Lantana camara adalah tumbuhan perdu atau perdu kecil yang termasuk dalam famili Verbenaceae. Tumbuhan ini berasal dari bioma beriklim subtropis dengan sebaran alami mulai dari Meksiko hingga kawasan tropis Amerika. Nama ilmiah Lantana camara pertama kali dipublikasikan oleh botanis Carolus Linnaeus dalam Species Plantarum pada tahun 1753.
Di Indonesia, tanaman ini dikenal dengan berbagai nama lokal, di antaranya kembang telek, tembelekan (Jawa), dan saliara (Sunda). Selain itu, sebutan lain yang digunakan di berbagai daerah meliputi bunga pagar, tahi ayam (Melayu), tai hayam, cente (Sunda), waung, wileran (Jawa), serta kamanco dan tamanjho (Madura).
Lantana camara telah lama dimanfaatkan masyarakat, baik sebagai tanaman hias dan tanaman pagar, maupun sebagai tanaman obat dan insektisida alami.
Klasifikasi Ilmiah
Lantana camara termasuk dalam kelompok tumbuhan berbunga dengan susunan taksonomi sebagai berikut:
- Kerajaan: Plantae
- Divisi: Magnoliophyta
- Kelas: Magnoliopsida
- Ordo: Lamiales
- Famili: Verbenaceae
- Genus: Lantana
- Spesies: Lantana camara L.
Klasifikasi ini menempatkan Lantana camara dalam famili Verbenaceae, yang dikenal mencakup berbagai jenis perdu dan herba dengan bunga beraroma khas.
Sebaran dan Habitat
Lantana camara berasal dari kawasan tropis dan subtropis Amerika, terutama Meksiko, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan. Seiring perkembangan perdagangan tanaman hias, spesies ini kemudian diintroduksi ke berbagai wilayah tropis dan subtropis lain di dunia, termasuk Asia, Afrika, dan Oseania.
Tanaman ini mampu tumbuh dan beradaptasi dengan baik di beragam kondisi lingkungan. Lantana camara dapat ditemukan mulai dari daerah pesisir hingga ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Habitatnya mencakup lahan terbuka, padang rumput, hutan sekunder, semak belukar, tepi jalan, hingga lahan terganggu lainnya.
Penyebaran alami Lantana camara terbantu oleh burung dan hewan lain yang memakan buahnya. Biji yang dikeluarkan melalui kotoran hewan tetap dapat berkecambah dengan baik. Selain itu, tanaman ini juga berkembang melalui perbanyakan vegetatif pada batang yang menyentuh tanah dan membentuk akar baru.
Karena kemampuan adaptasinya yang tinggi, Lantana camara telah menyebar luas dan dalam banyak kasus menjadi spesies invasif di wilayah introduksinya.
Morfologi
Lantana camara merupakan perdu tegak atau semak yang dapat tumbuh hingga setinggi 2 meter, bahkan lebih pada kondisi lingkungan yang sesuai. Tanaman ini memiliki akar tunggang yang kuat dan sistem akar lateral yang menyebar luas.
Batangnya berkayu, bercabang banyak, berbentuk persegi pada bagian muda, dan sering kali dilengkapi dengan duri kecil atau rambut kasar. Daunnya sederhana, berhadapan, bertangkai pendek, berbentuk bulat telur hingga lonjong, dengan panjang 2–12 cm dan lebar 2–6 cm. Tepi daun bergerigi, permukaan daun berbulu kasar, dan jika diremas mengeluarkan aroma khas yang menyengat.
Bunga Lantana camara tersusun dalam bentuk bonggol (kapitulum) yang rapat dengan diameter 2–4 cm. Mahkota bunga berbentuk tabung dengan empat lobus, panjang 0,8–1,5 cm, dan menampilkan variasi warna mencolok seperti kuning, oranye, merah, merah muda, putih, ungu, atau kombinasi dari warna-warna tersebut. Ciri khas bunga ini adalah perubahan warna seiring waktu, misalnya dari kuning menjadi oranye atau merah setelah penyerbukan.
Buahnya berbentuk bulat kecil berdiameter sekitar 5–7 mm, berwarna hijau saat muda, kemudian menghitam atau ungu tua ketika masak. Buah tersebut mengandung satu hingga dua biji keras di dalamnya.
Karakter morfologi yang menonjol pada Lantana camara meliputi aroma khas pada daun, variasi warna bunga, serta kemampuan batang untuk berakar ketika bersentuhan dengan tanah.
Budidaya dan Status Invasif
Lantana camara dapat diperbanyak secara generatif melalui biji maupun secara vegetatif dengan stek batang. Biji yang disebarkan oleh burung atau hewan pemakan buah memiliki daya kecambah tinggi, sementara batang yang menyentuh tanah mudah membentuk akar baru sehingga memudahkan proses regenerasi.
