Nangka

Nangka (Artocarpus heterophyllus Lam.)

Nangka (Artocarpus heterophyllus Lam.) merupakan salah satu spesies pohon buah tropis anggota famili Moraceae, yang juga mencakup tanaman seperti sukun (Artocarpus altilis) dan cempedak (Artocarpus integer). Tanaman ini dikenal karena buahnya yang berukuran besar dan berdaging manis.

Secara ilmiah, spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh Jean-Baptiste Lamarck pada tahun 1789, yang menamainya Artocarpus heterophyllus, dengan kata heterophyllus berarti “berdaun beragam”, mengacu pada variasi bentuk daun pada satu individu tanaman.

Dalam bahasa daerah di Indonesia, nangka dikenal dengan beragam sebutan, antara lain nongko (Jawa), langge (Sulawesi), dan lainnya. Sebutan-sebutan ini menunjukkan luasnya penyebaran dan keterikatan budaya masyarakat Nusantara terhadap nangka.

Secara biogeografis, nangka berasal dari daerah tropis basah di India bagian barat daya, khususnya wilayah Ghats Barat dan Benggala, kemudian menyebar ke Asia Tenggara melalui jalur perdagangan kuno dan budidaya tradisional. Saat ini, nangka tersebar di seluruh kawasan tropis, termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Klasifikasi Ilmiah

Secara taksonomi, nangka termasuk dalam Kingdom Plantae dan tergolong dalam kelompok tumbuhan Spermatophyta. Sistem klasifikasi ilmiah terung adalah sebagai berikut:

  • Kingdom: Plantae
  • Subkingdom: Tracheobionta
  • Superdivisi: Spermatophyta
  • Divisi: Magnoliophyta
  • Kelas: Magnoliopsida
  • Subkelas: Hamamelididae
  • Ordo: Urticales
  • Famili: Moraceae
  • Genus: Artocarpus
  • Spesies: Artocarpus heterophyllus Lam.

Sebaran dan Habitat

Nangka (Artocarpus heterophyllus Lam.) berasal dari India bagian barat daya, khususnya wilayah Ghats Barat, yang memiliki iklim tropis basah dan tanah subur. Dari daerah asalnya ini, nangka kemudian menyebar ke daerah tropis melalui jalur perdagangan dan perpindahan manusia sejak masa kuno.

Penyebaran budidaya nangka meluas ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina, serta ke Sri Lanka, Afrika Timur, Brasil, dan beberapa wilayah tropis di Amerika Tengah dan Selatan. Tanaman ini kini banyak di temukan di daerah beriklim panas lembap, baik di dataran rendah maupun dataran menengah.

Secara historis, nangka juga memiliki nilai penting dalam pengobatan tradisional India. Dalam sistem Ayurveda, berbagai bagian tanaman, terutama daunnya, digunakan sebagai bahan obat alami, antara lain untuk menurunkan kadar gula darah (antidiabetes), meredakan peradangan, dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Nangka merupakan spesies pohon buah tropis yang tumbuh baik di daerah beriklim panas dan lembap. Nangka dapat ditemukan dari dataran rendah hingga ketinggian sekitar 1.300 mdpl, namun pertumbuhan optimalnya terjadi pada kisaran 0 – 800 mdpl.

Suhu ideal bagi pertumbuhan nangka berkisar antara 16 – 31°C, dengan kebutuhan curah hujan tahunan antara 900 – 4.000 mm. Tanaman ini membutuhkan pola hujan yang merata sepanjang tahun, meskipun masih mampu bertahan dalam periode kering pendek.

Jenis tanah yang sesuai meliputi tanah aluvial, berpasir, atau lempung liat yang memiliki drainase baik serta tingkat pH tanah berkisar antara 6,0 – 7,5.

Nangka relatif tidak tahan terhadap suhu ekstrem. Pertumbuhan vegetatif akan terganggu pada suhu di bawah 5°C, dan tanaman dapat rusak bila terpapar embun beku. Selain itu, spesies ini juga sensitif terhadap kekeringan berkepanjangan, sehingga penyebarannya paling baik pada daerah tropis lembap dengan ketersediaan air yang cukup sepanjang tahun.

