. Rimpang kencur juga dimanfaatkan untuk merangsang sekresi cairan pencernaan, sehingga mendukung proses pencernaan makanan secara lebih optimal.
Sebagai tonikum, kencur dikenal dalam ramuan tradisional untuk membantu memulihkan kondisi tubuh setelah sakit dan meningkatkan nafsu makan. Penggunaan ini umum ditemukan dalam jamu tradisional yang ditujukan bagi anak-anak maupun orang dewasa, dengan tujuan menunjang asupan nutrisi melalui peningkatan selera makan.
Kandungan senyawa bioaktif dalam kencur menunjukkan potensi sebagai antibakteri, antiradang, dan antioksidan. Senyawa antioksidan di dalam rimpang berperan dalam menangkal radikal bebas yang dapat memengaruhi keseimbangan fisiologis tubuh.
Dalam industri pangan, kencur dimanfaatkan sebagai bumbu dan penambah aroma pada berbagai olahan makanan dan minuman tradisional. Rimpang kencur digunakan dalam bentuk segar, kering, maupun bubuk untuk memberikan cita rasa khas serta aroma yang kuat.
Selain itu, kencur dimanfaatkan dalam industri kosmetik dan aromaterapi karena aroma khas minyak atsirinya. Ekstrak dan minyak kencur digunakan sebagai bahan dalam produk perawatan tubuh, parfum tradisional, serta sediaan aromaterapi yang memanfaatkan karakter aromatik alaminya.
Catatan Penggunaan
Konsumsi kencur (Kaempferia galanga L.) secara umum dilakukan dalam jumlah terbatas sebagai bagian dari ramuan jamu, bumbu masakan, atau minuman tradisional. Penggunaan rimpang kencur dianjurkan dalam takaran yang wajar dan disesuaikan dengan kebutuhan, mengingat sifatnya yang beraroma kuat dan mengandung senyawa aktif.
Konsumsi kencur dalam jumlah berlebihan berpotensi menimbulkan efek samping, terutama berkaitan dengan sistem pencernaan, seperti rasa panas pada lambung atau ketidaknyamanan pada perut. Kandungan minyak atsiri yang tinggi dapat menyebabkan iritasi ringan apabila dikonsumsi dalam dosis yang tidak sesuai.
Beberapa kelompok individu perlu berhati-hati dalam mengonsumsi kencur, terutama anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui. Selain itu, individu dengan kondisi medis tertentu, seperti gangguan lambung atau sensitivitas terhadap rempah-rempah, dianjurkan untuk membatasi konsumsi kencur atau menyesuaikannya dengan anjuran tenaga kesehatan.
Kencur juga tersedia dalam bentuk suplemen, baik sebagai ekstrak, kapsul, maupun serbuk. Konsumsi kencur dalam bentuk suplemen perlu memperhatikan dosis yang tercantum pada kemasan serta kualitas produk, karena kandungan senyawa aktif dalam sediaan olahan dapat berbeda dengan rimpang segar.
Secara umum, penggunaan kencur dianjurkan dilakukan secara bijak dan terkontrol, dengan memperhatikan frekuensi dan jumlah konsumsi. Prinsip ini bertujuan untuk memperoleh manfaat kencur secara optimal sekaligus meminimalkan potensi efek yang tidak diinginkan.
Sumber:
- “KENCUR Kaempferia galanga L.” plantamor.com (Diakses pada 4 Februari 2026)
- “Ini Manfaat Kencur untuk Kesehatan yang Wajib Diketahui” www.halodoc.com (Diakses pada 4 Februari 2026)
- “12 Manfaat Kencur bagi Kesehatan Tubuh” www.alodokter.com (Diakses pada 4 Februari 2026)
- “Bermanfaat untuk kesehatan, ini 4 varietas kencur yang jarang orang ketahui” kabarbisnis.com (Diakses pada 4 Februari 2026)
- “TANAMAN KENCUR (Kaempferia galanga L.)” apotekhidup.stikesalfatah.ac.id (Diakses pada 4 Februari 2026)
- Dusak, Ni Putu Ayu Putri Pryankha Paramita. “Pengaruh Penggunaan Pelarut Etano 70% dan 96% Terhadap Uji Aktivitas Antiinflamasi Secara In Vitro Pada Ekstrak Kencur (Kaemferia galanga L.)” Skripsi, Poltekes Kemenkes Denpasar, 2024. (Diakses pada 4 Februari 2026)
- Fitriani, Surfiana “Perbedaan MPN Coliform Pada Jamu Beras Kencur dan Kunci Sirih yang Dijual Di Kelurahan Gading Kenjeran Surabaya” Karya Tulis Ilmiah, Uiversitas Muhammadiyah Surabaya, 2014. (Diakses pada 4 Februari 2026)
- Marina, Silalahi “Kencur (Kaempferia galanga) dan Bioaktivitasnya” Jurnal Pendidikan Informatika dan Sains, vol. 08, no.1. 30 Juni 2019, DOI:10.31571/saintek.v8i1.1178 (Diakses pada 4 Februari 2026)
- Muzakki, Muhammad Naufal, Afida Rosyida, Intan Nur Fatikha, Adieba Warda Hayya. “Kajian Etnobotani, Etnomedisin, dan Etnoekonomi Kencur (Kaempferia Galanga) pada Masyarakat Desa Klambu Kabupaten Grobogan” SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat), Vol. 4 No. 3. Juli 2025, 10.55123/sehatmas.v4i3.5692 (Diakses pada 4 Februari 2026)
