Jengkol (Archidendron pauciflorum) adalah salah satu spesies dari famili Fabaceae (suku polong-polongan). Tumbuhan ini dikenal dengan nama ilmiah Archidendron pauciflorum (Benth.) I.C. Nielsen dan termasuk ke dalam kelompok tanaman berbiji dikotil. Jengkol berasal dari bioma beriklim tropis basah di kawasan Asia Tenggara, terutama di wilayah Filipina, Sulawesi, dan Kepulauan Nusa Tenggara.
Tanaman ini dikenal di berbagai negara di Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar, Laos, dan Filipina. Dalam masyarakat Indonesia, jengkol memiliki beragam nama daerah, seperti “jengkol” (Jawa), “kicaang” atau “jengkol” (Sunda), “jaring” atau “jariang” (Sumatera), “lubi” (Sulawesi Utara), dan “blandingan” (Bali).
Sebagai salah satu tanaman khas Nusantara, jengkol termasuk dalam daftar spesies pohon asli yang menjadi target konservasi ex-situ di Taman Keanekaragaman Hayati (Taman Kehati) Indonesia.
Klasifikasi Ilmiah
Secara taksonomi, jengkol termasuk dalam Kingdom Plantae dan tergolong dalam kelompok tumbuhan Spermatophyta. Berdasarkan sistem klasifikasi botani, kedudukan ilmiah jengkol adalah sebagai berikut:
- Kingdom: Plantae
- Subkingdom: Tracheobionta
- Superdivisi: Spermatophyta
- Divisi: Magnoliophyta
- Kelas: Magnoliopsida
- Subkelas: Rosidae
- Ordo: Fabales
- Famili: Fabaceae
- Genus: Archidendron
- Spesies: Archidendron pauciflorum (Benth.) I.C. Nielsen
Sebaran dan Habitat
Jengkol (Archidendron pauciflorum) merupakan tumbuhan asli kawasan Asia Tenggara yang memiliki persebaran alami luas. Spesies ini ditemukan di berbagai negara, seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar, Laos, dan Filipina. Di Indonesia, jengkol tumbuh secara alami maupun dibudidayakan di sejumlah daerah seperti Sumatera, Bangka, Jawa, dan Kalimantan.
Jengkol mampu tumbuh dengan baik pada berbagai tipe tanah, mulai dari tanah liat hingga tanah berpasir, asalkan memiliki drainase yang baik. Jengkol dapat tumbuh di daerah dataran rendah hingga ketinggian sekitar 1.000 mdpl. Pohonnya berdiameter mencapai sekitar 40 cm dan cabang utama muncul pada ketinggian kurang lebih 3 m dari permukaan tanah.
Musim berbunga tanaman jengkol umumnya terjadi setiap tahun, terutama pada bulan Juli hingga Agustus. Proses perbanyakan tanaman berlangsung secara generatif, yaitu melalui biji, serta secara vegetatif melalui metode cangkok, okulasi, dan sambung. Adaptasi yang baik terhadap kondisi lingkungan tropis membuat jengkol mampu tumbuh subur di berbagai wilayah dengan curah hujan tinggi dan suhu hangat.
Morfologi
Akar
Jengkol (Archidendron pauciflorum) memiliki sistem perakaran tunggang yang kuat. Akar utama berfungsi sebagai penopang agar pohon tetap tegak serta menyerap unsur hara dan air dari lapisan tanah yang dalam. Struktur akar ini mendukung pertumbuhan pohon yang berukuran besar dan memungkinkan tanaman beradaptasi pada berbagai jenis tanah.
Batang
Batang pohon jengkol tumbuh tegak, berbentuk bundar, berkayu, dan memiliki permukaan yang licin. Warna batangnya cokelat gelap hingga cokelat kotor dengan sistem percabangan simpodial, yaitu pola percabangan di mana batang utama berhenti tumbuh dan pertumbuhan selanjutnya dilanjutkan oleh cabang lateral. Tinggi pohon dapat mencapai 20 – 25 m dengan diameter batang sekitar 40 cm.
Daun
Daun jengkol termasuk daun majemuk yang tersusun berhadapan. Anak daun berbentuk lonjong dengan tepi rata, ujung runcing, dan pangkal membulat. Panjang daun berkisar antara 10 – 20 cm dan lebar 5 – 15 cm.