Morfologi

Nangka (Artocarpus heterophyllus Lam.) merupakan pohon berukuran besar dan berumur panjang dengan ciri-ciri morfologi khas pada setiap bagian tubuhnya, mulai dari akar hingga buah.

Akar

Nangka memiliki sistem perakaran tunggang yang kuat dan dalam, memungkinkan tanaman tumbuh kokoh serta tahan terhadap terpaan angin. Seluruh bagian akar dan jaringan batangnya mengandung getah putih susu (lateks) yang akan keluar apabila terluka.

Batang

Tinggi pohon nangka dapat mencapai 25 meter. Batangnya tumbuh lurus dan silindris, berkulit cokelat keabu-abuan, bertekstur kasar dan sedikit bersisik. Tajuknya lebat dan melebar, membentuk naungan yang rapat.

Daun

Daun nangka merupakan daun tunggal berbentuk bulat lonjong hingga elips, dengan panjang antara 4 – 25 cm. Permukaan daun hijau tua mengilap, tebal, dan agak kaku. Susunannya berseling pada cabang mendatar dan spiral pada cabang yang tumbuh menanjak. Daun muda biasanya berwarna lebih terang dan bertekstur lembut.

Bunga

Bunga nangka muncul langsung pada batang dan cabang tua, suatu ciri khas yang disebut kauliflori.

Bunga jantan berbentuk paku silindris menggantung dengan panjang sekitar 5 – 15 cm, tersusun rapat dan berwarna kehijauan.

Bunga betina berbentuk elips hingga bulat, berwarna hijau, dan permukaannya kasar. Bunga ini biasanya muncul soliter atau berpasangan pada batang besar.

Buah

Buah nangka tergolong buah majemuk (sinkarp), terbentuk dari gabungan banyak bunga betina yang menyatu. Bentuknya lonjong hingga silindris, dengan ukuran 20 – 100 cm dan berat 4,5 – 50 kilogram. Kulit buah tebal, berduri tumpul, berwarna hijau muda saat muda dan berubah kuning ketika matang.

Daging buah berwarna kuning keemasan, beraroma kuat, dan memiliki rasa manis khas. Sekitar 25 – 40% bagian buah dapat dikonsumsi. Di dalamnya terdapat banyak biji berbentuk lonjong (2 – 4 cm) dengan tiga lapisan kulit, yang juga dapat dimakan setelah direbus atau dipanggang.

Varietas 

Nangka (Artocarpus heterophyllus Lam.) memiliki keragaman varietas yang luas, terutama di wilayah asal dan pusat budidayanya seperti India, Malaysia, dan Sri Lanka. Variasi ini muncul akibat perbedaan morfologi, fenotipik, dan sifat organoleptik yang berkembang melalui seleksi alam maupun budidaya tradisional.

Secara umum, varietas nangka dapat dibedakan menjadi dua kelompok utama berdasarkan tekstur dan karakter daging buahnya:

Varietas keras (crisp type)

Varietas ini memiliki daging buah bertekstur renyah, kurang manis, namun dianggap berkualitas tinggi untuk konsumsi segar maupun industri pengolahan. Buahnya lebih tahan simpan, dan kadar air di dalam daging relatif rendah.

Varietas lunak (soft type)

Varietas ini memiliki daging buah lembut, sangat manis, dan berserat halus seperti spons. Umumnya dikonsumsi langsung setelah matang dan kurang cocok untuk penyimpanan jangka panjang.

Perbedaan utama dari kedua varietas ini terletak pada kandungan kimianya, terutama pati, gula total, dan gula pereduksi. Varietas lunak mengandung gula total dan gula pereduksi lebih tinggi, sedangkan varietas keras memiliki kadar pati lebih besar, yang menyebabkan teksturnya lebih padat dan renyah.

Budidaya

Nangka (Artocarpus heterophyllus Lam.) dapat diperbanyak secara generatif melalui biji maupun vegetatif dengan okulasi atau sambung pucuk. Perbanyakan dengan biji umumnya digunakan untuk produksi bibit dasar, sedangkan teknik okulasi lebih disukai untuk mempertahankan sifat unggul varietas tertentu.