Awalnya, tanaman ini dibudidayakan sebagai tanaman hias karena keindahan bunga berwarna-warni serta sebagai tanaman pagar. Namun, seiring waktu, Lantana camara menjadi salah satu spesies invasif paling berbahaya di dunia.
Menurut Daftar Spesies Invasif Global IUCN, Lantana camara termasuk dalam daftar 100 spesies invasif teratas. Pertumbuhan yang cepat dan kemampuan beradaptasi tinggi menyebabkan tanaman ini mendominasi habitat alami, menghambat regenerasi tumbuhan asli, dan menurunkan keanekaragaman hayati.
Selain itu, semak Lantana camara yang padat sering memicu peningkatan risiko kebakaran di daerah kering. Di bidang pertanian, tanaman ini menjadi gulma yang sulit dikendalikan karena bersaing dengan tanaman budidaya dalam hal air, cahaya, dan unsur hara.
Dengan demikian, meskipun memiliki nilai estetika dan kegunaan tertentu, Lantana camara juga menimbulkan dampak ekologis dan ekonomis yang besar di wilayah introduksinya.
Manajemen dan Pengendalian
Pengendalian Lantana camara dilakukan dengan berbagai metode, baik mekanis, kimiawi, maupun biologis, untuk membatasi penyebaran dan dampak negatifnya.
Pengendalian mekanis
Metode ini dilakukan dengan mencabut atau menebang tanaman hingga ke akarnya. Cara ini efektif pada populasi kecil, tetapi pada populasi yang lebih luas sering memerlukan tenaga besar dan biaya tinggi.
Pengendalian kimiawi
Herbisida sistemik digunakan untuk menghambat pertumbuhan dan membunuh tanaman. Namun, penggunaan bahan kimia memiliki risiko terhadap lingkungan dan organisme non-target sehingga harus diterapkan dengan hati-hati.
Pengendalian biologis
Beberapa serangga pemakan daun, batang, atau buah telah digunakan sebagai agen pengendali hayati untuk menekan populasi Lantana camara. Meski demikian, efektivitas metode ini bergantung pada kesesuaian lingkungan serta risiko terhadap ekosistem lokal.
Faktor pendukung invasi
Keberhasilan Lantana camara sebagai spesies invasif dipengaruhi oleh kombinasi faktor, antara lain kemampuan regenerasi tinggi, penyebaran biji melalui hewan, daya adaptasi terhadap kondisi lingkungan beragam, serta resistensi terhadap kekeringan dan gangguan.
Upaya pengendalian memerlukan pendekatan terpadu yang mengombinasikan beberapa metode agar lebih efektif dan berkelanjutan.
Kandungan Kimia
Lantana camara mengandung berbagai senyawa bioaktif yang tersebar pada bagian akar, daun, dan bunga.
Akar: diketahui memiliki kandungan senyawa alkaloid, triterpenoid, dan seskuiterpen lakton. Senyawa-senyawa ini berperan dalam aktivitas biologis tanaman serta memberi efek farmakologis tertentu.
Daun: mengandung minyak atsiri, flavonoid, iridoid glikosida, dan fenolik. Daun juga diketahui mengandung senyawa lantadene A dan B, yang bersifat toksik pada dosis tertentu.
Bunga: mengandung berbagai pigmen flavonoid dan antosianin yang berperan dalam menghasilkan variasi warna bunga. Selain itu, bagian bunga juga memiliki minyak atsiri dengan komposisi beragam sesuai kondisi lingkungan tumbuh.
Kombinasi senyawa tersebut menjadikan Lantana camara memiliki potensi sebagai sumber bahan obat tradisional maupun sebagai tanaman dengan sifat toksik terhadap organisme tertentu.
Toksisitas
Lantana camara diketahui bersifat toksik terhadap berbagai hewan ternak, termasuk sapi, kambing, domba, kuda, dan anjing. Senyawa utama penyebab toksisitas adalah kelompok pentasiklik triterpenoid yang dikenal sebagai lantadene. Senyawa ini dapat menyebabkan kerusakan hati, gangguan fungsi empedu, serta fotosensitivitas pada hewan penggembalaan.
Selain itu, Lantana camara mengeluarkan senyawa alelopati yang mampu menghambat pertumbuhan tanaman lain di sekitarnya, terutama dengan menekan perkecambahan biji dan pemanjangan akar.
Pada manusia, tingkat toksisitas masih diperdebatkan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa buah hijau yang belum matang bersifat beracun, dan dapat menimbulkan gejala berupa muntah, diare, kesulitan bernapas, hingga gagal hati. Daun segar dapat menyebabkan iritasi kulit atau dermatitis kontak. Sumber lain melaporkan bahwa konsumsi bunga, buah, maupun daun dalam jumlah tertentu dapat bersifat toksik, bahkan berpotensi fatal. Namun, terdapat pula laporan yang menyebutkan bahwa buah matang aman dikonsumsi.