Pertulangan daun menyirip dengan permukaan berwarna hijau tua. Daun muda biasanya berwarna merah keunguan sebelum berubah menjadi hijau saat dewasa.
Bunga
Bunga jengkol merupakan bunga majemuk yang tersusun dalam bentuk tandan. Perbungaan biasanya muncul di ujung batang atau pada ketiak daun. Tangkai bunga berbentuk bulat dengan panjang sekitar 3 cm.
Bunga berwarna ungu dengan mahkota berbentuk lonjong berwarna putih kekuningan. Benang sari dan putik berwarna kuning, dengan putik berbentuk silindris.
Buah dan Biji
Buah jengkol berbentuk polong pipih yang melingkar atau membelit, berwarna cokelat kehitaman saat masak. Setiap polong berisi 5 – 7 biji yang berbentuk pipih dan berkeping dua. Biji inilah yang umum dikonsumsi oleh masyarakat, terutama di kawasan Asia Tenggara.
Budidaya
Pemilihan Lahan
Jengkol (Archidendron pauciflorum) tumbuh optimal di daerah beriklim tropis dengan suhu hangat dan curah hujan cukup tinggi. Lahan yang ideal berada di dataran rendah hingga ketinggian sekitar 800 mdpl.
Tanah sebaiknya gembur, lembap, memiliki drainase baik, serta mendapatkan sinar matahari penuh sepanjang hari. Tanah liat berpasir dengan kandungan bahan organik tinggi sangat mendukung pertumbuhan jengkol.
Waktu Tanam
Waktu tanam terbaik adalah pada awal musim hujan, yaitu saat ketersediaan air di tanah mulai meningkat namun belum terjadi genangan. Kondisi ini untuk membantu bibit beradaptasi, mempercepat pertumbuhan akar, dan mengurangi risiko kekeringan pada fase awal pertumbuhan.
Pembibitan
Perbanyakan jengkol dapat dilakukan melalui dua metode, yaitu generatif (biji) dan vegetatif (cangkok, okulasi, atau sambung pucuk)
Metode generatif dilakukan dengan memilih biji dari pohon induk yang sehat dan produktif. Biji disemai pada media tanah gembur yang dicampur pupuk kandang. Setelah berumur 2 – 3 bulan atau memiliki tinggi sekitar 30 – 50 cm, bibit dapat dipindahkan ke lahan tanam permanen.
Metode vegetatif bertujuan memperoleh tanaman dengan sifat unggul dan waktu berbuah lebih cepat. Proses okulasi dilakukan dengan menempelkan mata tunas dari pohon induk unggul ke batang bawah yang telah berumur 6 – 12 bulan. Setelah sambungan tumbuh dan menyatu, bibit siap dipindahkan ke lapangan.
Penanaman
Lubang tanam dibuat dengan ukuran 40 × 40 × 40 cm dan dibiarkan terbuka selama ±1 bulan untuk mengurangi kadar asam tanah. Setiap lubang diberi pupuk kandang atau kompos sekitar 5 kilogram, lalu diendapkan sebelum penanaman. Jarak antar tanaman idealnya 5 – 6 meter, agar pohon dapat tumbuh optimal tanpa saling menaungi.
Perawatan
Perawatan tanaman seperti penyiangan gulma, penyiraman rutin pada musim kemarau, serta pemupukan setiap enam bulan menggunakan pupuk organik atau NPK. Pemangkasan cabang dilakukan untuk menjaga bentuk tajuk dan memaksimalkan penetrasi cahaya matahari. Pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan secara alami dengan pestisida nabati atau menggunakan agen hayati.
Panen
Tanaman jengkol mulai berbuah pada umur 4 – 5 tahun apabila berasal dari biji. Namun, tanaman hasil okulasi atau sambung pucuk dapat berbuah lebih cepat, yaitu pada usia sekitar 3 tahun. Buah jengkol dipanen setelah kulit polong berubah warna menjadi cokelat tua kehitaman dan mulai mengering di pohon.
Kandungan Nutrisi
Biji jengkol (Archidendron pauciflorum) mengandung berbagai senyawa kimia yang berperan pada rasa, aroma, serta efek fisiologisnya. Kandungan utama yang paling khas adalah asam jengkolat, yaitu suatu asam amino alifatik yang mengandung unsur sulfur dan bersifat toksik bila dikonsumsi berlebihan. Senyawa ini yang menimbulkan bau khas jengkol serta potensi efek toksiknya pada ginjal.