Biji yang digunakan harus berasal dari buah matang sempurna, berukuran besar, dan bebas dari serangan hama atau penyakit. Setelah dikeluarkan dari buah, biji dikeringkan selama kurang lebih dua jam agar lapisan luar tidak terlalu lembap.

Biji kemudian direndam dalam air hangat selama sekitar dua hari untuk mempercepat proses perkecambahan. Setelah muncul kecambah, benih disemai dalam polybag berisi campuran tanah gembur dan pupuk organik.

Selama masa persemaian, bibit perlu mendapatkan penyiraman rutin, naungan ringan, dan pengendalian hama. Setelah mencapai tinggi 60 – 70 sentimeter dengan diameter batang sekitar 1,5 sentimeter, bibit siap dipindahkan ke lahan tanam permanen.

Metode budidaya yang baik akan menghasilkan tanaman yang tumbuh sehat, berbuah lebih cepat, dan memiliki kualitas buah yang tinggi.

Kandungan Nutrisi

Nangka (Artocarpus heterophyllus Lam.) mengandung berbagai senyawa bioaktif dan zat gizi yang memiliki banyak fungsi baik sebagai sumber energi maupun sebagai bahan pangan bernilai kesehatan.

Berbagai senyawa kimia telah teridentifikasi pada jaringan buah, daun, dan kulit batang nangka. Senyawa aktif tersebut meliputi saponin, flavonoid, polifenol, tanin, morusin, artonin E, artonol B, β-sitosterol, pektin, dan triterpen.

Selain itu, daging buah matang mengandung senyawa volatil yang berfungsi untuk membentuk aroma khas nangka. Komponen utama kelompok volatil ini adalah ester (sekitar 31,9%), terutama isopentil isovalerat, butil asetat, dan etil isovalerat, yang memberikan aroma manis buah tropis.

berikut kandungan nutrisi dalam 100 gram Nangka

  • Air: 83%
  • Energi: 301 kkal
  • Protein: 1,6 g
  • Lemak: 0,2 g
  • Karbohidrat: 25,4 g
  • Serat: 5,6 g
  • Kalsium (Ca): 37 mg
  • Zat Besi (Fe): 1,7 mg
  • Kalium (K): 292 mg
  • Fosfor (P): 26 mg
  • Natrium (Na): 48 mg
  • Vitamin C: 7,9 mg
  • Vitamin B₂ (Riboflavin): 0,062 mg
  • Niasin (Vitamin B₃): 0,4 mg
  • Vitamin A: 66 mg

Kombinasi antara karbohidrat, serat, dan berbagai vitamin serta mineral menjadikan buah nangka sebagai sumber energi alami yang sekaligus mendukung kesehatan sistem pencernaan, imunitas, dan metabolisme tubuh.

Khasiat dan Manfaat

Manfaat umum

Nangka (Artocarpus heterophyllus Lam.) memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan, baik sebagai bahan pangan, bahan industri, maupun bahan bangunan. Pemanfaatannya meliputi bagian buah, biji, dan kayu.

Buah nangka

Buah nangka merupakan bagian yang paling banyak dimanfaatkan. Buah muda digunakan sebagai sayuran dalam berbagai masakan tradisional, seperti gudeg dan lodeh, sedangkan buah matang dikonsumsi segar atau diolah menjadi keripik, manisan, dodol, selai, dan minuman fermentasi.

Biji nangka

Biji nangka yang bertekstur padat dan kaya nutrisi sering dimanfaatkan sebagai sumber protein nabati. Biji ini dapat direbus, dipanggang, atau diolah menjadi produk pangan seperti tempe biji nangka dan susu nabati sebagai alternatif pengganti susu kedelai.

Secara gizi, biji nangka mengandung protein, kalsium, fosfor, serta vitamin B dan C, menjadikannya bahan pangan potensial untuk diversifikasi sumber protein lokal.