Dengan demikian, Lantana camara termasuk tanaman dengan risiko toksisitas tinggi, khususnya bagi hewan ternak dan anak-anak, sehingga penggunaannya sebagai obat tradisional harus dilakukan secara hati-hati.
Status Konservasi
Menurut NatureServe status konservasi Lantana camara berstatus G5 Secure atau aman dan populasi Lantana camara masi banyak ditemukan.
Manfaat dan Pemanfaatan
Lantana camara memiliki berbagai pemanfaatan, baik dalam bidang kesehatan, hortikultura, maupun kegunaan praktis lain.
Manfaat Obat
Tanaman ini telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional. Ekstrak daun, bunga, dan bagian lain diketahui memiliki sifat antimikroba, antifungi, insektisida, dan antiinflamasi.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekstrak Lantana camara berpotensi menghambat pertumbuhan sel kanker, mengurangi perkembangan tukak lambung pada percobaan hewan, serta bermanfaat untuk mengatasi infeksi kulit, luka, dan peradangan.
Tanaman Hias
Sejak abad ke-19, Lantana camara telah dibudidayakan sebagai tanaman hias. Keunggulannya terletak pada ketahanan terhadap kekeringan, daya hias bunga yang berwarna-warni, serta kemampuannya menarik kupu-kupu dan burung. Tanaman ini sering dijadikan penghias taman, pagar hidup, maupun tanaman pot, serta populer di taman kupu-kupu.
Kegunaan Lain
Batang tanaman dapat dimanfaatkan untuk bahan kerajinan sederhana, termasuk pembuatan furnitur ringan seperti kursi dan meja. Di beberapa daerah, tanaman ini juga berfungsi sebagai insektisida alami untuk mengendalikan hama pertanian.
Tanaman Inang
Lantana camara berperan sebagai tanaman inang bagi berbagai jenis serangga. Kupu-kupu, termasuk Papilio homerus (kupu-kupu terbesar di belahan bumi barat), diketahui mengisap nektar bunga ini. Beberapa spesies laba-laba pelompat, seperti Evarcha culicivora, juga memanfaatkan tanaman ini sebagai tempat mencari makan dan lokasi pacaran.
Dengan manfaat yang luas, Lantana camara tetap digunakan secara tradisional maupun modern, meskipun di sisi lain status invasif dan toksisitasnya menjadi faktor yang membatasi pemanfaatannya.
Ramuan Tradisional
Dalam pengobatan tradisional, Lantana camara digunakan untuk berbagai keluhan kesehatan melalui pemanfaatan daun maupun buahnya.
Sakit Perut
Bahan: 9 butir buah Lantana camara segar.
Cara penggunaan: Buah dicuci bersih, kemudian dimakan mentah.
Dosis: 3 kali sehari.
Eksem
Bahan: 1 genggam daun Lantana camara segar.
Cara pembuatan: Daun dicuci bersih, lalu direbus dalam 3 gelas air selama 15 menit.
Cara penggunaan: Setelah air rebusan menjadi hangat, digunakan untuk mencuci bagian kulit yang terkena eksem.
Selain itu, daun segar juga dapat diolah menjadi simplisia. Caranya adalah dengan mencuci daun, memotong kecil-kecil, kemudian mengeringkannya dengan diangin-anginkan selama 7 hari hingga kering. Setelah itu, daun kering dihancurkan menjadi bubuk dan disimpan dalam wadah tertutup kedap udara pada suhu kamar. Simplisia ini dapat digunakan sebagai bahan dasar ramuan obat tradisional.
Sumber:
- “LANTANA Lantana camara L.” plantamor.com (Diakses pada 27 September 2025)
- “Lantana camara L.” powo.science.kew.org (Diakses pada 27 September 2025)
- “Tembelekan” www.socfindoconservation.co.id (Diakses pada 27 September 2025)
- “Lantana camara L.” www.nparks.gov.sg (Diakses pada 27 September 2025)
- “Lantana camara L.” www.worldfloraonline.org (Diakses pada 27 September 2025)
- “Lantana camara” plants.ces.ncsu.edu (Diakses pada 27 September 2025)
- “Lantana camara” tropical.theferns.info (Diakses pada 27 September 2025)
- “Lantana camara (Bigleaf Lantana)” www.gardenia.net (Diakses pada 27 September 2025)
- “Saliara, Tembelekan (Lantana camara)” biodiversitywarriors.kehati.or.id (Diakses pada 27 September 2025)
- “Lantana camaraHedgeflower” explorer.natureserve.org (Diakses pada 30 September 2025)