Selain itu, jengkol juga mengandung glikosida, saponin, alkaloid, terpenoid, flavonoid, tannin, dan minyak atsiri, yang memberikan sifat biologis tertentu seperti aktivitas antibakteri dan antijamur.
Kandungan protein, karbohidrat, kalsium, fosfor, vitamin A, dan vitamin B1 menjadikannya sumber gizi yang cukup baik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekstrak jengkol berpotensi sebagai antibakteri, insektisida, dan larvasida karena keberadaan senyawa bioaktif tersebut.
Kandungan Gizi per 100 Gram
Berdasarkan data komposisi pangan, biji jengkol mentah memiliki kandungan gizi per 100 gram biji jengkol adalah:
- Air: 52,7 g
- Energi: 192 kkal
- Protein: 5,4 g
- Lemak: 0,3 g
- Karbohidrat: 40,7 g
- Serat: 1,5 g
- Kalsium: 4 mg
- Fosfor: 150 mg
- Besi: 0,7 mg
- Kalium: 241 mg
- Natrium: 60 mg
- Vitamin B1: 0,05 mg
- Vitamin B2: 0,20 mg
- Vitamin C: 31 mg
Selain zat-zat gizi makro dan mikro tersebut, jengkol juga mengandung senyawa fenolik dengan aktivitas antioksidan tinggi, yang membantu dalam menangkal radikal bebas dan mendukung kesehatan tubuh bila dikonsumsi dalam jumlah wajar.
Khasiat dan Manfaat
Kesehatan
Biji Jengkol (Archidendron pauciflorum) diketahui mengandung berbagai zat gizi dan senyawa bioaktif untuk menjaga kesehatan tubuh. Meskipun perlu dikonsumsi secara bijak karena adanya kandungan asam jengkolat yang bersifat toksik jika dikonsumsi dalam jumlah tinggi, jengkol memiliki sejumlah manfaat fisiologis yang telah dikenal dalam pengobatan tradisional maupun hasil kajian ilmiah.
Menjaga daya tahan tubuh, Kandungan vitamin C dalam jengkol berfungsi meningkatkan sistem imun tubuh, membantu melawan infeksi, serta mempercepat proses penyembuhan luka.
Melancarkan pencernaan, Kandungan serat yang cukup tinggi membantu memperlancar pergerakan usus, mencegah sembelit, dan mendukung kesehatan saluran pencernaan.
Mengendalikan tekanan darah, Unsur kalium (K) di dalam jengkol membantu mengatur keseimbangan cairan tubuh dan membantu menurunkan tekanan darah, sehingga bermanfaat bagi penderita hipertensi.
Mengontrol kadar gula darah, Serat dan kalium bekerja bersama dalam menjaga kestabilan kadar gula darah dengan memperlambat penyerapan glukosa di usus, sehingga baik untuk pencegahan diabetes melitus.
Mencegah kanker, Kandungan senyawa fenolik dan antioksidan alami pada jengkol membantu menetralisir radikal bebas, yang diketahui sebagai salah satu penyebab kerusakan sel dan pemicu kanker.
Mengatasi anemia, Kandungan zat besi (Fe) dalam jengkol mendukung pembentukan sel darah merah (hemoglobin), sehingga membantu mencegah dan mengatasi anemia akibat kekurangan zat besi.
Menangkal radikal bebas, Vitamin A, B1, dan C memiliki fungsi sebagai antioksidan yang melindungi sel-sel tubuh dari stres oksidatif dan memperlambat proses penuaan dini.
Memperkuat tulang dan gigi, Kalsium dan fosfor yang terkandung di dalam jengkol berfungsi untuk menjaga kekuatan tulang dan gigi serta mencegah pengeroposan tulang (osteoporosis).
Mencegah penyakit jantung, Kandungan mineral dan serat dalam jengkol membantu memperlancar sirkulasi darah, menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL), dan menjaga kesehatan jantung.
Mencegah diabetes, Selain serat, asam jengkolat juga diduga memiliki efek dalam menghambat peningkatan kadar gula darah, meskipun mekanisme pastinya masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Pemanfaatan kuliner
Jengkol merupakan bahan pangan yang banyak dimanfaatkan dalam berbagai masakan tradisional di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia. Biji jengkol yang telah tua biasanya diolah menjadi semur jengkol, jengkol balado, jengkol goreng, atau dijadikan lalapan mentah.
Proses pengolahan yang tepat penting untuk mengurangi kandungan asam jengkolat yang bersifat toksik dan menimbulkan bau menyengat. Perebusan jengkol dalam air mendidih hingga lunak, kemudian dibuang air rebusannya, merupakan cara paling efektif untuk menurunkan kadar asam tersebut. Penggorengan juga dapat dilakukan, namun sebaiknya tanpa menggunakan garam berlebih agar tidak meningkatkan risiko gangguan ginjal.
Selain dimanfaatkan sebagai bahan pangan, bagian lain dari tanaman ini juga memiliki potensi kegunaan. Ekstrak kulit jengkol diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti tanin dan flavonoid yang bersifat antibakteri alami, sehingga berpotensi digunakan dalam bidang kesehatan dan pengendalian mikroorganisme patogen.
Dengan pengolahan yang benar dan konsumsi dalam jumlah wajar, jengkol dapat menjadi sumber makanan bergizi sekaligus memiliki nilai fungsional sebagai bahan alami bernilai ekonomi dan farmakologis.
Catatan Konsumsi
Meskipun jengkol memiliki nilai gizi dan manfaat kesehatan, konsumsi berlebihan dapat menimbulkan efek samping serius akibat kandungan asam jengkolat, yaitu senyawa asam amino alifatik yang mengandung sulfur dan bersifat toksik.
Senyawa ini dapat mengendap dalam saluran kemih, membentuk kristal yang menyebabkan iritasi atau penyumbatan pada ginjal dan kandung kemih.
Kondisi keracunan akibat asam jengkolat dikenal sebagai kejengkolan atau jengkolisme. Gejalanya meliputi nyeri saat buang air kecil (disuria), urin berdarah (hematuria), mual, muntah, nyeri pinggang, tekanan darah tinggi (hipertensi), serta penurunan jumlah urin (oliguria). Dalam kasus berat, kejengkolan dapat menyebabkan gagal ginjal akut yang memerlukan penanganan medis segera.
Penanganan awal yang disarankan bagi penderita ringan adalah memperbanyak konsumsi air putih untuk membantu melarutkan dan mengeluarkan kristal asam jengkolat melalui urin. Sementara itu, pencegahan dapat dilakukan dengan cara merebus jengkol hingga lunak sebelum dikonsumsi. Proses perebusan membantu mengurangi kadar asam jengkolat serta menghilangkan sebagian bau menyengat yang khas.
Untuk menjaga keamanan, jengkol sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah wajar dan tidak terlalu sering, terutama bagi individu yang memiliki riwayat penyakit ginjal atau gangguan saluran kemih.
Sumber:
- “JENGKOL Archidendron pauciflorum (Benth.) I.C.Nielsen” plantamor.com (Diakses pada 31 Oktober 2025)
- “Jengkol, Tumbuhan Kaya Manfaat Asli Indonesia” mongabay.co.id (Diakses pada 31 Oktober 2025)
- “Cara Budidaya Tanaman Jengkol Agar Hasil Melimpah” agrotek.id (Diakses pada 31 Oktober 2025)
- “Archidendron pauciflorum” www.shadecoffee.org (Diakses pada 31 Oktober 2025)
- “Kenali Manfaat Jengkol dan Efek Sampingnya untuk Kesehatan” www.biofarma.co.id (Diakses pada 31 Oktober 2025)
- “5 Manfaat Jengkol bagi Kesehatan dan Efek Sampingnya” www.alodokter.com (Diakses pada 31 Oktober 2025)
- “Jarang Diketahui, Inilah 6 Manfaat Jengkol untuk Kesehatan” hellosehat.com (Diakses pada 31 Oktober 2025)
- “Meski Berbau Tak Sedap, Ini 5 Manfaat Jengkol bagi Kesehatan” www.halodoc.com (Diakses pada 31 Oktober 2025)
- “Archidendron pauciflorum” kebunrayaindrokilo.boyolali.go.id (Diakses pada 31 Oktober 2025)