Kayu nangka

Kayu nangka dikenal kuat, awet, dan tahan terhadap serangan serangga serta tikus, sehingga memiliki nilai ekonomi. Warna kayunya kuning kecokelatan hingga keemasan dan mudah dipoles, menjadikannya bahan pilihan untuk bangunan tradisional, furnitur, dan ukiran seni.

Sejak masa kolonial di Jawa, kayu nangka telah digunakan sebagai bahan konstruksi rumah dan pembuatan alat musik tradisional, karena daya tahannya yang tinggi dan serat kayunya yang indah.

Kesehatan

Nangka (Artocarpus heterophyllus Lam.) tidak hanya bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga memiliki berbagai khasiat farmakologis yang telah dikenal dalam pengobatan tradisional maupun diteliti secara ilmiah. Hampir seluruh bagian tanaman memiliki manfaat kesehatan berkat kandungan senyawa bioaktifnya.

Kandungan vitamin, mineral, serat, dan antioksidan dalam buah nangka memberikan berbagai manfaat bagi kesehatan tubuh, di antaranya:

  • Menurunkan tekanan darah dan mengurangi risiko penyakit jantung melalui kandungan kalium dan seratnya.
  • Mencegah anemia serta meningkatkan sirkulasi darah karena kandungan zat besi dan vitamin C yang membantu penyerapan mineral.
  • Menjaga fungsi tiroid serta memperkuat tulang berkat kalsium, fosfor, dan tembaga.
  • Menyehatkan pencernaan, kulit, dan mata, sekaligus membantu regenerasi sel.
  • Mengontrol kadar gula darah dan mendukung penurunan berat badan karena indeks glikemiknya rendah dan tinggi serat.
  • Meningkatkan daya tahan tubuh serta menunjang fungsi otak, melalui peran vitamin B kompleks dan antioksidan alami.
  • Memiliki potensi sebagai antikanker, antiinflamasi, dan antibakteri, berkat kehadiran flavonoid, tanin, dan saponin.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ekstrak akar, kulit batang, dan buah nangka memiliki aktivitas antibakteri terhadap beberapa jenis mikroorganisme patogen. Kandungan senyawa polifenol, flavonoid, dan artonin berfungsi sebagai antioksidan kuat, membantu melawan radikal bebas, menghambat proses penuaan sel, dan berpotensi dalam pencegahan penyakit degeneratif.

Selain itu, beberapa studi farmakologi menunjukkan adanya efek hipoglikemik, antiinflamasi, dan sitotoksik selektif yang memperkuat prospek pemanfaatan nangka sebagai bahan obat herbal.

Catatan Konsumsi

Meskipun buah nangka memiliki nilai gizi dan manfaat kesehatan yang tinggi, konsumsi berlebihan dapat menimbulkan efek samping tertentu, terutama bagi individu dengan kondisi kesehatan khusus.

Pengaruh terhadap penderita diabetes

Buah nangka mengandung karbohidrat sederhana dengan indeks glikemik yang relatif tinggi, sehingga dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah. Oleh karena itu, penderita diabetes mellitus disarankan membatasi konsumsi atau mengonsumsi dalam jumlah kecil dan dikombinasikan dengan sumber serat lain untuk menyeimbangkan kadar glukosa.

Risiko bagi penderita gangguan ginjal

Kandungan kalium (K) dalam buah nangka cukup tinggi. Pada individu dengan gangguan fungsi ginjal, konsumsi berlebihan dapat memicu hiperkalemia, yaitu penumpukan kalium dalam darah yang berpotensi mengganggu fungsi jantung.

Interaksi dengan obat

Beberapa laporan menunjukkan bahwa konsumsi nangka dapat berinteraksi dengan obat antidiabetes sehingga memengaruhi efektivitasnya. Selain itu, senyawa aktif dalam nangka diduga dapat meningkatkan sensitivitas terhadap obat bius pada pasien yang akan menjalani tindakan medis tertentu.

Anjuran konsumsi aman

Untuk memperoleh manfaat optimal tanpa menimbulkan efek samping, konsumsi buah nangka sebaiknya tidak melebihi 2 – 3 porsi per hari. Porsi ideal dapat disesuaikan dengan kebutuhan energi, kondisi kesehatan, dan pola makan harian individu.

Sumber:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *